Hukum & Kriminal

Zhang Zhidong, lulusan asal China, didakwa jadi “raja fentanyl” Meksiko

×

Zhang Zhidong, lulusan asal China, didakwa jadi “raja fentanyl” Meksiko

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: The Chinese graduate accused of becoming Mexico's 'fentanyl king'

jurnalistik.co.id – Zhang Zhidong, warga China yang diduga menjadi “raja fentanyl” di Meksiko, kini menunggu proses persidangan setelah dituduh terlibat dalam perdagangan narkotika dan pencucian uang. Penelusuran menyorot bagaimana hubungan di China, jalur pasokan bahan kimia, hingga jaringan di Meksiko diklaim saling terhubung di balik sosok yang oleh aparat AS disebut sebagai tokoh kunci.

Menurut catatan penegakan hukum AS, figur yang dikenal sebagai “Brother Wang” merupakan nama yang dikaitkan dengan Zhang Zhidong. Enrique—sebutan yang digunakan untuk melindungi identitasnya—menggambarkan peran “Brother Wang” dengan nada yakin, “Brother Wang was very important. He was number one,” katanya.

Enrique menyebut dirinya sebagai koordinator tingkat tinggi di Kartel Sinaloa. Ia berbicara dari pinggiran Culiacán, ibu kota negara bagian Sinaloa, sambil memastikan tak ada orang lain yang mendengar, untuk menjelaskan dugaan alur pengiriman bahan-bahan pembuatan fentanyl dari pabrik-pabrik di China menuju laboratorium di Meksiko.

Dalam kerangka tuduhan, bahan pencipta fentanyl disebut dikirim ribuan mil dari China ke Meksiko. Setelah bahan tersebut tiba, jaringan kartel diklaim menyalurkannya kepada para “fentanyl cooks” yang mengolahnya di laboratorium terselubung.

Fentanyl sendiri adalah opioid sintetis yang dilaporkan 50 kali lebih kuat daripada heroin. Zat ini disebut menewaskan puluhan ribu orang setiap tahun, terutama di Amerika Serikat, dan dosis yang sangat kecil—“a dose as small as a few grains of salt can be lethal”—bisa berakibat fatal.

Dalam konteks kebijakan, Presiden Donald Trump menyebut para dealer fentanyl sebagai “narco-terrorists”. Ia juga mengklasifikasikan obat tersebut dan komponennya sebagai weapons of mass destruction, serta menjadikan perdagangan fentanyl sebagai alasan penerapan tarif terhadap China, Meksiko, dan Kanada.

Ketika Zhang Zhidong muncul di pengadilan New York pada 2025, Todd Blanche—pada saat itu menjabat sebagai Deputi Jaksa Agung—mengatakan ia termasuk di antara “the world’s most dangerous traffickers”. Blanche menuduh Zhang “running a global enterprise that pumped massive quantities of cocaine, fentanyl, and methamphetamine” serta melakukan pencucian uang “millions in narcotics proceeds”.

Zhang mengaku tidak bersalah dan kini menunggu persidangan. BBC menyebut pengacaranya tidak bersedia berkomentar selama perkara masih berlangsung.

Jejak pendidikan dan perjalanan ke Meksiko

Dari sisi riwayat yang dikaitkan dengan Zhang, ia lulusan Peking University di Beijing. Ia disebut meraih gelar bahasa Spanyol pada 2010, lalu setahun kemudian pergi ke Meksiko untuk bekerja pada perusahaan milik warga China yang menambang bijih besi.

Sejumlah orang yang pernah mengenal Zhang ketika itu menggambarkan dirinya sebagai profesional muda yang cepat beradaptasi. Alex—nama samaran—mengatakan Zhang mampu menavigasi situasi beragam, “He was capable of negotiating with people, very resourceful, and able to adapt to all kinds of environments,”

Alex menuturkan Zhang berbicara bahasa Spanyol dengan sangat baik, termasuk naluri untuk bahasa jalanan, serta kemampuan berbicara dengan siapa pun. Ia menambahkan ciri khas itu selalu membawa aksen Beijing yang kuat.

Alex juga menceritakan bahwa pada awal tinggalnya di Meksiko, Zhang bekerja di perusahaan tambang yang dimiliki orang China. Ia menyebut proses berbisnis di Meksiko kerap bersinggungan dengan dunia bawah, termasuk kartel yang mengendalikan area-area besar di negara tersebut.

