jurnalistik.co.id – Sir Keir Starmer memberi sinyal tegas kepada Andy Burnham: urusan luar negeri tidak bisa diperlakukan sebagai kerja sampingan, melainkan harus setintens mungkin seperti yang dia lakukan saat memimpin pemerintahan. Dalam wawancara yang disampaikan untuk pertama kalinya setelah ia mengambil keputusan keluar dari jabatan, Starmer menekankan keterkaitan persoalan global dengan tantangan dalam negeri.
Menurut Starmer, masa depan politik berikutnya—siapa pun yang akan menggantikan dirinya—akan tetap berhadapan dengan konflik dan dinamika dunia yang sama-sama “berbahaya” dan sulit diprediksi. Ia menyebut hal itu sebagai kenyataan yang tidak bisa diabaikan, sekaligus alasan mengapa diplomasi dan urusan luar negeri tidak dapat “dipotong” waktunya.
“It is not sensible to think you can just separate these two things out,” ujarnya. Starmer menambahkan bahwa ketika publik membahas “what’s the right balance between dealing with international affairs and dealing with domestic affairs?”, jawabannya menurut dia adalah bahwa keduanya “one and the same thing.”
Dalam bagian lain wawancara, Starmer merespons pertanyaan apakah seorang perdana menteri bisa menghabiskan waktu lebih sedikit untuk diplomasi dibanding dirinya. Ia menjawab, “No, I don’t think it is possible.”
Ia lalu mengingatkan bahwa siapa pun penerusnya akan menghadapi situasi keamanan yang sama. Starmer mengatakan dunia saat ini berada dalam “a more dangerous and volatile world than we’ve been in for probably most of my lifetime,” dan menegaskan, “That’s not going to change. And the domestic challenges aren’t going to change.”
Keputusan mundur yang “intensely personal”
Starmer juga membuka alasan di balik pengunduran dirinya dengan nada yang digambarkannya sangat pribadi. Ia menyebut keputusan yang ia ambil bersama keluarganya sebagai “intensely personal” dan “really tough,” sekaligus menggambarkan bahwa ia menerima kenyataan bahwa “political career” miliknya “was over”.
Ia menuturkan bahwa selama dua tahun memegang jabatan perdana menteri, ia menghadapi kritik berulang soal banyaknya waktu yang dihabiskan di panggung internasional. Kritikus bahkan memberi label “never here Keir”, terutama ketika Starmer berencana menandai peringatan tugasnya di pemerintahan.
Dalam wawancara itu, Starmer menyatakan ia “saved” Partai Buruh, dan mengaku menjadi perdana menteri yang sukses. Ia juga menegaskan akan menghindari intervensi berlebihan setelah pergantian kepemimpinan. Starmer berjanji, “keep my mouth shut” di bawah pemerintahan penerusnya, sekaligus menekankan bahwa ia menyukai Burnham dan keduanya “always got on.”
Ia juga menyiratkan bahwa keputusan untuk mundur bukanlah langkah yang ia ambil dengan ringan. “I grappled with what was the best thing to do for me, for the country, for the government,” kata Starmer, sambil menambahkan bahwa diskusi semacam itu, menurutnya, dimulai dari rapat-rapat dan masukan dari banyak pihak.
Starmer menjelaskan proses itu melibatkan perbincangan dengan kolega, “parliamentary colleagues”, tim di sekitar pemerintahan, “my immediate advisers”, hingga serikat pekerja. Namun pada akhirnya, ia menyebut ada faktor lain yang membuat keputusan tersebut berubah menjadi urusan batin yang sangat personal.
“But for me, and this may be different for other people, in the end it became an intensely personal decision,” ujarnya. Ia mengaitkan keputusan itu dengan waktu saat ia dan istrinya, Vic (Victoria), sedang menjauh dari rutinitas bersama anak-anak mereka.
Starmer menyebut mereka pergi ke Chequers, kediaman pedesaan perdana menteri, dan “just spent two days together as a family.” Di situlah, menurutnya, ia mencapai keputusan terakhir yang ia nilai paling tepat. Ia menegaskan, “Taking the decision that your political career is over, it is an intensely personal matter, or at least it was for me. I wanted to do that with Vic, and that’s what I did.”
