Bisnis & Ekonomi

Trump Klaim Selat Hormuz Akan Dibuka, Harga Minyak Turun Hampir 5 Persen

×

Trump Klaim Selat Hormuz Akan Dibuka, Harga Minyak Turun Hampir 5 Persen

Sebarkan artikel ini
Trump Sebut Selat Hormuz Akan Dibuka, Harga Minyak Turun Hampir 5 Persen Money 16 Juni 2026
Ilustrasi: Trump Sebut Selat Hormuz Akan Dibuka, Harga Minyak Turun Hampir 5 Persen

jurnalistik.co.id – Harga minyak dunia melemah hampir 5 persen pada perdagangan Senin (15/6/2026) waktu setempat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan telah menyelesaikan kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Trump menyampaikan hal tersebut melalui unggahan di Truth Social. “Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai,” tulis Trump dalam unggahan tersebut.

Menurut pemberitaan yang dikutip CNBC, kontrak berjangka minyak mentah AS turun sekitar 4,9 persen dan ditutup di level 80,75 dollar AS per barel. Sementara itu, kontrak berjangka Brent yang menjadi acuan internasional melemah sekitar 4,8 persen dan berakhir di posisi 83,17 dollar AS per barel.

Dalam pernyataan berikutnya, Trump mengatakan pembukaan Selat Hormuz akan dilakukan tanpa sistem tarif. Ia juga menyebut AS akan mengakhiri blokade laut terhadap Iran.

“Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak mengalir!” ujar Trump.

Trump kemudian menyebut Selat Hormuz akan kembali dibuka pada Jumat. Ia menyatakan pembukaan tersebut bertepatan dengan rencana penandatanganan resmi perjanjian perdamaian di Swiss.

“Dengan dibukanya selat tersebut setelah penandatanganan kesepakatan pada Jumat, serta untuk keperluan pembersihan ranjau, minyak akan kembali mengalir dari kedua arah, baik untuk kawasan maupun dunia,” kata Trump.

Namun, perbedaan pemahaman antara AS dan Iran terkait isi kesepakatan mulai muncul. Media pemerintah Iran menyebut Selat Hormuz hanya akan bebas tarif selama 60 hari.

Setelah periode tersebut, Iran dan Oman disebut akan mengelola jalur pelayaran itu, menurut kantor berita Tasnim. Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Washington berharap Selat Hormuz tetap bebas tarif dalam jangka panjang.

Sebelum lalu lintas kapal tanker merosot tajam pada awal Maret akibat serangan Iran, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan di jalur strategis tersebut memicu guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.

Meski harga minyak turun tajam, risiko pelayaran di Selat Hormuz belum sepenuhnya reda. Kondisi ini membuat dampak pembukaan yang dijanjikan masih menyisakan perhatian pasar, terutama terkait ketentuan tarif dan pengelolaan jalur setelah periode awal berjalan.

Reaksi pasar yang tercermin dari pelemahan berjangka minyak menunjukkan bahwa pengumuman pembukaan Selat Hormuz langsung memengaruhi persepsi terhadap arah pasokan. Penurunan sekitar 4,9 persen pada minyak mentah AS dan sekitar 4,8 persen pada Brent memperlihatkan dorongan optimisme, tetapi pergerakan sebesar itu juga menandakan pelaku pasar tetap menghitung kemungkinan perubahan skenario dalam waktu dekat.

Dalam konteks yang lebih luas, kabar pembukaan jalur tersebut berangkat dari gangguan yang terjadi sebelumnya. Saat awal Maret lalu lintas tanker disebut merosot tajam setelah serangan Iran, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia diketahui melewati Selat Hormuz. Guncangan pasokan yang dipicu gangguan itu disebut menjadi salah satu yang paling besar dalam sejarah, sehingga setiap sinyal normalisasi—meski berupa janji pembukaan—akan terus dibaca sebagai sinyal pemulihan bertahap.

Bagian yang paling menjadi sorotan berikutnya adalah detail ketentuan tarif dan mekanisme pengelolaan setelah periode awal. Media pemerintah Iran menyebut pembebasan tarif hanya berlaku selama 60 hari, sementara setelahnya Iran dan Oman disebut akan mengelola jalur pelayaran menurut Tasnim. Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan Washington berharap kebijakan bebas tarif bisa berlangsung lebih panjang, sehingga perbedaan interpretasi ini berpotensi memunculkan ketidakpastian lanjutan untuk pelayaran komersial.

Selain itu, rencana pembukaan yang dijadwalkan terjadi pada Jumat juga dikaitkan dengan kebutuhan pembersihan ranjau. Trump mengaitkan pemulihan aliran minyak dari kedua arah dengan proses tersebut, serta menyebut adanya langkah lanjutan terkait blokade laut terhadap Iran. Namun, karena ketentuan tarif dan pengelolaan jalur setelah masa awal masih diperdebatkan, risiko terhadap stabilitas harga dan premi risiko pelayaran diyakini belum sepenuhnya hilang dari kalkulasi pasar.