Bisnis & Ekonomi

Warga Kini Tak Sekadar Makan: Sedang Bertahan

0
×

Warga Kini Tak Sekadar Makan: Sedang Bertahan

Sebarkan artikel ini
Warga Tak Lagi Sekadar Makan, Kini Sedang Bertahan News 4 Juni 2026
Ilustrasi: Warga Tak Lagi Sekadar Makan, Kini Sedang Bertahan

jurnalistik.co.id – Hilangnya opor ayam, rawon, dan sejumlah lauk lain di etalase warteg belakangan ini tidak hanya dibaca sebagai persoalan kenaikan harga bahan pangan. Perubahan kecil yang terlihat di meja makan harian itu, menurut ekonom, juga dapat menjadi sinyal bahwa sebagian masyarakat mulai memasuki fase bertahan hidup.

Gejala tersebut muncul dalam beberapa kebiasaan yang berubah, mulai dari pilihan menu hingga cara warteg menata dagangannya. Di lapangan, pelanggan yang sebelumnya mengambil dua hingga tiga lauk kini kerap cukup dengan satu lauk saja.

Bukan hanya jumlah lauk yang menyusut, sambal yang sebelumnya bisa diminta terpisah juga mulai ditiadakan. Sementara itu, pedagang mencoba menahan laju biaya dengan berbagai penyesuaian.

Upaya penekanan biaya dilakukan melalui pengurangan porsi, penelusuran bahan baku yang lebih murah, hingga penghapusan menu yang dianggap tidak lagi menguntungkan. Dengan kata lain, perubahan terasa tidak hanya pada konsumen, tetapi juga pada strategi operasional para pedagang.

Warteg sebagai cermin tekanan ekonomi

Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai fenomena ini menunjukkan tekanan yang sedang dialami masyarakat kelas menengah ke bawah. Baginya, pola hilangnya menu tertentu di warteg berhubungan dengan kondisi daya beli yang menurun.

“Fenomena terkait hilangnya menu lauk tertentu di warteg , banyaknya tukang parkir, bahkan sampai munculnya rohana dan rojali, menunjukkan gambaran riil di masyarakat kelas menengah ke bawah,” kata Huda saat dihubungi Kompas.com melalui Whatsapp, Kamis (4/6/2026).

Huda juga menekankan alasan warteg menjadi ruang yang paling mudah membaca kondisi ekonomi harian. Warteg dipandang sebagai tempat yang banyak didatangi konsumen dengan kebutuhan mendesak dan pilihan yang menitikberatkan pada harga terjangkau.

“Kelas menengah ke bawah ini tidak ke iBox, tidak ke restoran mewah, tapi mereka pergi ke warteg hanya untuk sekadar makan. Ketika pilihannya itu terbatas pada menu dengan harga terjangkau, maka ada problem di masyarakat kelas menengah ke bawah ini,” ujarnya.

Menurut Huda, keterbatasan pilihan tersebut menekan cara masyarakat mengatur belanja makan. Saat menu harus disesuaikan agar tetap bisa dibeli, perilaku konsumen pun cenderung berubah mengikuti ruang fiskal yang makin sempit.

Pedagang merasakan dampak langsung

Perubahan perilaku konsumen itu juga dirasakan langsung oleh para pedagang warteg. Salah satunya Lina (37), pengelola Warteg Gria Bahari di Pamulang.

Lina menilai kondisi saat ini justru terasa lebih berat dibanding masa pandemi Covid-19. Ia membandingkan respons masyarakat kala itu dengan kondisi terkini yang membuat kebutuhan makan menjadi semakin sulit dipenuhi.

“Saya bandingkan, jujur masih mending zaman Covid dah. Pas social distancing, orang masih butuh makan dan daya beli masih kuat. Kalau sekarang bener-bener berat, orang mau makan saja susah,” ujar Lina.

Dalam pengamatannya, jumlah pelanggan di warungnya turun hingga sekitar 50 persen. Penurunan itu membuat perubahan tampak bukan hanya pada jenis lauk yang dipilih, tetapi juga pada frekuensi dan ukuran pengeluaran makan.

Di warungnya, pelanggan yang sebelumnya masih leluasa membeli beberapa lauk sekaligus kini mulai mengurangi pengeluaran untuk makan. Lina menggambarkan bahwa pilihan menjadi lebih minimal karena orang berusaha menyesuaikan anggaran harian.

“Lah sekarang tuh orang makan tuh mungkin satu hari sekali,” katanya.

Tak berhenti pada aspek transaksi di warung, Lina juga melihat dampak lanjutan bagi keberlangsungan usaha kecil di sekitar lokasi. Ia menyebut semakin banyak pedagang kecil yang memilih menutup usaha karena tidak mampu menanggung biaya operasional yang terus meningkat.

Dari sisi ekonomi, rangkaian perubahan itu menggambarkan pergeseran dari sekadar menyesuaikan menu menjadi upaya bertahan agar tetap bisa memenuhi kebutuhan makan. Sementara itu, bagi pedagang, penyesuaian biaya dan porsi menandai situasi yang makin menuntut efisiensi.

Ketika warteg mengurangi menu yang dianggap tidak menguntungkan, pelanggan pun cenderung menata ulang kebiasaan makannya. Kombinasi dua arah—pengurangan pilihan dari sisi pedagang dan penyempitan konsumsi dari sisi pelanggan—membentuk gambaran tekanan ekonomi yang nyata di keseharian.

Dengan konteks itu, Huda memandang warteg sebagai indikator yang relevan untuk membaca kondisi masyarakat kelas menengah ke bawah. Di tempat yang banyak diandalkan untuk kebutuhan makan sehari-hari, perubahan kecil pada lauk, sambal, dan porsi bisa menjadi cermin bagaimana daya beli beradaptasi dalam situasi yang makin berat.