Hukum & Kriminal

Angela Tanoesodibjo Minta Legislator Perindo Lebih Peka Usai Pengeroyokan di Bali

×

Angela Tanoesodibjo Minta Legislator Perindo Lebih Peka Usai Pengeroyokan di Bali

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Berkaca Kasus Pengeroyokan di Bali, Legislator Perindo Diminta Peka Masalah Masyarakat

jurnalistik.co.id – Ketua Umum Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Angela Tanoesudibjo meminta seluruh legislator dan kader partainya di berbagai daerah untuk lebih peka terhadap dinamika serta permasalahan yang muncul di tengah masyarakat.

Permintaan itu disampaikan Angela menyusul keprihatinannya atas kasus pengeroyokan di Bali yang merenggut nyawa seorang ayah.

Dalam Bimtek Perindo 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Menteng, Senin (27/7/2026), Angela menegaskan bahwa perhatian Perindo tidak berhenti pada proses hukum semata, namun juga harus menyentuh realitas sosial yang dialami warga.

Ia menyatakan, “Saya enggak bicara soal motifnya di sini, saya enggak bicara soal kasus hukumnya di sini, semua lagi berproses tentunya dengan pihak yang berwenang. Cuma kita tidak bisa mengabaikan ada satu hal penting di sini, bahwa ada nyawa yang hilang, ada seorang anak yang kehilangan ayahnya.”

Menurut Angela, kehilangan nyawa dalam suatu peristiwa tidak boleh dianggap sebagai persoalan yang selesai hanya di ruang persidangan atau laporan aparat.

Ia mengingatkan bahwa ada dampak langsung yang dirasakan keluarga korban, termasuk anak yang kehilangan sosok ayah.

Angela lantas mengarahkan para pejabat publik yang diusung Perindo untuk tidak hanya mengikuti perkembangan perkara, tetapi juga hadir secara nyata untuk masyarakat.

Baginya, sikap peka itu berarti memahami kondisi warga di lapangan dan memastikan respons politik serta program hadir ketika problem sosial terjadi.

Angela juga menyinggung bahwa kasus-kasus serupa dapat terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, namun tidak semuanya mendapat sorotan hingga tingkat nasional.

Karena itu, ia menekankan agar wakil rakyat Perindo merespons persoalan di daerahnya masing-masing dengan lebih serius dan tidak menunggu perhatian publik luas.

Ia menyampaikan, “Kita harus bisa lebih peka terhadap kondisi masyarakat kita. Kita harus bisa lebih peka terhadap apa yang terjadi di tengah masyarakat kita, di wilayah Bapak Ibu masing-masing,”

Ajakan tersebut, lanjut Angela, dimaksudkan agar jabatan tidak hanya dipandang sebagai posisi administratif, melainkan tugas kepemimpinan yang terhubung dengan kebutuhan warga.

Angela mendorong para legislator untuk terus bekerja dan menjadi sosok pemimpin yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat, bukan sekadar figur pejabat publik.

Ia menegaskan, “Karena masyarakat, Bapak Ibu, bukan butuh pejabat hari ini, masyarakat butuh pemimpin yang turun bekerja, mendengar, dan terus memberikan solusi,” kata Angela.

Dengan narasi itu, Angela menempatkan kepekaan sosial sebagai bagian dari karakter politik yang diharapkan tumbuh pada kader Perindo di berbagai tingkatan.

Ia juga mengarahkan agar komunikasi dan kehadiran di tengah masyarakat tidak berhenti pada momentum tertentu, tetapi berlanjut dalam bentuk upaya mendengarkan serta mencari jalan keluar atas persoalan yang nyata.

Melalui pernyataan tersebut, Angela menegaskan pentingnya memastikan kader dan legislator memiliki kepekaan yang tidak hanya berkaitan dengan proses hukum, melainkan juga pada sisi kemanusiaan yang menyertai setiap peristiwa.

Ia menutup dengan harapan agar wakil rakyat Perindo memperkuat perannya sebagai pemimpin yang turun langsung, serta menjadikan dinamika sosial sebagai rujukan dalam kerja-kerja politik yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Angela menekankan agar setiap kader Perindo menempatkan empati sebagai dasar sikap politik, sehingga perhatian tidak berhenti pada jalannya perkara. Ia ingin para legislator mampu memandang peristiwa yang menimpa warga sebagai persoalan yang berdampak langsung pada kehidupan keluarga, terutama anak yang kehilangan sosok ayah.

Angela juga mengingatkan bahwa tanggung jawab wakil rakyat berangkat dari kedekatan dengan realitas di wilayah masing-masing. Kepekaan tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan lewat cara mendengar keluhan masyarakat secara berkelanjutan, lalu menyesuaikan respons, program, dan komunikasi publik agar hadir ketika problem sosial muncul.