jurnalistik.co.id – Wakil Menteri Luar Negeri sekaligus Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta menyampaikan pandangannya bahwa kekacauan politik dan sosial dapat terjadi di mana pun, termasuk pada negara-negara yang selama ini dipandang telah memiliki demokrasi yang mapan.
Pernyataan itu ia sampaikan saat memberikan pembekalan dalam Bimbingan Teknis Nasional (Bimteknas) Partai Gelora pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Perbandingan dua peristiwa
Anis Matta membandingkan peristiwa pendudukan Kompleks DPR/MPR oleh mahasiswa pada masa reformasi 1998 dengan penyerbuan Gedung Kongres Amerika Serikat oleh massa pendukung Presiden Donald Trump pada 2021.
Menurutnya, perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa krisis politik dan sosial bisa muncul bahkan di negara maju yang selama ini dianggap “aman” dari gejolak besar. Ia menegaskan hal itu melalui penjelasan yang menautkan dua momen sejarah secara langsung.
“Termasuk di negara paling maju yang selama ini kita pikir tidak akan mengalami hal kekacauan seperti yang pernah kita alami di sini. Dulu tahun 1998 para mahasiswa menguasai parlemen di Senayan ya, naik ke atapnya Gedung MPR. Tahun 2021 rakyat Amerika juga menguasai gedung Kongres Amerika, persis sama dengan yang terjadi di Indonesia tahun 1998,” kata Anis saat menyampaikan pembekalan.
Ia melanjutkan dengan menekankan bahwa berbagai gejolak yang muncul di banyak negara menjadi bagian dari realitas yang tengah dialami saat ini, bukan sekadar kejadian di masa lalu.
“Saya enggak tahu waktu itu kita diprovokasi untuk menguasai parlemen atau sekarang orang Amerika belajar dari mahasiswa Indonesia, tapi kita menyaksikan semua krisis ini sedang terjadi,” ujarnya.
Krisis global dan posisi Partai Gelora
Dalam kerangka tersebut, Anis Matta mengatakan bahwa banyak negara saat ini menghadapi krisis dan ketidakpastian, sehingga dinamika politik dan sosial yang tidak stabil dapat berulang dengan berbagai bentuk.
Ia juga menyinggung pembentukan Partai Gelora sebagai kekuatan politik baru yang diharapkan mampu memberikan solusi bagi Indonesia di tengah dinamika global yang terus bergerak.
Anis Matta menyatakan bahwa Partai Gelora ingin mengambil peran sebagai “navigator” untuk membantu Indonesia merespons tantangan dunia yang kian kompleks.
“Partai ini memang diniatkan sebagai kekuatan politik baru yang ingin mewakafkan dirinya menjadi solusi bagi bangsa Indonesia, menjadi navigator Indonesia di tengah krisis global yang sangat besar ini,” tutur Anis.
Ia berharap, Indonesia dapat melewati berbagai tantangan global dan pada akhirnya keluar sebagai negara yang lebih kuat pada masa mendatang.
“Mudah-mudahan kapal besar yang namanya Indonesia ini bukan hanya bisa melampaui badai besar yang sedang terjadi, tapi juga nanti insyaallah bisa berlabuh di tempat yang tinggi dengan selamat,” pungkasnya.
Dalam pembekalan tersebut, Anis Matta menekankan bahwa yang membuat situasi rapuh bukan semata usia demokrasi suatu negara, melainkan kemungkinan munculnya guncangan politik dan sosial ketika dinamika masyarakat bertemu dengan perebutan pengaruh terhadap institusi penting. Ia menggarisbawahi bahwa pola krisis dapat berulang, meski bentuknya tampak berbeda.
Ia memandang, peristiwa yang terjadi pada 1998 di Indonesia dan kejadian pada 2021 di Amerika Serikat menunjukkan keterkaitan antara pelajaran historis dan situasi yang sedang berlangsung. Karena itu, pesan yang ia sampaikan tidak ingin terjebak pada pandangan bahwa gejolak hanya milik masa lalu, melainkan mengajak peserta memahami bahwa ketegangan semacam itu bisa kembali hadir saat dunia bergerak ke arah yang tidak pasti.
Di sisi lain, Anis menempatkan Partai Gelora sebagai pihak yang berupaya memberi arah dalam menghadapi kondisi tersebut. Melalui niat menjadi “navigator”, Partai Gelora diharapkan dapat mendorong langkah pemecahan masalah yang relevan bagi Indonesia, sehingga “kapal besar” bernama Indonesia dapat menempuh badai dengan lebih terarah dan pada akhirnya berlabuh dengan selamat di masa mendatang.