Dalam penilaiannya, Zhang membangun relasi dengan pihak yang dianggap “mesti ada” di tingkat lokal. Alex merangkum dengan kalimat, “whoever mattered locally – both the official side and the unofficial side”.

Mereka yang mengenal Zhang menggambarkan dirinya menyukai unsur risiko. Alex mengingat peristiwa ketika Zhang menabrakkan mobil atasannya tanpa terlalu mengkhawatirkan konsekuensi, lalu suatu malam mengajak Alex keluar kota untuk menembakkan pistol ke rambu-rambu jalan di jalan raya yang sepi.

Pada 2013, perusahaan tambang itu runtuh. Alex kembali ke China, tetapi Zhang memilih bertahan di Meksiko.

Setahun atau dua tahun kemudian, Alex mengaku Zhang mulai memposting di grup alumni bahasa Spanyol Peking University di WeChat, menawarkan penukaran dolar dengan kurs yang lebih menguntungkan. Alex percaya langkah tersebut berkaitan dengan pencucian uang.

Dari tuduhan keterlibatan hingga pertalian ke dalam jaringan

Selain mengaitkan Zhang dengan jalur pasokan, Enrique menyebut bahwa Zhang juga diduga terlibat dalam urusan narkotika. Dokumen pengadilan AS menggambarkan Zhang menjalankan “a massive narcotics trafficking and money laundering organization” sejak Juni 2016.

Enrique juga menyusun dugaan bahwa Zhang menjalin hubungan romantis dengan kerabat perempuan dari salah satu pemimpin kartel. Ia mengemukakan bahwa kedekatan itu membantu Zhang masuk ke lingkar terdalam kelompok.

Dalam cerita lain yang disampaikan oleh Luis—nama samaran—Zhang mula-mula hadir sebagai figur yang menawarkan “produk” kepada orang-orang kartel. Luis mengingat siang yang terik pada 2019, ketika atasannya memintanya berjaga di lokasi pertemuan.

Menurut Luis, Zhang “came to offer his products”. Ia menyebut “produk” tersebut adalah precursors, yakni bahan kimia pembentuk yang dibutuhkan untuk memproduksi fentanyl.

Menurut Luis, Zhang pada akhirnya menjadi sosok yang secara efektif memperkenalkannya pada fentanyl dan memulai sisi usaha tersebut. Luis kemudian menjadi “fentanyl cook” yang mengolah zat itu di laboratorium gelap.

Ia mengaku menyaksikan sedikitnya lima orang “cooks” lain meninggal di hadapannya. Luis menduga kematian-kematian itu terjadi karena zat yang ditangani merembes lewat celah pada perlengkapan pelindung mereka.

“Sometimes people just pass out, and we have to carry them out of the room,” ujar Luis.

Rantai pasok dari China ke Sinaloa

Enrique menggambarkan “Brother Wang” sebagai penggagas alur yang membuat rantai pasokan itu berjalan. Dalam pandangannya, bahan kimia dikirimkan dari China ke laboratorium di Meksiko dalam jarak yang jauh.

“Kartel” kemudian—dalam versi yang ia sampaikan—memberikan kredit kepada “Brother Wang” atas terbentuknya skema tersebut. Luis menambahkan rincian teknis: pesanan precursors ditempatkan kepada Zhang, dan Zhang menggunakan kontaknya di China untuk mengamankan bahan.

Setelah itu, bahan-bahan kimia dikirim ke Meksiko melalui jalur udara atau laut, menurut Enrique. Luis juga menyebut jaringan mereka lalu membagikan bahan tersebut kepada para cook di laboratorium ilegal di Sinaloa.

Saat ditanya apakah ia merasa bersalah karena beroperasi di industri yang menimbulkan begitu banyak korban, Enrique menjawab dengan nada getir. “It shakes your conscience,” katanya, lalu menambahkan, “work is work and we don’t know another way to make a living”.

Dalam kesempatan yang sama, Luis mengaku pernah mencoba berhenti bekerja di laboratorium. Namun atasannya mengatakan alternatifnya adalah keluar patroli.

Menurut Luis, atasannya memberi pilihan tegas: “You put on the vest, the gear, and you go out and fight – it’s either that or working as a cook.”

Di sisi lain, lembaga keamanan Meksiko menuduh Zhang menjalankan operasi ilegal yang menjangkau Amerika, Eropa, China, dan Jepang. Aparat Meksiko juga menuduh Zhang bertanggung jawab mengekspor dan mendistribusikan lebih dari 1.000kg kokain, 1.800kg fentanyl, dan 600kg sabu.

