jurnalistik.co.id – Bahasa sering dianggap sekadar alat menyampaikan informasi. Namun, dalam praktiknya, pilihan kata juga ikut menentukan bagaimana seseorang dipahami—bahkan sebelum pendengar sempat menimbang konteks yang lebih luas.
Dalam sebuah pernyataan yang beredar, frasa bernuansa sapaan dipakai untuk menyebut seorang pejabat perempuan. Kalimat itu terdengar ringan, tetapi justru memperlihatkan cara identitas dibangun lewat hubungan antarkata dan situasi tutur.
Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni, dalam sebuah ungkapan kepada Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, mengatakan, “Tante cantik ini, yang siap menerima kunjungan dari para lelaki yang ada di republik ini,”. Kalimat tersebut kerap dibaca sebagai candaan. Akan tetapi, bila ditelusuri lebih hati-hati, ada persoalan kebahasaan yang bekerja di dalamnya.
Pada lapisan pertama, tidak ada kata yang terdengar kasar bila dilihat secara leksikal. Kata “tante”, misalnya, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kakak atau adik perempuan dari ayah atau ibu, sekaligus menjadi sapaan bagi perempuan yang lebih tua. Sementara “cantik” adalah kata sifat yang dipakai untuk menyatakan keelokan rupa.
Jika setiap unsur dipisahkan, frasa seperti “menerima kunjungan” juga tampak wajar. Secara denotatif, ungkapan itu berarti menerima tamu. Jadi, pada level arti kata per kata, tidak tampak muatan yang langsung menyinggung.
Masalahnya, makna tidak berhenti pada daftar arti kamus. Makna lahir ketika kata-kata itu ditempatkan dalam konstruksi tertentu, diiringi konteks pemakaian, serta pengetahuan bersama antara penutur dan pendengar.
Di sinilah analisis linguistik menjadi penting. Saussure dalam Course in General Linguistics (1916) menjelaskan bahwa makna suatu tanda bahasa ditentukan oleh relasinya dengan tanda lain dalam suatu sistem. Dengan kata lain, sebuah kata dapat memperoleh “nilai” yang berbeda ketika disusun dalam konteks yang berbeda.
Pada ujaran tersebut, “tante” tidak hanya hadir sebagai sapaan kekerabatan. Ia berubah fungsi menjadi kategori identitas yang menempel pada orang yang disebut. Pergeseran ini terjadi karena kata “tante” tidak berdiri sendiri, melainkan dirangkaikan dengan kata sifat “cantik” serta struktur kalimat yang mengarah pada cara posisi subjek diperlakukan.
Alih-alih mengaktifkan identitas kelembagaan sebagai gubernur, bahasa justru mengaktifkan identitas personal yang dipusatkan pada citra perempuan. Identitas yang muncul kemudian menempatkan penilaian terhadap penampilan sebagai elemen yang lebih menonjol daripada otoritas jabatan.
Konstruksi kata mengubah nilai identitas
Secara gramatikal, “tante” berperan sebagai nomina, sedangkan “cantik” adalah adjektiva yang menerangkan nomina tersebut. Secara sederhana, struktur ini tampak seperti cara biasa untuk memberi penilaian. Namun, dalam situasi tuturan seperti itu, keterkaitan antara nomina dan adjektiva membuat “tante” bergeser dari fungsi sapaan keluarga ke label sosial.
Berita Terkait
Pergeseran ini makin kuat karena “cantik” tidak hanya menggambarkan rupa, tetapi juga membawa kerangka penilaian yang spesifik. Ketika “tante” ditempelkan pada “cantik”, yang bekerja bukan lagi hubungan kekerabatan, melainkan penempatan seseorang ke dalam kategori sosial berdasarkan atribut tertentu.
Dengan demikian, ujaran tersebut tidak sekadar memuat kata-kata yang tampak netral. Hubungan antar kata membuat makna lebih “mengarah”, sehingga identitas yang dipanggil menjadi identitas yang berbasis personalitas, bukan identitas institusional.
Implikasinya dapat terlihat dalam cara pendengar cenderung menafsirkan orang yang disapa. Alih-alih membaca sosok Sherly Tjoanda terutama sebagai pejabat yang menjalankan peran institusionalnya, pembacaan yang mengemuka adalah bagaimana seorang perempuan dinilai melalui penampilan yang dilekatkan oleh frasa sapaan.
Jika tujuan ungkapan adalah menyampaikan pesan mengenai kunjungan, bagian kalimat tentang “menerima kunjungan” tetap hadir. Namun, di antara unsur-unsur itu, pilihan kata pembuka membentuk bingkai: subjek kalimat diposisikan lebih dulu sebagai “tante” yang “cantik”, sebelum aspek lain dari peran publiknya masuk sebagai rujukan utama.
Karena itu, candaan semacam ini tidak otomatis menjadi persoalan kecil. Ia menunjukkan bahwa bahasa mampu memproduksi cara pandang, dan cara pandang itu dapat menggeser fokus dari posisi formal ke karakter personal.
Makna yang dibentuk tidak berdiri pada satu kata saja, melainkan pada keseluruhan hubungan dalam kalimat. Prinsip Saussure tentang relasi tanda memperkuat gagasan ini: nilai kata berubah ketika ia disatukan dalam sistem makna yang lebih besar.
Dalam kerangka tersebut, “tante” menjadi lebih dari sekadar sapaan. Ia berubah menjadi kategori identitas yang menempel pada tubuh dan citra, sementara peran jabatan justru tidak mendapatkan porsi yang sama untuk menentukan cara subjek dipahami.
Oleh sebab itu, meskipun tidak ada kosa kata yang secara langsung terdengar kasar, keseluruhan konstruksi tetap menyampaikan pesan yang lain. Pesan itu menyangkut bagaimana seorang pejabat perempuan “diperlakukan” oleh bahasa: bukan terutama lewat kapasitas institusional, melainkan lewat identitas personal yang dibingkai melalui penilaian rupa.
Di titik ini, analisis kategori kata menjadi relevan bukan untuk mencari kesalahan semata. Ia membantu memperlihatkan bahwa pilihan kata memegang peran dalam membentuk identitas yang ditampilkan di depan, serta identitas yang tersisih di belakang.
Kalimat “Tante cantik ini, yang siap menerima kunjungan dari para lelaki yang ada di republik ini,” akhirnya dapat dibaca sebagai contoh bagaimana bahasa bekerja melampaui arti kamus. Ia menunjukkan bahwa makna dapat bergerak dari hubungan leksikal ke penandaan sosial—ketika kata-kata disusun, konteks hadir, dan pengetahuan bersama mengarahkan pembacaan.
Dengan begitu, persoalan yang muncul bukan sekadar pada “tante” atau “cantik” sebagai kata-kata yang berdiri sendiri. Persoalannya ada pada hubungan antar kata, pada konstruksi kalimat, dan pada cara keseluruhan ujaran menggeser identitas yang seharusnya relevan dalam konteks jabatan.
Jika bahasa mampu mengubah fokus dari lembaga ke personal, maka membaca pilihan kata menjadi langkah penting dalam memahami bagaimana masyarakat memandang seseorang. Dari sini, tampak bahwa bahasa tak hanya mencerminkan realitas, tetapi juga turut membentuk cara identitas dikenali dan diprioritaskan.












