Olahraga

Wimbledon 2026: Jannik Sinner Bertekad Mempertahankan Gelar Tunggal Putra Hadapi Alexander Zverev

×

Wimbledon 2026: Jannik Sinner Bertekad Mempertahankan Gelar Tunggal Putra Hadapi Alexander Zverev

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Wimbledon 2026: Jannik Sinner bids to retain men's title against Alexander Zverev

jurnalistik.co.id – Jannik Sinner melangkah ke partai puncak Wimbledon 2026 dengan satu target jelas: mempertahankan gelar tunggal putra yang ia raih musim lalu. Namun, lawan yang menunggu di seberang jaring bukan sekadar nama besar, melainkan Alexander Zverev yang kini datang dengan modal kepercayaan diri baru setelah mengunci trofi French Open.

Sinner, yang berstatus petenis peringkat satu dunia, menargetkan menjadi petenis putra kesepuluh di era Open yang mampu mempertahankan gelar Wimbledon. Ia pernah mengangkat piala untuk pertama kalinya musim panas lalu, setelah mengalahkan Carlos Alcaraz. Di duel-duel sebelumnya melawan Zverev, rekor Sinner sangat meyakinkan: ia menang di masing-masing dari sembilan pertemuan terakhir mereka, dan dari enam pertemuan terakhir tersebut, Sinner tidak pernah kehilangan satu set pun.

Meski demikian, Sinner menegaskan bahwa keyakinannya tidak berarti membuatnya lengah. Bagi petenis Italia itu, Zverev adalah tantangan yang berbeda dibanding masa-masa sebelumnya. Ia mengakui bahwa keberhasilan Zverev merebut Grand Slam di Paris memberi dorongan psikologis yang besar.

“Whatever happened in the past between me and him, it happened. In between, he won a Grand Slam in Paris, which gave him a lot of confidence,” kata Sinner. “He is a tough player to play against. He was before, but now even more. He’s very relaxed on court at the moment. I will try to do the best I can but it’s going to be very, very tough – very different than all the other matches we have played.”

Dalam cara pandang itu, Wimbledon menjadi panggung yang mempertemukan dua momentum. Di satu sisi, Sinner datang dengan rangkaian performa yang tajam dan stabil. Di sisi lain, Zverev membawa cerita panjang tentang pencarian gelar besar yang selama ini terus tertahan, sampai akhirnya terjawab lewat kemenangan di French Open.

Zverev merebut kemenangan atas Flavio Cobolli pada final Roland Garros, yang sekaligus mengantarinya terhindar dari label “terbaik yang belum pernah juara major”. Ia melakukannya pada penampilannya yang ke-41 di ajang Grand Slam. Setelah itu, Zverev menekankan fokusnya bukan pada masa lalu, melainkan pada langkah berikutnya. Ia menyatakan, “I stay focused. I stay hungry. I want more. I want to continue playing at the best level and continue winning. On Sunday I have another big chance.”

Ia juga menambahkan, “Once you win a major you know how to do it and you feel like you can do it again. You have this feeling inside of you.”

Bagi Zverev, partai puncak Wimbledon kali ini juga membawa tujuan bersejarah: menjadi orang pertama di era Open yang meraih major kedua secara beruntun setelah kemenangan pertamanya. Ia juga punya catatan unik terkait rumput. Zverev belum pernah menjuarai gelar level tur di lapangan rumput, dan bila ia akhirnya mengangkat trofi Wimbledon, ia akan menjadi hanya pemain keempat di era Open yang meraih gelar major pertamanya tepat di Wimbledon.

Dari sisi statistik turnamen, Wimbledon 2026 bagi Zverev bahkan tercatat sebagai Grand Slam dengan jumlah kemenangan pertandingan paling minim dalam kariernya. Ia juga menjadi satu-satunya major yang pada tahun lalu membuatnya tersingkir di babak pertama. Artinya, final kali ini seperti halaman baru: bukan sekadar peluang, melainkan kesempatan untuk mengubah pola perjalanan yang selama ini tampak berlawanan.

Sementara itu, Sinner menatap peluang meraih gelar Grand Slam kelimanya setelah tampil dominan dalam upayanya menghentikan laju Novak Djokovic. Pada Jumat lalu, Sinner meruntuhkan rencana Djokovic untuk mengejar major ke-25 dengan performa yang sangat meyakinkan dalam dua set langsung, dan kemenangan itu sekaligus menempatkan Sinner di ambang kejayaan.

