Hukum & Kriminal

Ancaman pemerkosaan di sekolah: siswi Tyneside bicara soal misogini yang mereka alami

×

Ancaman pemerkosaan di sekolah: siswi Tyneside bicara soal misogini yang mereka alami

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rape threats part of misogyny Tyneside schoolgirls face

jurnalistik.co.id – Sekelompok siswi remaja dari Tyneside mengatakan mereka merasa “worthless” dan “frightened” setelah kerap menghadapi misogini yang ekstrem, baik di sekolah maupun di ruang online. Mereka membuat sebuah film sebagai respons terhadap pengalaman bahasa yang mereka terima, di tengah perubahan kurikulum yang segera diterapkan.

Para siswi menggambarkan bahwa banyak komentar yang muncul terlalu eksplisit untuk dibagikan secara terbuka. Namun, mereka menyebut adanya ancaman kekerasan dan pemerkosaan yang sering dibungkus seolah itu hanya “banter”.

Salah satu siswi menceritakan dampak yang sangat mengganggu setelah “rape list” dibuat oleh anak laki-laki di sekolahnya. Ia mengatakan ia merasa “worthless” saat mengetahui daftar itu, termasuk cara anak laki-laki menempatkan siapa yang mereka inginkan sebagai target.

“Boys ordering girls, who they want to rape the most and then the least,” ungkapnya. Menurutnya, situasi tersebut membuatnya takut karena niat yang sebenarnya tidak bisa dipastikan.

“It is frightening because you don’t know people’s real intentions.” Kalimat itu menjadi gambaran ketidakamanan yang mereka rasakan setiap kali menghadapi bahasa-bahasa semacam itu.

Misogini, menurut penjelasan yang disampaikan dalam laporan ini, dipahami sebagai “a contempt for, hatred of or prejudice against women”. Definisi tersebut dipakai untuk menegaskan bahwa persoalan yang mereka hadapi bukan sekadar perundungan ringan, melainkan sikap dan prasangka yang merendahkan perempuan.

Bahasa kekerasan dinormalisasi

Catherine Marchant, CEO Impact Family Services di South Tyneside, menilai ada risiko bahwa pelecehan dan kekerasan menjadi tidak terlihat jika sikap misoginis dipandang sebagai hal yang normal. Ia menekankan bahwa kondisi itu bisa membuat anak muda tidak menyadari bentuk penyalahgunaan dalam kehidupan nyata.

“It’s very concerning for us because we’re seeing this across the region in all schools,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kini ia melihat remaja putri berusia 15, 16, 17 tahun mulai mengenali bahwa mereka telah mengalami kekerasan di hubungan pertama mereka.

Ia juga mengatakan, “They think this is what relationships are about.” Dalam pandangannya, pengaruh dari media dan percakapan online ikut membentuk cara mereka menilai relasi.

“They see it online, they hear it in music. If nobody calls this out and tells them it’s not right, they think this is how they should behave.”

Marchant menyampaikan bahwa dampak yang terlihat bukan hanya soal pandangan, melainkan juga pola kekerasan yang berulang. “We’re almost having 13-year-old girls being raped by 13-year-old boys,” katanya, sebelum menambahkan bahwa pemahaman mengenai batas yang tidak boleh dilanggar belum tersampaikan dengan jelas.

“But nobody’s told the girls that boys shouldn’t do that to them, and in some cases nobody’s told the boys that they shouldn’t.” Ia menegaskan pentingnya pendidikan untuk memutus siklus tersebut, dengan memulai dari cara anak muda memahami penyalahgunaan dan relasi yang sehat.

Para siswi menyusun film tersebut melalui kerja bersama This Life Collective, yang menyediakan dukungan dan layanan terapeutik bagi anak muda. Film itu juga disebut telah dibagikan kepada Department for Education dan Perdana Menteri Andy Burnham.

