jurnalistik.co.id – GLOBAL — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kesepakatan damai dengan Iran hampir selesai. Ia juga menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz akan segera diumumkan, meski sebuah media Iran mempertanyakan klaim tersebut.
Dalam unggahan di media sosial pada Sabtu, Trump menulis bahwa sebuah kesepakatan “sebagian besar telah dinegosiasikan” dan kini hanya menunggu finalisasi. Menurut dia, proses itu melibatkan Amerika Serikat, Republik Islam Iran, serta berbagai negara lainnya.
Pernyataan Trump itu membuat perhatian tertuju pada jalannya pembicaraan yang disebut sudah berada di tahap akhir. Meski belum diumumkan sebagai kesepakatan yang benar-benar tuntas, nada yang dipakai Trump memberi kesan bahwa penutupan dokumen tinggal menunggu waktu.
Di saat yang sama, isu Selat Hormuz kembali muncul ke permukaan. Jalur pelayaran itu dikenal sangat strategis, sehingga setiap pembahasan mengenai pembukaannya kembali langsung menarik perhatian pasar maupun pengamat kawasan.
Axios melaporkan bahwa pakta yang dimaksud akan mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Dalam masa itu, Selat Hormuz akan dibuka kembali dan Iran diizinkan menjual minyaknya.
Rincian tersebut memperlihatkan bahwa isi pembicaraan tidak hanya menyentuh satu isu tunggal. Dalam laporan itu, ada paket langkah yang saling berkaitan, mulai dari gencatan senjata, pembukaan jalur strategis, hingga ruang bagi Iran untuk kembali menjual minyak.
Laporan Axios yang mengutip seorang pejabat Amerika Serikat juga menyebut bahwa negosiasi lanjutan tetap akan dilakukan. Pembahasan berikutnya akan berfokus pada program nuklir Teheran, yang sejak awal menjadi bagian penting dalam perundingan antara kedua pihak.
Artinya, meski ada kabar bahwa kesepakatan sebagian besar sudah dinegosiasikan, pembicaraan belum berhenti di titik itu. Justru, masih ada tahap lanjutan yang disebut akan menyasar persoalan nuklir Iran sebagai topik utama berikutnya.
Draf yang sama juga mengatur penghentian perang paralel antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Ketentuan ini dinilai sebagai bagian yang sensitif, karena menurut laporan Axios, langkah semacam itu kemungkinan enggan disetujui Israel.
Poin tersebut membuat draf kesepakatan yang dibahas menjadi lebih luas dari sekadar relasi Washington dan Teheran. Di dalamnya, menurut laporan itu, tercakup pula konflik lain yang selama ini ikut membebani kawasan, sehingga setiap perubahan kecil dalam naskah kesepakatan bisa membawa dampak besar.
Di tengah munculnya rincian draf tersebut, klaim Trump tetap disambut dengan keraguan oleh sebuah media Iran. Perbedaan sikap itu menunjukkan bahwa proses yang disebut hampir rampung masih menyisakan tanda tanya, baik dari sisi substansi kesepakatan maupun kesiapan para pihak untuk menutup seluruh detailnya.
Keraguan itu juga menegaskan bahwa pernyataan politik dan hasil negosiasi tidak selalu bergerak seirama. Di satu sisi, Trump berbicara tentang finalisasi yang tinggal menunggu, sementara di sisi lain masih ada media Iran yang mempertanyakan apakah klaim itu benar-benar sudah mencerminkan situasi terakhir.
Namun, jika isi laporan Axios benar, paket kesepakatan yang disiapkan tidak hanya menyentuh isu Iran dan Amerika Serikat. Ada pula unsur pembukaan kembali Selat Hormuz, izin penjualan minyak Iran, serta pembahasan lanjutan soal program nuklir Teheran yang semuanya disebut masih berada dalam rangkaian negosiasi yang lebih besar.
Situasi ini membuat pernyataan Trump menjadi perhatian karena menyentuh tiga hal sekaligus: gencatan senjata, pembukaan jalur strategis, dan kelanjutan dialog mengenai nuklir Iran. Ketiganya berada dalam satu kerangka yang, menurut unggahan Trump, hampir selesai tetapi belum final.
Pada saat yang sama, keberadaan klausul yang menyinggung perang Israel dan Hizbullah menambah lapisan baru dalam pembicaraan itu. Artinya, draf yang dilaporkan Axios tidak hanya membahas hubungan Amerika Serikat dan Iran, tetapi juga merangkum sejumlah titik konflik lain yang masih berkaitan dengan kawasan tersebut.
Hingga kini, Trump tetap menegaskan bahwa kesepakatan itu hampir selesai. Sementara itu, laporan media dan keraguan dari pihak Iran memperlihatkan bahwa setiap klaim final masih harus menunggu pembuktian dalam proses negosiasi berikutnya.












