Politik & Parlemen

Andy Burnham Dinilai Bakal Sulit Satukan Inggris

×

Andy Burnham Dinilai Bakal Sulit Satukan Inggris

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Why Andy Burnham will find it so tricky to unite Britain

jurnalistik.co.id – Setelah naiknya Andy Burnham ke peran sebagai perdana menteri baru, perbincangan soal bagaimana menyatukan Inggris kembali mengemuka. Artikel ini menyoroti seberapa dalam polarisasi nilai, integrasi sosial, dan pandangan warga mengenai imigrasi.

Dalam program Radio 4 “Common Ground”, Evan Davis membahas ketegangan yang membelah masyarakat Inggris. Ia juga mengaitkannya dengan suasana yang terasa “real” dalam film 2024 “Civil War”, yang menurut pembuatnya, Alex Garland, disertai kekhawatiran terhadap rumah sendiri.

Garland, yang juga menyutradarai film itu, pernah mengatakan kepada The Guardian, “there’s a lot to be very concerned about”. Kekhawatiran tersebut bukan monopoli satu negara, melainkan mencerminkan problem yang terasa luas di banyak tempat.

Burnham sendiri, sejak menyatakan pencalonannya untuk kursi Makerfield pada Mei, berulang kali mengajak publik menjauh dari label partai dan identitas faksi. Ia menekankan pendekatan “Place first, not party first”, serta ketika masuk ke Downing Street pada Senin, ia menyerukan “new national sense of unity, of common purpose and positivity”.

Retakan besar: nilai, usia, dan pendidikan

Dalam pandangan Davis, belahan yang paling mencolok kini bukan sekadar kelas sosial seperti era sebelumnya. Polanya bergeser, dan salah satu garis retaknya tampak pada perbedaan nilai antara kelompok progresif dan sosial konservatif.

Ia menggambarkan skenario ekstrem bila konflik sipil benar-benar terjadi, yang kemungkinan bukan lagi bertumpu pada kelas, melainkan pertarungan pendukung media dan identitas ideologis: “Allied Readers of the Guardian” versus “United League of GB News Viewers”.

Jurang nilai itu, menurut Davis, lebih jelas dipengaruhi usia dan tingkat pendidikan dibanding latar kelas. Dalam politik saat ini, perbedaan tersebut muncul dalam perdebatan soal “woke”, patriotisme, hingga imigrasi.

Karena schismenya terang, ada perasaan bahwa pihak lain merupakan ancaman eksistensial terhadap visi masyarakat yang diinginkan. Untuk memetakan ini, Davis melaporkan survei dari More in Common Research Institute (mencakup Great Britain, bukan Irlandia Utara).

Responden diminta memilih apakah mereka lebih suka tinggal di komunitas “where more people come from different cultural backgrounds” atau “where most people come from the same cultural background”. Hasilnya terbelah hampir rata: 53% memilih komunitas yang beragam, sementara 47% menginginkan komunitas yang lebih homogen.

Menurut Davis, tantangan bagi Burnham menjadi lebih sulit ketika pembahasan nasional berhenti pada pembagian 50-50. Ia menyebut argumentasi menjadi sukar diselesaikan dibanding situasi ketika satu pihak mendominasi sepenuhnya.

Soal imigrasi: ada kesan yang lebih serupa

Namun, pada pertanyaan khusus tentang imigrasi, survei memperlihatkan tampak lebih banyak titik temu. Sekitar tiga perempat warga Inggris menilai tingkat imigrasi terlalu tinggi.

Burnham sendiri pernah menyatakan bahwa net migration berada pada angka yang “way too high” di bawah pemerintahan Konservatif, dan ia berjanji akan “find the right balance” terkait isu tersebut.

Integrasi sosial, bahasa, dan rasa aman

Polarisasi tidak berhenti pada nilai dan imigrasi. Dari percakapan Davis ke berbagai wilayah, ia menangkap kekhawatiran yang berbeda-beda namun saling tumpang tindih di bawah payung “polarisation”.

Satu kekhawatiran yang paling kuat terasa di kalangan kanan adalah persoalan integrasi sosial. Ini berkaitan dengan kondisi ketika komunitas dengan budaya, etnis, bahkan bahasa yang berbeda hidup berdampingan, tetapi menjalani kehidupan yang benar-benar terpisah.

Davis mencontohkan Leicester, kota dengan proporsi tertinggi penduduk yang menggunakan bahasa utama selain bahasa Inggris. Ia bertemu Jason, 54 tahun, seorang pemasang jendela, yang menyaksikan perubahan kota itu dan membangun pertemanan dengan warga Hindu serta Sikh.

Meski demikian, Jason—yang merupakan warga kulit putih Inggris—menyebut ia juga memiliki keberatan. Ia mengatakan beberapa keluarga Muslim di area tersebut cenderung menolak layanannya, dan ia menahan diri untuk tidak mendatangi satu bagian kota setelah mengalami pelecehan rasial tahun lalu oleh sekelompok pria di dalam mobil yang “calling me a white so-and-so”.

