Pendidikan

Panduan Jalan 30 Menit Sehari: Tips Biar Jadi Kebiasaan Harian

×

Panduan Jalan 30 Menit Sehari: Tips Biar Jadi Kebiasaan Harian

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How to walk 30 minutes a day - your tips

jurnalistik.co.id – Rencana skema olahraga yang didukung NHS di Inggris kembali mengangkat kebiasaan sederhana: berjalan kaki teratur selama sekitar 30 menit setiap hari. Sejumlah pembaca kemudian membagikan cara mereka menjaga rutinitas itu tetap jalan—dari aktivitas sebelum sarapan sampai perubahan kecil saat bepergian.

Skema “marathon a month” dari NHS England, yang merupakan bagian dari upaya lebih luas mendorong aktivitas fisik, dijadwalkan mulai tahun depan. Program ini akan meminta peserta berjalan “for around 30 minutes a day over the course of a month”. Mereka yang menyelesaikan tantangan akan memenuhi syarat untuk “exercise rewards”, meski detailnya masih belum diumumkan.

Ketika membahas apa yang membuat orang konsisten berjalan, pembaca menyebut motivasi yang beragam. Di antaranya, keinginan memiliki kesehatan fisik dan mental yang lebih baik, waktu di alam, serta upaya menjadikan jalan kaki sebagai bagian dari rutinitas harian—bukan kegiatan yang terasa terpisah dari keseharian.

Berikut beberapa pola yang dibagikan pembaca, yang menunjukkan bahwa 30 menit bisa dikumpulkan lewat kebiasaan kecil, bukan sekadar “latihan” yang memerlukan persiapan khusus.

Membagi 30 menit menjadi beberapa sesi singkat

Ed Shirt, 25, menyarankan agar 30 menit tersebut “fit in the 30 minutes wherever you can in the day” dengan cara memecahnya agar lebih mudah dijalani. Ia menyebut: “Walk before work, on your lunch break or after dinner,” dan menegaskan, “You don’t have to do all 30 minutes at once either – three 10-minute walks throughout the day add up just the same.”

Di tempat tinggalnya di Prestatyn, Denbighshire, Wales, Ed kerap memasang timer dan memilih landmark sebagai tujuan berjalan. Ia mengatakan, “I get my half hour in literally just getting on the beach. There’s something about the movement of walking that clears your mind. I love walking for my mental health.”

Menurutnya, kunci utama bukan menjadikan jalan kaki sebagai sesi olahraga yang “dibebani”, melainkan rutinitas harian. “He says the key is to make walking part of a daily routine rather than treating it as a workout.” Ia menambahkan, “Walking is one of the easiest ways to boost both your physical and mental wellbeing, and once it becomes a habit, you’ll really notice the difference.”

Memanfaatkan perjalanan: turun bus lebih awal

Georgia Blackwood, dari Dudley di West Midlands, membangun kebiasaan berjalan melalui penyesuaian kecil saat menggunakan transportasi umum. Ia memilih untuk turun bus beberapa halte lebih cepat dan berjalan sisanya, terutama ketika ada kesempatan dibanding menggunakan bus untuk perjalanan yang lebih singkat.

Georgia menjelaskan caranya dengan sangat praktis: “Getting on and off the bus a couple of stops early or later is how I get my steps in,” katanya. Ia juga menyampaikan bahwa ia “also walk instead of getting buses for shorter journeys.”

Pendekatan ini membantunya tetap aktif tanpa harus menyisihkan waktu tambahan khusus. “My town centre is about four stops away from me so I walk there, then I do my shopping and load my backpack and carry it back so I’m doing weights too.”

Mencari pasangan jalan agar lebih mudah konsisten

Bagi Barry Nicholson, 51 tahun, berjalan kaki terasa paling mudah dilakukan ketika ada teman—khususnya beagle miliknya yang energik, Max. Ia menyatakan, “Thirty minutes of walking per day is fairly simple for a dog owner,” dan menuturkan rutinitasnya sendiri: ia berjalan bersama Max selama 45 menit setiap hari, “come rain or shine,” dan terkadang lebih lama pada akhir pekan.

Ia menekankan bahwa kepemilikan anjing dapat menjadi pendorong kuat untuk keluar rumah. “Having a dog is one of the biggest tips – once you know you’ve got the responsibility to keep him exercised, keep him entertained, then you have the motivation to go out.”

