Olahraga

Air mata Adam Ramsay-Peaty usai raih perunggu di Commonwealth Games 2026, gagal emas di Glasgow

×

Air mata Adam Ramsay-Peaty usai raih perunggu di Commonwealth Games 2026, gagal emas di Glasgow

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Commonwealth Games 2026: Adam Ramsay-Peaty in tears after bronze medal

jurnalistik.co.id – Adam Ramsay-Peaty menahan tangis setelah meraih medali perunggu pada nomor 100 meter gaya dada di Commonwealth Games 2026, di Glasgow. Ia tampak sangat terpukul, dengan kondisi wajah masih merah usai lomba, sebelum akhirnya memeluk istrinya, Holly, yang dinikahinya tahun lalu.

Perasaan itu muncul lagi setelah ia harus menerima kenyataan yang sama: gagal meraih emas di panggung besar, meski kali ini ia datang sebagai unggulan. Di nomor yang sekali lagi menjadi arena ambisinya, Ramsay-Peaty justru harus puas dengan perunggu, sekaligus mengulang frustasi yang pernah ia rasakan dua tahun sebelumnya.

“I work a lot harder than what it says on the scoreboard,” ujarnya setelah lomba. “It hurts too much. I have got to approach training differently now because it hurts too much.”

Dalam penjelasannya, Ramsay-Peaty menegaskan ia merasa usahanya tidak tercermin pada papan skor. Baginya, rasa sakit yang menyertai proses latihan dan penampilan saat kompetisi membuat ia perlu mengubah pendekatan, bukan sekadar mempertahankan rutinitas lama.

Ia bukanlah nama baru di tingkat elite. Ramsay-Peaty telah mengoleksi tiga medali emas Olimpiade, delapan gelar juara dunia, serta catatan 14 waktu tercepat dalam sejarah. Namun, rentetan prestasi itu tidak otomatis membuat momen seperti ini terasa lebih mudah untuk diterima.

Ia sempat mengambil jeda dari renang pada 2023, menyusul gelombang masalah kesehatan mental. Meski kembali ke kompetisi kelas dunia, ia masih mencari kembali sensasi untuk meraih hasil puncak—terutama ketika seluruh mata tertuju padanya di momen-momen besar.

Di Paris dua tahun lalu, ia juga “tertipis” dari emas Olimpiade. Di Glasgow, situasinya mirip: Ramsay-Peaty masuk final sebagai perenang dengan kualifikasi tercepat, tetapi tetap harus merelakan titel kepada orang lain.

Menurut jalannya pertandingan, yang menyingkirkan ambisi Ramsay-Peaty adalah Sam Williamson dari Australia. Selain itu, Filip Nowacki dari Jersey juga menjadi penghalang, sekaligus menorehkan sejarah dengan medali yang diraihnya di usia 18 tahun—seorang atlet yang selama ini ikut ia bimbing.

Ramsay-Peaty berada di urutan ketiga pada paruh lomba. Akan tetapi, ia tidak mampu menutup jarak ketika lomba memasuki fase penentu. “It took a lot of courage to get back into the sport, so we should be happy with everything we get, but then that contradicts the athlete inside me and what I work for,” katanya, sebelum menambahkan bahwa konflik batin itu justru terasa semakin tajam.

Di luar hasil di kolam renang, ia juga mengangkat persoalan yang menyertai status atlet kelas dunia: keputusan sulit yang harus diambil terus-menerus. Ia pernah berbicara tentang jarak dengan putranya, yang sempat ia dekap setelah ia meraih perak di Paris.

Ia menyebut bahwa ada banyak kegiatan di rumah yang tidak bisa ia jalani karena tuntutan kompetisi. “They are not even sacrifices; they are choices,” ucapnya.

Kalimat itu ia ilustrasikan dengan analogi rasa sakit ketika tim kuat tersingkir lebih cepat di fase grup. “It’s like getting knocked out in the group stages in the World Cup for a very good team. You know you’re better and it hurts because you know you have to wait for a very long time for the next championships.”

Ramsay-Peaty kemudian berbicara tentang batas waktu yang ia rasakan di kalender kompetisinya. “This is probably – realistically – my last Commonwealth Games and I thought I’d trained for better. I could do better. I’ve been faster this season. That’s where the frustration is.”

Walau kecewa, ia tetap menempatkan Olimpiade sebagai target utama yang belum selesai. Ia mengakui sempat mempertimbangkan pensiun setelah Paris, tetapi memutuskan bertahan untuk satu siklus lagi—empat tahun—ketika nomor 50 meter dimasukkan ke program Los Angeles 2028.

Nomor 100 meter gaya dada, dalam konteks kariernya, adalah andalannya. Ini juga merupakan lomba yang delapan tahun lamanya tidak pernah ia taklukkan. Akan tetapi, ia tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat ia perlu melepaskan nomor tersebut, jika tubuh tidak lagi mampu merespons tuntutan yang sama.

Ia menilai beban nomor 50 meter akan lebih ringan untuk tubuh dibanding 100 meter yang menuntut konsistensi lebih lama. “The 50m race – a dash down one length of the pool – would be less taxing on the body.”

Ia lantas mempertanyakan kelayakan nomor 100 meter dalam kondisi yang ia alami sekarang. “Is the 100 even viable any more? I don’t know,” katanya. “When it hurts like this, the 50 is probably my super strength with my power.”

Ia juga menegaskan bahwa rencana untuk Olimpiade kemungkinan lebih realistis di arah itu, tetapi terlalu dini untuk memastikan keputusan final. “With the Olympics, that’s probably going to be more realistic, but it’s too early to tell.”

Dari ekspresi yang muncul setelah lomba, tidak sulit untuk melihat bahwa Ramsay-Peaty berada di titik yang mempertemukan ambisi dan kelelahan. Ada saat-saat ketika seseorang bisa menduga ia mungkin berada di ambang untuk berhenti, namun ia selalu kembali pada tekad yang sama.

Ia menyatakan bahwa dorongan menuju LA tetap menjadi alasan utama, bahkan ketika hasil belum sesuai harapan. “Of course,” ujarnya. “I know I’m a sprinter. I know I can do very well because I’ve done it. It doesn’t disappear overnight.”

Bagi Ramsay-Peaty, tugas berikutnya bukan sekadar berharap, tetapi menata ulang rumus untuk menemukan kembali kecepatan yang pernah ia tunjukkan. “It requires me to look at the formula and see how I can get to that speed again.”

Kegagalan emas di Glasgow, bagi Ramsay-Peaty, bukan akhir dari cerita—melainkan sinyal bahwa perubahan diperlukan. Perunggu kali ini mungkin menjadi pelajaran yang memaksa ia menilai ulang latihan dan batas tubuhnya, sembari tetap bertahan pada tujuan yang ia yakini bisa diraih lagi di Olimpiade.