Berita Terkait
Dalam penjelasan lain, Starmer juga menggarisbawahi bahwa ia mengambil langkah ini setelah sebelumnya berulang kali berkomitmen untuk terus bertarung. Ia menyebut telah berjanji “to fight on as prime minister”, termasuk menghadapi potensi penantang dalam pemilihan pemimpin Partai Buruh.
Meski demikian, ia akhirnya mengubah arah dan mengundurkan diri dalam waktu tiga hari setelah kemenangan Burnham pada pemilihan sela Makerfield. Starmer menggambarkan proses itu sebagai “really, really tough” dan menempatkannya sebagai hasil dari pergulatan yang ia selesaikan pada akhir pekan tersebut bersama keluarga di Chequers.
Kendali setelah mundur dan warisan sebagai pemimpin oposisi
Starmer tampak mengakui bahwa penerusnya hampir pasti adalah Burnham, meskipun di waktu lain ia menggunakan frasa yang lebih umum: “whoever my successor is.” Ia juga menyatakan masih ada “a little bit of process to go,” seolah mengisyaratkan bahwa transisi belum sepenuhnya selesai dalam format politik.
Ia menegaskan tidak ada permusuhan pribadi. “He said he had ‘never had any personal animosity’ towards the former Greater Manchester mayor” dan menambahkan bahwa ia akan “do everything I possibly can to make sure that the next government succeeds.”
Starmer berkomitmen untuk tetap menjadi anggota parlemen hingga minimal pemilihan berikutnya. Namun, ia menegaskan ia akan mengambil sikap yang berbeda dibanding peran di pemerintahan sebelumnya: ia “keeping my mouth shut, rather than giving constant advice” kepada penerusnya mengenai apa yang seharusnya dilakukan.
Ia juga menempatkan empat tahun perannya sebagai pemimpin Partai Buruh saat di oposisi sebagai bagian yang “absolutely core” terhadap warisannya. Starmer menggambarkan kondisi Partai Buruh ketika ia mengambil tongkat kepemimpinan sebagai “politically, financially and morally bankrupt” dan menyebut perjalanan itu sebagai “hard and bloody work.”
Dari sisi hasil elektoral, Starmer menyamakan keberhasilannya dengan capaian tokoh-tokoh besar. Ia menyatakan bahwa pencapaiannya seharusnya sejajar dengan kemenangan Clement Attlee pada 1945 serta kemenangan Sir Tony Blair pada 1997.
Ia menambahkan, “The Labour Party arguably could have been lost, but I stepped up as leader and with others we saved the Labour Party.” Namun, ia juga mengungkap alasan pengusiran dirinya dari posisi pemimpin partai: anggota parlemen menilai mereka tidak lagi menganggap ia “the right person to take us into the next election”.
Harapan kubu Burnham dan penolakan pemisahan urusan
Di tengah perubahan kepemimpinan, Starmer juga menyinggung harapan sebagian pendukung Burnham di parlemen. Mereka ingin Burnham bisa lebih fokus pada isu dalam negeri seperti biaya hidup dan layanan publik. Namun Starmer menolak gagasan pemisahan tersebut dan kembali menekankan bahwa baik persoalan internasional maupun domestik bekerja sebagai satu rangkaian yang saling memengaruhi.
Ia melihat dunia yang bergerak semakin bergejolak sebagai faktor yang pasti akan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, sehingga perdebatan soal “balance” justru perlu disikapi dengan kesadaran bahwa ruang lingkupnya tidak bisa dipisahkan. Dengan nada yang sama, ia menyatakan tantangan domestik juga tidak akan berkurang hanya karena pemimpin ingin lebih fokus pada pekerjaan dalam negeri.
Sebagai konteks lain yang mengiringi masa transisi ini, Andy Burnham dikabarkan telah menolak memanggil pemilihan umum lebih awal jika ia menjadi perdana menteri pada akhir bulan ini.
Kesimpulannya, Starmer menempatkan pesan utamanya bukan sekadar sebagai nasihat politis, melainkan sebagai peringatan tentang corak pemerintahan setelahnya. Dalam pandangannya, dunia yang “dangerous” dan “volatile” akan terus membentuk agenda kabinet, sementara masalah domestik tetap menuntut respons—sehingga perdana menteri tidak punya ruang untuk menganggap urusan luar negeri sebagai hal yang bisa ditunda.












