Hukum & Kriminal

Tak cukup jauh: orang tua dan remaja menilai batasan baru Meta untuk pengguna muda

×

Tak cukup jauh: orang tua dan remaja menilai batasan baru Meta untuk pengguna muda

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 'Not far enough' - parents and teens on Meta's new limits for young users

jurnalistik.co.id – Meta mengumumkan serangkaian pembatasan baru untuk pengguna muda menyusul penyelesaian gugatan bernilai besar di Amerika Serikat. Kebijakan ini diharapkan mengurangi dampak buruk media sosial, tetapi sejumlah orang tua tetap menyatakan hasilnya belum tentu terasa dalam jangka panjang.

Pengumuman tersebut datang di tengah proses persidangan yang sangat dinantikan, ketika pemilik Meta Mark Zuckerberg disebut akan memberikan kesaksian. Penyelesaian tidak memuat pengakuan kesalahan, sehingga pihak keluarga kini menilai kebijakan yang muncul lebih sebagai langkah awal ketimbang solusi menyeluruh.

Di Houston, Texas, Elizabeth Cardner—ibu dari dua putri—menyambut aturan baru itu sebagai tanda bahwa lebih banyak orang mulai menyadari risiko media sosial. Namun ia juga menilai perubahan tersebut tidak cukup jauh untuk benar-benar mengatasi masalah yang menurutnya muncul sehari-hari.

“It will save a few arguments at home, but it doesn’t go far enough,” kata Cardner kepada BBC. Menurutnya, pembatasan mungkin membantu mengurangi perdebatan, tetapi tetap tidak menjamin perubahan berarti bagi kehidupan anak ketika tantangan lain terus berkembang.

Isi kesepakatan dan aturan baru Meta

Meta menyampaikan batasan baru untuk platformnya yang mencakup Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Perusahaan menetapkan batas waktu harian dua jam untuk remaja, menyembunyikan jumlah “likes” yang diterima sebuah unggahan, serta menghapus pemutaran otomatis pada video.

Perubahan lain yang diumumkan adalah fitur pemberian notifikasi push yang dimute selama jam sekolah. Meta juga menyatakan akan melarang filter riasan yang ekstrem, sekaligus memperbarui proses verifikasi usia serta kontrol orang tua.

Dalam kesepakatan tersebut, Meta juga setuju menunjuk auditor independen untuk memeriksa apakah langkah-langkah itu benar-benar diterapkan dan dipertahankan. Kesepakatan senilai $18 miliar (setara ÂŁ13,25 miliar) mencakup 48 negara bagian, Distrik Columbia, serta tiga wilayah di AS.

Gugatan awal diajukan pada 2023 oleh 29 negara bagian. Mereka menuduh Meta sengaja merancang platform agar membuat ketagihan dan menutup-nutupi risiko, serta menilai perusahaan melanggar hukum federal terkait pengumpulan informasi pribadi anak.

Reaksi orang tua: harapan, skeptis, dan jalan alternatif

Cardner menilai aturan baru bisa membawa perubahan di tingkat perilaku harian. Putrinya yang berusia 14 tahun, Paige, percaya pembatasan akan menciptakan “more real-life scenarios” sekaligus mengurangi “fake content” yang menurutnya mendominasi media sosial.

Paige dan saudara perempuannya menyetujui gagasan menyembunyikan jumlah likes dan membatasi penggunaan filter. Meski demikian, ia memandang manfaat itu tidak akan bertahan lama, karena “since AI is evolving”.

“People will find new ways to have fake filters, and correct certain parts of their videos or pictures,” kata Paige. Ia menambahkan, “So I think it’ll help until people use other resources to try and find new ways to do that.”

Di sisi lain, Cardner mengatakan melarang anak sepenuhnya dari media sosial justru berisiko membuat mereka merasa tertinggal dari teman sebaya. “Damned if you do, damned if you don’t,” ujarnya, seraya menyimpulkan, “I don’t think there’s any winning on it.”

Reaksi berbeda datang dari Andria Rose yang tinggal di sekitar Boston, Massachusetts, juga ibu dari dua remaja. Ia mengatakan merasa “defenceless” karena meski berupaya melindungi anak, aplikasi tetap dapat “coming in” hingga anak seperti terseret keluar dari kamar mereka.

Rose juga menilai perubahan yang diumumkan Meta memang “fantastic”. Tetapi ia tidak yakin kebijakan tersebut benar-benar menyelesaikan akar persoalan. “They’re trying to limit the drug, but they’re not controlling the drug,” katanya, lalu menegaskan, “They’re still dealing.”

Menurut Rose, penggunaan media sosial secara pribadi bahkan mengganggu tidurnya malam hari. “I’m hooked,” ujarnya, dan menutup dengan pertanyaan, “So what do you think is going to happen to a kid?”

Rose turut menyindir dampak pembayaran penyelesaian, menganggapnya “is like throwing a couple dollar bills at a problem”. Pandangannya muncul dari keyakinan bahwa industri memperoleh keuntungan besar selama pandemi dan bahwa angka pembayaran saja tidak otomatis mengubah perilaku yang merugikan anak.

Joanie Story, ibu dari empat putra di Long Island, menyoroti bagian lain dari pengumuman Meta yang berkaitan dengan platform pihak ketiga. Perusahaan menyatakan akan menahan $5 miliar dari penyelesaian dan melepaskannya hanya jika YouTube, TikTok, dan layanan lain turut masuk ke perjanjian serupa.

Meta juga menyatakan akan memperketat batas waktu menjadi satu jam bila platform-platform lain menerapkan pembatasan yang sejenis. Story menilai kondisi tersebut “petty”, karena menurutnya perusahaan bisa memperbaiki masalah namun memilih melakukannya setengah jalan.

“That’s like saying: ‘You know, we have the ability to fix what is broken, but we’re only gonna fix it halfway,’” ujarnya. Walau demikian, Story tetap menganggap pengaturan baru itu “good controls” dan mengaku pernah melihat konsekuensi ketika kontrol tidak ada.

Ia mengatakan dua anaknya secara tak sengaja terpapar konten eksplisit di platform non-Meta. Story menuturkan satu anaknya menjalani terapi selama empat tahun, dan menyamakan pengalaman itu dengan penyiksaan. “It’s almost like being abused,” katanya.

Di pinggiran Chicago, Mark SooHoo—ayah dari tiga anak—memandang media sosial dan ponsel pintar sebagai pasangan yang sulit dipisahkan. Ia menilai keduanya sama-sama berbahaya bagi anak muda dan tergabung dalam organisasi Wait Until 8th, yang meminta orang tua menunda pemberian ponsel pintar sampai akhir kelas delapan.

Menurut SooHoo, ketika sebagian besar siswa telah selesai masa sekolah menengah pertama dan berusia 13 atau 14 tahun, mereka baru dapat menggunakan ponsel. Ia menyampaikan pendekatan keluarganya dengan kalimat tegas, “And our message is very clear: We do want them to be left out. We want them to be left out of all the negative impacts of social media.”

Bagi SooHoo, alih-alih menunggu perusahaan menyelesaikan semuanya, lebih banyak orang tua perlu ikut menandatangani komitmen penundaan. “A communal problem requires a communal solution,” katanya.

Kesepakatan ini juga menempatkan pembahasan keselamatan anak di pusat perhatian, sejalan dengan temuan sejumlah studi bahwa media sosial dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental, terutama pada anak. BBC sebelumnya melaporkan investigasi yang menemukan anak-anak terpapar konten tentang perundungan, bunuh diri, dan senjata di platform media sosial.