Ia juga menganggap hambatan bahasa sangat sulit, terutama saat berurusan lewat telepon untuk meminta kutipan pekerjaan. “Sometimes it’s very hard to take an inquiry on the phone. You’re doing a quote on the windows and you just really can’t communicate.”

Di sisi lain, kekhawatiran yang lebih terasa di kalangan kiri berkaitan dengan meningkatnya isu rasisme dan kekerasan. Davis menyinggung bahwa ketegangan rasial meledak di jalanan dalam beberapa tahun terakhir, dari Southport hingga Southampton.

Ia mengutip Hannah Henderson, pemilik kafe yang ramah anjing di Southampton, yang mengatakan ia baru-baru ini mengemudi bersama putrinya ketika melewati hotel yang menampung pencari suaka. Henderson menceritakan ada protes, dengan orang-orang memakai bendera St George di bahu mereka, sementara polisi berjajar, dan sang anak merasa tidak aman.

Menurut Henderson, putrinya yang berusia dua belas tahun tidak sepenuhnya memahami alasan kemarahan itu. Ia menyebut, “She didn’t really understand, why would people be so cross?”

Ketimpangan antarwilayah dan identitas yang “kurang diterima”

Kekhawatiran lain juga muncul dari perbedaan antarwilayah. Davis menyatakan ada frustrasi yang tenang dari warga kota-kota pasca-industri yang kurang beruntung secara ekonomi, setelah hilangnya manufaktur dan pertambangan.

Ia menyinggung bahwa kota-kota kecil seperti itu cenderung tidak memiliki kampus universitas, dan jalan utama mereka terlihat lebih merosot. Ia menyebut contoh Wigan di Greater Manchester, yang menjadi wilayah kuat bagi Burnham, sering “tertinggal” di bayang kota besar yang mengapitnya.

Davis mengaitkannya dengan pandangan Fiona Hill, putri seorang penambang batu bara dari Bishop Auckland yang kemudian pindah ke Washington DC. Hill kini menjadi penasihat senior di Gedung Putih, dan ia juga menulis buku “There’s Nothing For You Here”, yang judulnya diambil dari nasihat ayahnya ketika Hill meninggalkan sekolah pada 1984.

Hill menjelaskan alasan istilah itu: “The reason it’s called ‘left behind’ is because you look at health outcomes, education, transport, access to amenities… and all of the [towns] that we’re talking about are left behind,” serta menegaskan bahwa tempat-tempat itu tidak berada pada level yang sama dengan pusat kota yang maju seperti Manchester, Liverpool, dan “absolutely not at the same level as London.”

Ia menambahkan satu hal yang berkaitan: seolah masyarakat kini membagi ruang sosial lebih sedikit. Davis menggambarkan orang-orang lebih sering menjalani keseharian di rumah, jarang pergi ke gereja setiap Minggu, dan juga jauh lebih jarang ke pub seperti dulu.

Dari skala nasional, ia juga menyoroti identitas yang terasa samar, terutama di Inggris. Bahkan bendera, dan keberadaannya di tiang lampu serta papan tanda, ikut berubah menjadi isu pemecah belah.

Dalam kutipan dari James Graham, seorang penulis naskah, Davis menyebut bahwa sebuah bangsa banyak ditentukan oleh “the story it tells itself”. Graham mengatakan sebagian wilayah di Inggris merasa tersisih dari cerita nasional tersebut, karena ada kelompok yang mendapatkan peran lebih besar dalam narasi sejarah.

Ia mengaitkan ini dengan dampak psikologis: “If you see yourself on screen or stage, or in film or books or newspapers, if you feel like you’re being seen and you’re being heard and you feel part of a story, that does temper some of the natural bitterness and resentment that you feel when your economic situation isn’t quite so good.”

Titik temu juga ada

Meskipun demikian, Davis menilai ia menemukan banyak ruang kesamaan saat berbicara dengan warga di berbagai penjuru. Ia menggambarkan orang-orang yang tidak puas dengan masalah yang mereka lihat, tetapi tetap bersedia menempuh jalan yang konstruktif.

Ia menyebut bahwa di balik setiap kerusuhan, selalu ada relawan yang datang membersihkan sisa kekacauan keesokan harinya. Selain itu, tim olahraga atau pusat komunitas sering menjadi titik fokus semangat bertetangga.

Untuk contoh, ia menceritakan perbincangan dengan Christine Green di Grimsby Town Football Club. Christine mulai menjadi relawan ketika masa sulit melanda hidupnya. “I was going through a divorce and… needed something to occupy my time and my mind so I’m not focusing on negative stuff”.

Christine tinggal di wilayah East Marsh yang kurang beruntung di Grimsby, yang menurutnya sering dilekatkan citra kriminalitas dan pengangguran, tetapi ia tidak mengenali gambaran itu sendiri. Ia mengatakan, “I know the person next door and I know the person across the road”.