Internasional

5 Negara NATO Tolak Rencana Pendanaan Wajib untuk Ukraina, Ini 3 Alasannya

0
×

5 Negara NATO Tolak Rencana Pendanaan Wajib untuk Ukraina, Ini 3 Alasannya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 3 Alasan 5 Negara NATO Ini Tolak Rencana Pendanaan Wajib untuk Ukraina

jurnalistik.co.id – LONDON — Inggris, Prancis, Spanyol, Italia, dan Kanada menolak proposal agar negara-negara anggota NATO menghabiskan 0,25% dari PDB mereka untuk bantuan militer kepada Ukraina. Laporan itu disampaikan The Telegraph, yang menyoroti bahwa gagasan pendanaan wajib tersebut belum mendapat sambutan luas di dalam aliansi.

Dalam laporan itu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte disebut masih berharap skema pendanaan wajib untuk Kiev bisa disetujui pada KTT blok tersebut di Ankara, Turki, pada 7-8 Juli. Namun, penolakan dari lima negara besar itu menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan bulat masih jauh dari mudah.

Proposal itu belum mendapat dukungan luas

Seorang sumber internal NATO mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa Inggris, Prancis, Spanyol, Italia, dan Kanada “tidak terlalu antusias dengan ide tersebut.” Pernyataan itu memperlihatkan bahwa keberatan terhadap usulan tersebut tidak datang dari satu negara saja, melainkan dari beberapa anggota penting yang memiliki bobot politik besar di dalam NATO.

The Telegraph juga melaporkan bahwa dari 32 negara anggota, proposal tersebut hanya didukung oleh tujuh negara. Ketujuh negara itu disebut sudah menghabiskan 0,25% atau lebih dari PDB mereka untuk membantu Ukraina. Artinya, dukungan yang ada saat ini belum menjangkau mayoritas anggota, dan justru lebih banyak datang dari negara-negara yang sejak awal telah mengalokasikan dana lebih besar untuk Kiev.

Menurut data dari Institut Kiel, Belanda, Polandia, serta negara-negara Nordik dan Baltik saat ini menghabiskan 0,25% atau lebih dari PDB mereka untuk mempersenjatai Kiev. Data itu menggambarkan bahwa beban bantuan militer kepada Ukraina memang sudah lebih dulu dipikul oleh sebagian anggota NATO, sementara negara lain belum menunjukkan kesiapan yang sama.

Di tengah perbedaan sikap itu, Rutte pekan lalu mengakui bahwa rencana tersebut tidak memiliki dukungan bulat di dalam NATO yang diperlukan agar dapat diterima. Pengakuan itu memperjelas bahwa usulan yang semula diharapkan bisa melaju ke tahap pembahasan formal ternyata masih menemui hambatan politik yang cukup besar.

“Saya rasa ini tidak akan diusulkan” di ibu kota Turki, katanya kepada wartawan. Ucapan itu menjadi sinyal paling jelas bahwa proposal pendanaan wajib tersebut kemungkinan belum akan masuk ke meja pembahasan di KTT Ankara seperti yang sebelumnya diharapkan.

Dukungan yang terpecah membuat target sulit dicapai

Penolakan dari Inggris, Prancis, Spanyol, Italia, dan Kanada menjadi penanda penting bahwa kesepakatan internal NATO belum terbentuk. Di satu sisi, ada negara-negara yang sudah terbiasa menyalurkan bantuan dalam skala besar kepada Ukraina. Di sisi lain, ada anggota yang belum bersedia mengikat diri pada kewajiban pendanaan dengan besaran tertentu.

Dengan hanya tujuh negara yang mendukung, proposal itu tampak masih berada pada tahap awal dan belum menunjukkan daya tarik politik yang cukup luas. The Telegraph menekankan bahwa negara-negara yang mendukung usulan tersebut adalah mereka yang sudah berada di level pengeluaran 0,25% atau lebih dari PDB untuk bantuan militer kepada Ukraina, sehingga dukungan datang dari pihak yang memang sudah lebih jauh terlibat.

Situasi ini membuat arah pembahasan di NATO menjadi lebih kompleks. Rencana yang bertujuan memastikan pendanaan bagi Ukraina justru memunculkan perbedaan pandangan di antara anggota-anggota utama aliansi, terutama ketika angka yang diusulkan bersifat wajib dan bukan sekadar sukarela.

Pada akhirnya, laporan The Telegraph menunjukkan bahwa harapan Rutte untuk mendapatkan persetujuan di Ankara masih dibayangi realitas politik di internal NATO. Selama belum ada dukungan bulat, usulan 0,25% PDB untuk bantuan militer ke Ukraina tampaknya tetap akan menjadi salah satu isu yang paling sulit disepakati dalam pertemuan aliansi tersebut.