Director Sue Davison, guru spesialis dengan pengalaman 30 tahun di sekolah, mengaitkan perubahan bahasa dengan meningkatnya pengaruh maskulinitas toksik dari figur di media sosial. Ia menyebut bahwa dinamika tersebut dapat memengaruhi anak laki-laki yang tidak memiliki posisi kuat di lingkungan mereka.

“I think the language is getting more violent and aggressive,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa banyak anak laki-laki lain tidak ikut melakukan perilaku tersebut, namun tetap merasa tidak nyaman ketika melihatnya terjadi.

“There are huge numbers of boys who do not take part in this behaviour and they are really made uncomfortable by it.” Davison kemudian menyoroti bahwa bahasa tetap bisa berbahaya, tetapi ada kemungkinan yang lebih ekstrem dari sebagian kecil yang lain.

“We’re talking to the girls about nine out of 10 boys would never take this further than language, which is bad enough, but it’s that one possibly out of 10 that might.” Menurutnya, film ini seharusnya diperlihatkan di sekolah-sekolah agar percakapan yang lebih sehat bisa dibangun.

Strategi bertahan dan pergeseran relasi

Para siswi mengatakan mereka mengubah perilaku secara teratur untuk merasa lebih aman. Mereka menyebut menghindari kerumunan anak laki-laki dan tetap bersama saat keluar pada malam hari.

“It shouldn’t have to be like that,” kata salah satu dari mereka. Ia menegaskan keinginannya berjalan pulang dengan cara yang cepat tanpa rasa takut.

“I should just be able to walk home the quick way.” Namun ia mengungkapkan bahwa ia justru sering memilih rute yang lebih panjang demi memastikan ada orang di sekitarnya bila terjadi sesuatu.

“But I’d prefer to take the long way round just so I know if anything was to happen, there were people there.” Ia menjelaskan bahwa tindakan itu terasa seperti refleks yang tak disadari.

“It’s just like an instinct. You just do it, because it’s like fight or flight.”

Mereka berharap film tersebut dapat menantang sikap yang keliru serta mendorong ruang diskusi di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Dr Alex Bower, peneliti yang berfokus pada maskulinitas, ketimpangan, dan pendidikan, mendirikan Boys’ Impact, sebuah jaringan yang menargetkan peningkatan peluang bagi anak laki-laki dari latar kelas pekerja. Ia memuji keberanian para siswi untuk berbagi pengalaman, serta menilai bahwa pekerjaan lanjutan perlu dilakukan bersama anak laki-laki dan remaja putra.

Ia mengatakan dibutuhkan upaya untuk “create a hopeful, values-based expectation for the type of dad, mate and romantic partner they can”. Dalam penilaiannya, pesan mengenai pemberdayaan untuk perempuan sudah jelas selama puluhan tahun, tetapi anak laki-laki tidak mendapat narasi yang sepadan.

“What we haven’t done is created a parallel narrative for boys and young men surrounding what a happy, healthy, successful future looks like for them,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ruang kosong itu kemudian diisi oleh aktor-aktor online yang mempromosikan narasi versi mereka tentang “manhood” yang dianggap sukses.

“Instead, we’ve left a void, one which has been filled with nefarious online actors peddling their own narratives surrounding what a successful manhood looks like.”

Ia juga mengkritik kecenderungan intervensi sekolah yang sering berawal dari asumsi bahwa ada “something inherently wrong with being a boy”. Menurutnya, percakapan seharusnya mengarah pada jenis laki-laki seperti apa yang mereka dambakan, sekaligus dukungan agar mereka dapat mencapainya.

Pemerintah: kurikulum RSHE mulai September

Pihak pemerintah menyatakan langkah yang “taking bold and decisive action to halve violence against women and girls” sebagai salah satu tantangan paling mendesak. Juru bicara pemerintah menyebut komitmen £16m untuk uji coba intervensi terarah di sekolah.

Ia menambahkan bahwa mulai September, setiap sekolah akan menerapkan kurikulum Relationships, Sex and Health Education (RSHE) yang mencakup pengajaran tentang hubungan yang sehat serta perilaku berbahaya.