Teknologi

Kartu Kredit Indonesia: Beralih dari Dompet ke Ponsel

×

Kartu Kredit Indonesia: Beralih dari Dompet ke Ponsel

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Dari Dompet ke Ponsel, Wajah Baru Kartu Kredit Indonesia...

jurnalistik.co.id – Di depan kasir, proses pembayaran terasa makin sederhana: Anda membuka ponsel, memilih sumber dana yang tersedia di layar, lalu transaksi diproses dengan pemindaian QRIS. Dalam hitungan detik, notifikasi keberhasilan muncul di layar, sementara di balik layar sistem pembayaran sedang bergerak ke arah yang lebih spesifik.

Pada konteks peluncuran Kartu Kredit Indonesia (KKI) segmen ritel, Bank Indonesia (BI) berupaya mengubah salah satu bagian penting dari alur transaksi kartu kredit—yakni dari mana transaksi kredit tersebut diproses. Perubahan ini ditempatkan sebagai bagian dari dorongan agar layanan pembayaran domestik bekerja dengan cara yang lebih sesuai kebutuhan transaksi masa kini.

Bila selama ini “kartu kredit” identik dengan benda fisik yang disimpan di dompet, KKI justru diperkenalkan dengan pendekatan yang berbeda. Pada tahap awal, KKI hadir dalam bentuk digital dan dapat digunakan sebagai sumber dana untuk transaksi QRIS, sehingga pilihan kartu kredit masuk ke ekosistem pembayaran yang sudah akrab bagi masyarakat.

Dengan cara pandang tersebut, bentuk paling sederhana KKI bagi konsumen bukanlah kartu plastik yang perlu dikeluarkan. Yang muncul saat pembayaran adalah opsi sumber dana di ponsel ketika Anda berada di kasir, lalu transaksi berjalan mengikuti alur QRIS yang umum.

KKI: kredit sebagai sumber dana di QRIS

Masyarakat Indonesia telah terbiasa menggunakan QRIS untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Mulai dari membeli makanan di kedai kopi, membayar jasa, sampai berbelanja di toko maupun pedagang kecil, konsumen umumnya cukup membuka aplikasi pembayaran atau perbankan, memindai kode QR, kemudian menyelesaikan transaksi.

Yang membedakan KKI ada pada sumber dananya. Jika pada praktik QRIS sebelumnya transaksi lebih sering memakai saldo rekening atau uang elektronik, KKI memungkinkan fasilitas kredit digunakan sebagai sumber dana saat pembayaran QRIS dilakukan.

Pada tahap awal, KKI dapat dimanfaatkan untuk transaksi QRIS melalui tiga skema: Merchant Presented Mode (MPM), Customer Presented Mode (CPM), dan QRIS Tap. Artinya, konsumen tidak perlu menunggu sampai kartu fisik tersedia untuk merasakan konsep KKI dalam pembayaran sehari-hari berbasis QRIS.

Pengembangan layanan berikutnya juga diarahkan ke transaksi online dan penggunaan kartu fisik. Dengan alur pengembangan seperti itu, pengalaman pembayaran tidak hanya menempel pada satu bentuk tertentu, tetapi disiapkan untuk berkembang mengikuti kebutuhan penggunaan konsumen.

Jika dulu dompet sering menjadi pusat pengalaman pembayaran ketika kartu kredit dibutuhkan, kini ponsel ditempatkan sebagai perangkat utama yang menampung aplikasi perbankan dan berbagai layanan lain. Ketika fasilitas kredit bisa “masuk” ke perangkat yang sama, peran kartu plastik perlahan tidak lagi menjadi titik tunggal dalam proses transaksi.

Konsep cardless dan perluasan layanan

Pergeseran ini juga terlihat dari cara penyedia layanan perbankan mengembangkan KKI. Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Santoso Liem, menyebut KKI BCA dikembangkan dengan konsep cardless, yakni tanpa kartu fisik.

Dalam penjelasannya, Santoso menyatakan, “Bagi teman-teman yang sudah ada BCA kartu kredit, otomatis tinggal diperluas saja menjadi cardless , karena KKI itu cardless ,” kata Santoso, dikutip dari Antara.

Dengan penjelasan tersebut, nasabah yang sudah memiliki kartu kredit BCA dapat memperluas layanan cardless melalui MyBCA. Langkah ini menunjukkan bahwa perluasan layanan tidak selalu menuntut perubahan besar dari sisi pengguna, karena konsep yang dibawa berangkat dari perangkat dan aplikasi yang sudah digunakan.

Secara praktis, perubahan ini dianggap sejalan dengan kebiasaan membawa ponsel setiap saat. Dompet fisik tidak lagi sering dibuka dalam banyak situasi, sehingga layanan pembayaran yang “hidup” di ponsel menjadi lebih terasa sebagai kelanjutan dari pola keseharian.

KKI bukan pengganti kartu kredit Visa atau Mastercard

Pertanyaan yang mungkin muncul ketika membaca kabar tentang KKI adalah apakah sistem ini akan menggantikan kartu kredit yang selama ini dikenal. Namun, BI menegaskan bahwa KKI tidak dibuat untuk menggantikan kartu kredit Visa atau Mastercard.

Kepala Grup Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Fitria Irmi Triswati, menyampaikan arah pengembangan KKI dengan tujuan yang lebih spesifik. Ia mengatakan, “KKI dikembangkan untuk menambah alternatif dan pilihan bagi masyarakat dalam menggunakan kartu kredit, sekaligus memperkuat efisiensi dan kapabilitas sistem pembayaran domestik,” ujar Fitria, dikutip dari warta Kontan.

Lewat pernyataan tersebut, posisi KKI ditempatkan sebagai tambahan pilihan dalam penggunaan kartu kredit, sekaligus upaya memperkuat sistem pembayaran domestik. Dengan kata lain, KKI diarahkan menjadi opsi yang melengkapi cara pembayaran yang ada, bukan mengganti sepenuhnya ekosistem yang sudah berjalan.

Ketika alternatif baru masuk ke proses pembayaran—terutama dalam skema QRIS yang sudah akrab—konsumen dapat menyesuaikan sumber dana yang digunakan dengan kebutuhan transaksi. Pada akhirnya, yang berubah bukan sekadar “bentuk kartu”, melainkan bagaimana kredit dapat hadir sebagai bagian dari mekanisme pembayaran sehari-hari.

Peluncuran KKI segmen ritel pada Senin (17/8/2026) menjadi penanda bahwa transformasi ini bergerak dari kebutuhan integrasi sistem hingga pengalaman pengguna di titik pembayaran. Dalam konteks itulah konsumen melihat ponsel sebagai pusat keputusan sumber dana, sementara sistem pembayaran bekerja untuk menjalankan transaksi dalam kerangka yang sedang dibenahi.