Tuduhan itu juga mencakup penanganan lebih dari $150 juta dari hasil penjualan narkotika per tahun.

Peran perantara dan posisi unik di tiga kawasan

Victoria Dittmar, peneliti di InSight Crime, mengaku telah bertahun-tahun menelusuri pergerakan bahan kimia precursors menuju Meksiko. Ia menyebut para “brokers”—peran yang disinggung dalam laporan—berada pada titik penting yang menghubungkan produsen kimia dengan kartel.

Dittmar menilai orang dengan jangkauan seperti yang dikaitkan kepada Zhang “quite unique” dan “are key to the supply chain”. Ia mengatakan, “He was a broker that connected Mexican trafficking organisations with Chinese suppliers of precursor chemicals,” dan menambahkan bahwa menyisir peran seperti itu bagi pihak luar sangat sulit.

Dittmar juga menekankan kehadiran Zhang di Amerika Serikat. “He also had a huge presence in the US,” katanya. Ia menambahkan, “You don’t see that often… one person that can connect three regions.”

Dari penangkapan hingga pelarian yang menghebohkan

Menurut cerita yang dihimpun, keterlibatan Zhang dalam perdagangan narkotika diduga berakhir mendadak saat ia ditangkap di Meksiko pada 31 Oktober 2024. Seorang hakim disebut mengambil keputusan kontroversial untuk menempatkan Zhang dalam tahanan rumah.

Tetapi, menurut laporan, Zhang berhasil lolos—disebut melalui lubang di dinding—lalu melarikan diri dengan jet pribadi ke Kuba, kemudian ke Rusia. Pejabat perbatasan Rusia mendeteksi dokumen palsu, sehingga Zhang dikembalikan ke Kuba.

Setelah Kuba menyerahkannya kembali ke Meksiko, Zhang kemudian diekstradisi ke Amerika Serikat. Penangkapan ini disebut menjadi sorotan luas di berbagai negara, dan kalangan alumni Peking University—tempat Zhang pernah belajar bahasa Spanyol—terkejut.

Alex mengatakan semua orang membicarakannya. Ia menggambarkan kisah itu sebagai cerita yang mengejutkan dan menyebut Zhang kemungkinan termasuk salah satu figur paling terkenal yang lahir dari Peking University.

Di Culiacán, sesama anggota kartel menyatakan ketidakhadiran Zhang langsung terasa. Luis berkata menjadi “really hard to get the precursors”. Enrique menilai situasi berubah drastis karena kartel harus memulai dari awal.

“They took the man and that caused a mess,” kata Enrique. Ia juga menyatakan Zhang adalah “the one with the connections” di China, dan akibatnya kartel harus “start from scratch and build a new route”.

Hubungan tuduhan AS dengan ekosistem di China

Departemen Kehakiman AS menerbitkan rilis pers pada 2025 yang merinci dakwaan terhadap Zhang. Selain dituduh melakukan perdagangan narkotika, rilis itu menyebut ia merekrut orang untuk membuka rekening bank atas nama lebih dari 100 perusahaan cangkang.

Rilis tersebut menyatakan bahwa orang-orang yang direkrut akan mengambil uang di berbagai lokasi di Amerika Serikat, lalu “deposit that money into the shell company bank accounts, and wire the funds to other beneficiary accounts to be laundered outside of the United States”.

Di ujung lain operasi yang dituduhkan, China disebut berperan sebagai salah satu produsen dan eksportir utama precursors kimia untuk membuat narkotika sintetis. Laporan Departemen Luar Negeri AS 2025 menyebut industri kimia China “massive”, memiliki 160.000 perusahaan, dan meski ada langkah kontrol, pengawasan dinilai “insufficiently staffed and equipped”.

Atas pertanyaan BBC, Kedutaan Besar China di Washington menyatakan China adalah “one of the world’s toughest countries on counternarcotics”. Kedutaan juga menekankan bahwa China menjadwalkan semua zat terkait fentanyl pada 2019, sehingga dikendalikan ketat oleh pemerintah.

Kedutaan menyebut zat-zat tersebut tidak dilarang sepenuhnya karena beberapa di antaranya memiliki penggunaan yang sah di berbagai industri. Mereka menambahkan kerja sama penanggulangan narkotika China dengan AS “extensive and in-depth” dan “highly productive”.