Menariknya, penampilan Sinner menuju Wimbledon tidak datang tanpa ujian. Ia tidak bermain sejak tersingkir lebih awal di French Open. Di turnamen tersebut, ia harus menerima kekalahan mengejutkan dari Juan Manuel Cerundolo setelah memimpin dua set dan 5-1. Dalam kondisi panas yang menekan, Sinner gagal mempertahankan keunggulannya. Namun, Sinner kembali merespons tekanan—seperti yang terjadi setelah kekalahan telak dari Alcaraz di final French Open setahun sebelumnya—dan kali ini ia kembali berada di momen menentukan.

Sejak awal musim 2024, Sinner mencapai tujuh final Grand Slam. Pada kalender 2026, ia memimpin tur untuk jumlah gelar tunggal terbanyak setelah meraih seluruh lima gelar Masters 1000, sebuah catatan yang menegaskan konsistensinya di level turnamen-terbesar lainnya.

Bila dilihat dari performa sepanjang musim, Sinner dan Zverev sama-sama termasuk pemain paling panas. Mereka menjadi dua nama yang mengumpulkan lebih dari 40 kemenangan pada 2026, dan catatan tersebut akan tercermin dalam peringkat. Zverev bahkan dijadwalkan naik ke peringkat dua dunia pada Senin.

Di sisi Wimbledon, perjalanan Zverev ke final turut menambah tekanan bagi Sinner. Zverev mengakhiri kisah wildcard Arthur Fery di babak semifinal dengan kemenangan straight set untuk kemenangan keempat beruntun dalam lima pertandingan terakhirnya. Ia pun mengakhiri rangkaian sembilan penampilan Grand Slam yang sebelumnya dimenangkan oleh Sinner atau Alcaraz, sehingga final kali ini terasa seperti jeda dari pola yang sebelumnya mendominasi turnamen besar.

Konfrontasi Sinner dan Zverev juga menyimpan detail teknis yang bisa menentukan. Keduanya memiliki kekuatan besar di servis; mereka sama-sama memenangkan lebih dari 90% dari game servis yang mereka mainkan. Namun, ada perbedaan kecil yang bisa jadi pembeda. Sinner mencatat persentase poin yang dimenangkannya dari servis pertama sebesar 85%, sementara ia juga unggul dalam jumlah ace, 113 berbanding 87.

Penilaian kualitas servis selama Kejuaraan menunjukkan Zverev sedikit lebih tinggi, yakni 9.2, dibanding Sinner yang 8.7. Kecepatan rata-rata servis juga menjadi area unggul Zverev: 133 mph pada servis pertama dan 118 mph pada servis kedua.

Meski unggul pada servis, Zverev akan menghadapi petenis yang mendapat pengakuan khusus dari Djokovic sebagai “returner” terbaik baru dalam tenis. Dalam metrik return pada periode Kejuaraan ini, Sinner tampil lebih baik di setiap aspek. Secara keseluruhan, kualitas return Sinner mencapai 8.1, sedangkan Zverev 7.3. Di detail pukulan, kualitas forehand Sinner berada di angka 8.5 dan backhand 8.2, sementara Zverev masing-masing 8.3 dan 8.1.

Final ini juga punya konteks pertemuan langsung yang menarik. Ini adalah pertemuan pertama mereka di Wimbledon, dan di lapangan rumput. Meski begitu, Sinner membawa rangkaian hasil positif: rekor kemenangan beruntunnya atas Zverev berawal pada US Open 2023, ketika Zverev sempat menang dalam pertandingan lima set. Di level Grand Slam sebelumnya, Sinner juga mengambil hasil terbaru dari pertemuan mereka saat final Australian Open tahun lalu.

Dengan semua faktor tersebut, Wimbledon 2026 menjadi laga yang bukan hanya menguji teknik, tetapi juga mental dan ritme. Sinner membawa statistik pertemuan yang kuat dan performa yang konsisten, tetapi Zverev datang dengan momentum setelah French Open dan tujuan yang sama-sama besar. Satu orang ingin mempertahankan gelar; yang lain ingin menulis sejarah. Dan di tengah semua itu, kemenangan akan ditentukan oleh siapa yang lebih tepat membaca momen saat tekanan meningkat di pertandingan paling penting.