Internasional

Perang AS-Iran Makin Panas Lagi Satu Hari Sebelum Pemakaman Ali Khamenei

×

Perang AS-Iran Makin Panas Lagi Satu Hari Sebelum Pemakaman Ali Khamenei

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Perang AS-Iran Pecah Lagi Sehari Jelang Pemakaman Khamenei

jurnalistik.co.id – Sehari menjelang pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat. Setelah jeda permusuhan sempat menjadi perbincangan, serangkaian serangan dan balasan terjadi lagi pada jam-jam terakhir menjelang upacara pemakaman yang dijadwalkan di Mashhad pada Kamis (9/7/2026).

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata serta Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang baru ditandatangani Teheran tiga minggu sebelumnya telah berakhir. Trump menyampaikan hal itu di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turkiye, pada Rabu (8/7/2026).

“Sejauh yang saya ketahui, ini sudah berakhir,” ujar Trump kepada wartawan ketika ditanya mengenai status gencatan senjata dengan Iran. Ia juga menambahkan, “Hanya membuang waktu berurusan dengan mereka.”

Menurut narasi yang disampaikan Trump, langkah tersebut diambil setelah Washington merasa frustrasi terhadap dugaan pelanggaran MoU oleh pihak Iran. Di sisi lain, Iran juga menyampaikan tuduhan serupa, bahwa AS berulang kali melanggar kesepakatan yang sama.

Begitu gencatan senjata dinyatakan berakhir, kontak senjata langsung disebut kembali terjadi. Komando Pusat Militer Amerika Serikat (Centcom) mengumumkan telah memulai serangan terhadap sejumlah target di wilayah selatan Iran sejak Selasa (7/7/2026).

Dalam keterangan Centcom, operasi tersebut disebut bertujuan “membebankan biaya besar” kepada Iran. Alasan yang diajukan adalah karena serangan terhadap kapal-kapal dagang di perairan internasional, yang dinilai sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata.

Sebelum langkah itu, Washington juga mengeluarkan peringatan bahwa akan ada konsekuensi bila tanker diserang di Selat Hormuz. Peringatan tersebut muncul dalam konteks penilaian bahwa aktivitas yang menyasar kapal dagang dan tanker berpotensi menabrak kesepakatan gencatan senjata.

Dari pihak Iran, media pemerintah melaporkan bahwa agresi militer AS terjadi pada Rabu dini hari. Disebutkan serangan mengenai Pulau Qeshm, Bandar Abbas, dan Sirik. Laporan tersebut menyebut serangan melukai sejumlah warga akibat pecahan proyektil, tetapi hingga saat laporan disusun belum ada keterangan mengenai korban jiwa.

Tak berselang lama, Iran merespons dengan menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk. IRGC disebut menyerang sejumlah fasilitas militer AS, termasuk Bandar Salman yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain, serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait.

Dalam waktu yang berdekatan dengan pengumuman Trump, rangkaian eskalasi ini menempatkan konflik AS-Iran kembali di pusat perhatian tepat menjelang pemakaman Ayatollah Ali Khamenei. Pemakaman tersebut direncanakan berlangsung di Mashhad pada Kamis (9/7/2026), setelah ia diperlakukan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.

Bagi Washington, pengakhiran MoU dan gencatan senjata diposisikan sebagai respon atas dugaan pelanggaran yang dilakukan Teheran. Sementara itu, pihak Iran menilai tindakan AS juga merupakan pelanggaran berulang terhadap kesepakatan yang pernah ditandatangani, sehingga siklus serangan dan pembalasan kembali berlanjut.

Pada titik ini, konflik tidak hanya berjalan melalui pernyataan diplomatik, tetapi juga melalui operasi militer yang dilaporkan di berbagai lokasi. Dengan jadwal pemakaman Khamenei yang tinggal menghitung hari, eskalasi terbaru membuat suasana menjelang hari penting tersebut menjadi semakin bergejolak.

Dalam kerangka yang disampaikan kedua pihak, penetapan berakhirnya gencatan senjata tidak berdiri sendiri, melainkan ditempatkan sebagai rangkaian keputusan yang saling menanggapi. Washington menilai langkah Teheran sebelumnya tidak lagi sejalan dengan MoU, sedangkan Teheran menempatkan tindakan AS dalam pola pelanggaran berulang yang juga terus dipersoalkan. Perbedaan klaim ini kemudian berujung pada kembalinya eskalasi yang ditandai dengan kontak bersenjata dan operasi yang dikomunikasikan melalui otoritas militer.

Kekhawatiran mengenai keamanan pelayaran juga menjadi benang merah yang mengiringi eskalasi tersebut. Pernyataan peringatan sebelumnya terkait tanker di Selat Hormuz memperlihatkan bahwa lalu lintas kapal dagang dipandang sebagai aspek yang dapat memicu konsekuensi lanjutan. Karena itu, ketika Centcom menyatakan operasi diarahkan untuk memberi “biaya besar” akibat serangan terhadap kapal-kapal dagang, narasi tersebut sekaligus menjadi justifikasi bagi kelanjutan rangkaian serangan dan balasan.

Menjelang pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Mashhad, pada Kamis (9/7/2026), rangkaian pernyataan Trump dan pengumuman militer dari kedua pihak membuat situasi menjelang hari penting dipenuhi ketegangan. Dengan waktu yang semakin dekat dan informasi operasi yang dilaporkan di sejumlah lokasi, perhatian publik dan fokus internasional kembali terpusat pada dinamika AS-Iran—bukan hanya pada sisi diplomasi, tetapi juga pada sinyal-sinyal tindakan yang terjadi berdekatan dengan jadwal upacara.