Peristiwa

58 Jemaat Pontianak Dilarikan ke RS, Diduga Keracunan Makanan Seusai Kegiatan Gereja

0
×

58 Jemaat Pontianak Dilarikan ke RS, Diduga Keracunan Makanan Seusai Kegiatan Gereja

Sebarkan artikel ini
58 Jemaat di Pontianak Dilarikan ke RS, Diduga Keracunan Makanan Usai Kegiatan Gereja Regional 9 Juni 2026
Ilustrasi: 58 Jemaat di Pontianak Dilarikan ke RS, Diduga Keracunan Makanan Usai Kegiatan Gereja

jurnalistik.co.id – Puluhan warga yang mengikuti kegiatan keagamaan di Gereja Stella Maris, Pontianak, Kalimantan Barat, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi paket konsumsi yang dibagikan dalam kegiatan tersebut.

Hingga Selasa (9/6/2026), sebanyak 58 orang tercatat mendapatkan penanganan medis di RSUD Pontianak Utara. Direktur RSUD Pontianak Utara, drg Nuzulisa, menyebut keluhan para pasien tergolong hampir sama.

Menurut drg Nuzulisa, pasien datang dengan gejala seperti sakit kepala, nyeri perut, mual, muntah, diare hingga menggigil. Gelombang pasien mulai berdatangan sejak Senin (8/6/2026) pagi.

Dalam penelusuran tim medis, seluruh pasien diketahui menghadiri kegiatan keagamaan di Gereja Stella Maris pada Minggu (7/6/2026) sore dan menerima paket makanan. Drg Nuzulisa kemudian menjelaskan keterkaitan riwayat konsumsi dengan munculnya gejala.

“Kesamaan riwayat konsumsi serta gejala yang muncul membuat dugaan sementara mengarah pada kasus keracunan makanan,” kata Nuzulisa, Selasa (9/6/2026).

Hari pertama penanganan, rumah sakit menerima 50 pasien hingga pukul 23.00 WIB. Dari jumlah tersebut, 20 orang diperbolehkan pulang karena mengalami gejala ringan, sementara 28 pasien masih menjalani observasi di IGD.

Selain itu, dua pasien lainnya harus menjalani rawat inap. Pada tahap berikutnya, drg Nuzulisa menyampaikan bahwa kondisi sebagian korban masih dalam pemantauan tim medis.

Jumlah korban kemudian bertambah pada Selasa. Sebanyak 5 pasien datang pada pagi hari, sedangkan 3 pasien lainnya menyusul pada siang hari hingga total pasien yang mendapatkan layanan medis mencapai sekitar 58 orang.

“Sebagian masih menjalani observasi dan beberapa di antaranya dipersiapkan untuk perawatan inap,” ucap Nuzulisa.

Pemerintah Kota Pontianak bersama Dinas Kesehatan Kota Pontianak turut melakukan langkah penanganan dan investigasi terkait kejadian tersebut. Langkah investigasi dilakukan sembari memantau kondisi korban di fasilitas kesehatan.

Dalam rangka memastikan penyebab kejadian, sampel makanan yang diduga menjadi sumber keracunan telah dikirim ke laboratorium untuk diperiksa. Hasil pemeriksaan diharapkan dapat memberi kepastian tentang faktor yang memicu munculnya gejala pada para peserta.

Sementara menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, tim medis memfokuskan penanganan pada terapi suportif untuk para pasien. Penanganan yang diberikan berupa cairan infus dan obat-obatan untuk mengatasi nyeri, muntah, serta diare guna mencegah dehidrasi pada pasien.

Di sisi layanan pembiayaan, pihak rumah sakit memastikan seluruh biaya pengobatan korban akan ditanggung oleh Pemerintah Kota Pontianak. Kepastian tersebut disampaikan tanpa membedakan asal daerah pasien.

Drg Nuzulisa menjelaskan bahwa korban yang dirawat diketahui tidak hanya berasal dari Kota Pontianak. Sejumlah pasien juga tercatat berasal dari wilayah Jungkat, Kabupaten Mempawah, hingga Kecamatan Segedong.

Dengan demikian, rumah sakit terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan gejala pasien yang masih menjalani observasi. Pada saat yang sama, investigasi terkait sampel makanan tetap berjalan agar dugaan sementara dapat dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium.

Riwayat yang sama juga menjadi fokus penelusuran, karena seluruh pasien yang ditangani diketahui mengikuti kegiatan keagamaan di Gereja Stella Maris pada Minggu sore (7/6/2026) sebelum kemudian menerima paket makanan. Dari pola kedatangan yang berulang, keluhan mulai terdeteksi pada Senin (8/6/2026) dan berlanjut hingga Selasa (9/6/2026).

Di ruang layanan darurat, penanganan dilakukan berdasarkan tingkat keparahan gejala. Sebanyak 50 pasien tercatat datang pada hari pertama hingga pukul 23.00 WIB, dengan sebagian pasien yang menunjukkan keluhan lebih ringan diperbolehkan pulang, sementara lainnya tetap berada dalam pengawasan di IGD. Pada perkembangan berikutnya, beberapa pasien memerlukan perawatan lanjutan sehingga rumah sakit terus memantau kondisi korban yang belum selesai observasinya.

Untuk memastikan dugaan sementara, pihak rumah sakit dan Pemkot Pontianak melalui Dinas Kesehatan melaksanakan rangkaian investigasi sambil memantau keadaan pasien di fasilitas kesehatan. Sampel makanan yang diduga menjadi sumber keluhan kemudian dikirim ke laboratorium guna diperiksa, sedangkan terapi yang diberikan menekankan penanganan suportif seperti pemberian cairan infus serta obat untuk meredakan keluhan nyeri, muntah, dan diare agar risiko dehidrasi dapat dicegah. Dari sisi pembiayaan, seluruh biaya pengobatan korban ditanggung oleh Pemerintah Kota Pontianak tanpa membedakan asal daerah pasien.