jurnalistik.co.id – Luke Humphries harus mengakhiri perjalanan di World Matchplay Darts 2026 lebih cepat dari yang diharapkan. Petenis nomor dua dunia itu tersingkir di babak pertama setelah kalah oleh pemain asal Skotlandia, Cameron Menzies, dengan skor akhir 10-7.
Laga ini memperlihatkan perbedaan momen yang tajam antara keduanya. Humphries sempat kesulitan di fase awal, sementara Menzies mampu memanfaatkan setiap peluang penting untuk tetap memegang kendali.
Humphries mengalami pukulan besar sejak awal pertandingan. Ia dibuat bertekuk dalam enam leg pertama dan, meski akhirnya berhasil menahan servisnya sendiri, situasi itu tetap terasa berat baginya.
Di momen-momen yang menentukan, kualitas penyelesaian (finishing) Humphries menjadi sorotan. Ia dihukum karena sejumlah percobaan yang kurang rapi ketika peluang poin besar datang.
Kebangkitan Humphries dan momen pembunuh Menzies
Meski tertinggal jauh, Humphries tidak menyerah begitu saja. Ia mulai mengubah ritme dan mengambil momentum dengan serangkaian kemenangan leg secara beruntun.
Dalam fase kebangkitan itu, Humphries mampu merebut empat leg beruntun sehingga kedudukan berbalik menjadi 8-7. Hasil ini membuat suasana berubah dan membuka peluang besar untuk menyelesaikan pertandingan lewat skenario comeback.
Namun, Menzies menutup ruang gerak Humphries pada momen yang tepat. Ia memastikan kemenangan bergaya melalui penyelesaian “big fish”, yakni maximum checkout 170.
Dengan finishing maksimal tersebut, Menzies mengunci skor 10-7 dan menegaskan bahwa ia pantas melaju meski berstatus unseeded. Statistik akhir pertandingan pun mencerminkan tekanan yang berhasil dimanfaatkan Menzies di saat-saat krusial.
Bagi Humphries, kekalahan ini jelas membawa kekecewaan besar. Ada catatan pemulihan performa yang terlihat belakangan setelah awal musim yang melambat.
Dalam beberapa bulan terakhir, Humphries menunjukkan tanda kembali ke performa terbaiknya. Ia meraih kemenangan atas Luke Littler untuk merebut gelar US Darts Masters pada bulan Juni, dan itu menjadi sinyal positif sebelum World Matchplay bergulir.
Karena itu, tersingkir di babak pertama menjadi hasil yang sulit diterima, terutama setelah momentum baik sempat dibangun. Meski demikian, Menzies tetap layak mendapat pujian atas ketenangan dan eksekusi finishingnya.
Menzies sendiri memandang kemenangan ini sebagai capaian yang sangat berarti. Ia menyebut kemenangan tersebut “will take to his grave,” sekaligus menegaskan betapa spesialnya malam itu baginya.
Dengan hasil tersebut, Menzies menjadi hanya pemain unseeded kedua yang berhasil maju pada edisi turnamen tahun ini. Pencapaian itu menambah nilai historis pertandingan dan memperkuat reputasinya sebagai lawan yang sulit diprediksi.
Berita Terkait
Jadwal babak berikutnya: Menzies vs Ross Smith
Setelah kemenangan atas Humphries, Menzies akan menghadapi ujian lanjutan di babak kedua. Ia dijadwalkan bertemu dengan unggulan ke-15, Ross Smith.
Smith melaju setelah mengalahkan Kevin Doets dari Belanda dengan skor 10-6. Pertandingan Smith dan Doets berjalan dengan tempo tinggi, namun Smith tetap mampu menemukan momen tepat untuk menutup setiap leg krusial.
Dalam laga tersebut, keduanya mencatat rata-rata lebih dari 100. Selain itu, persentase keberhasilan di double juga melewati angka 50 persen, menandakan kualitas eksekusi yang merata sepanjang pertandingan.
Meski persaingan terlihat ketat, Smith tetap menjadi pihak yang lebih konsisten saat peluang paling penting datang. Hal itulah yang akhirnya mengunci tiketnya menuju babak berikutnya.
Sementara itu, format turnamen membuat setiap kemenangan menjadi kunci, karena jarak antar-peringkat dan momentum bisa berubah dalam hitungan leg. Pertemuan Menzies vs Smith berpotensi menghadirkan duel yang sama-sama memaksimalkan finishing di situasi sulit.
Gerwyn Price lolos setelah sempat tertinggal jauh
Di pertandingan lain, Gerwyn Price harus melewati ujian yang tidak mudah sebelum meraih kemenangan. Ia sempat mengalami “scare” sebelum akhirnya mengalahkan Martin Schindler dari Jerman dengan skor 11-9.
Price mengakui bahwa hasil ini nyaris tidak sesuai rencana. Ia menyebut pertandingan itu “probably one I should’ve lost” setelah tertinggal sangat cepat, yakni 4-0 dan kemudian 6-2.
Ketika berada di bawah tekanan seperti itu, permainan menjadi titik balik yang menentukan. Price kemudian menunjukkan kemampuan untuk membalikkan keadaan dengan merebut kembali kendali atas ritme pertandingan.
Meskipun sempat menemukan jalan untuk bangkit, Price tetap tidak bisa bernapas lega terlalu cepat. Ia sudah mampu mengambil keunggulan pertamanya ketika kedudukan menjadi 9-8, tetapi Schindler tidak membiarkan turnamen berjalan sesuai kemauan lawannya.
Schindler kemudian merespons dengan sebuah penyelesaian 121 yang berhasil memecahkan kembali ritme Price. Leg setelah itu menuntut konsentrasi penuh, karena satu kesalahan kecil bisa menghapus peluang.
Pada akhirnya, unggulan ketujuh berhasil menyelesaikan laga lewat leg ke-20. Keberhasilan tersebut menegaskan bahwa Price masih punya daya tahan, terutama di fase akhir saat pertandingan memerlukan finishing yang lebih presisi.
Secara keseluruhan, rangkaian pertandingan di babak awal World Matchplay 2026 menghadirkan cerita yang berbeda: ada kejutan saat Humphries tersingkir, ada kebangkitan saat Price melawan arus, serta ada eksekusi maksimal yang menjadi pembeda bagi Menzies.