Barry biasanya membawa Max saat pagi sebelum bekerja dan juga pada sore hari. Ia memanfaatkan ruang hijau di Bury St Edmunds, Suffolk, tempat tinggalnya, termasuk “many parks and forests” di sekitarnya.

Mengubah aktivitas harian menjadi peluang berjalan

Geoffrey Murrell, 82 tahun, bahkan mempertanyakan batasan aktivitas yang bisa dihitung sebagai berjalan: “Does shopping count?” Ia mengatakan ia dan istrinya, Carole—keduanya 82 tahun—mencapai setidaknya 4,500 langkah per hari melalui tugas-tugas harian seperti berbelanja dan berpindah di dalam kota.

Ia menyebut pendekatan mereka tidak bergantung pada kendaraan. “We don’t have a car,” kata Geoffrey. “Anywhere we go, we walk – we’re on legs!”

Mereka biasanya berjalan kaki menuju Bedford untuk belanja makanan, atau menaiki bus menuju Milton Keynes sebelum berjalan di sekitar pusat perbelanjaan. Kadang, mereka menyempatkan diri untuk ngobrol dengan tetangga atau berjalan-jalan di sepanjang sungai untuk melihat angsa. Geoffrey juga menyampaikan bahwa ia menjalani perawatan untuk bladder cancer dan memiliki diabetes, dan pada hari-hari tertentu ia berjalan lebih jauh untuk menghadiri janji rumah sakit.

Mengaitkan jalan kaki dengan perjalanan kerja

Sophie O’Sheen, 31 tahun, berbagi bahwa ia menjadikan rute kerja sebagai bagian dari rutinitas berjalan. “My walk to work is a two and a half mile journey,” ujarnya. Perjalanan itu “takes me roughly 45 minutes.”

Baginya, berjalan memberi kesempatan untuk meredakan ketegangan sebelum dan sesudah kerja sekaligus tetap terhubung melalui telepon keluarga. Ia mengatakan, “Walking is a great way for me to decompress before and after work and also speak on the phone to my family whilst doing some form of exercise.”

Sophie juga melihat jalan kaki sebagai jeda untuk memproses pikiran. “It gives her headspace to think through ideas and have some time alone to reflect on things.” Ia menambahkan, “We’re so busy these days in this modern age, you don’t get that time just to yourself,” dan menegaskan bahwa berjalan harian menawarkan ruang bagi dirinya sendiri: “You can just have that time and it’s your time. It feels like it’s a bit more for you.”

Jalan kaki sebagai penawar rasa kesepian

Violet Black, dari Edinburgh, Skotlandia, memandang jalan kaki dapat menjadi “an antidote to isolation and loneliness”. Ia menasihati, “Anyone who struggles being on their own, you never feel worse for going out walking,”

Violet mulai berjalan sejak pensiun pada usia 61 tahun. Ia menyebut berjalan lima mil setiap hari, kecuali saat kondisi bersalju atau kondisi es. Ia juga berbagi perspektifnya tentang perubahan yang orang lain lihat padanya: “I’m constantly told that I look years younger [but it’s] not always what I think when I consult the mirror!”

Menjaga konsistensi meski cuaca tidak mendukung

Daphnyan Gordon, dari Craigavon di County Armagh, Irlandia Utara, menggunakan walking pad di rumah ketika ia seharusnya melewatkan berjalan di luar ruangan. Ia menuturkan situasi yang membuatnya tetap bergerak: “Today I was going to go for a walk and it started to drizzle a bit so I thought I’d go on my walking pad.”

Menurutnya, langkah itu menghilangkan alasan untuk bersikap sedentari. “It takes the excuse away to be sedentary so you don’t have a reason not to walk,” katanya, lalu menambahkan, “You can put your favourite show on and walk for the duration – sometimes an hour.” Ia menutup dengan catatan, “It’s not the outdoors but it’s still a good way to move.”

Gambaran dari para pembaca itu konsisten pada satu hal: kebiasaan lebih mudah terbentuk ketika jalan kaki ditempatkan di tempat yang sudah ada dalam rutinitas harian. Dengan membagi waktu, menyesuaikan transportasi, melibatkan teman, atau memanfaatkan perangkat di rumah saat cuaca berubah, 30 menit dapat menjadi bagian yang terasa natural.