jurnalistik.co.id – Stasiun televisi ANTV yang dikelola PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) dikabarkan sempat menunggak pembayaran honor sejumlah artis. Salah satu nama yang disebut adalah Inul Daratista.
Keluhan tersebut muncul dari unggahan di Instagram Inul Daratista dengan akun @inul.d. Dalam unggahan itu, Inul menyampaikan kekesalan karena honor yang disebutnya mencapai miliaran rupiah belum dibayar. Ia menyoroti keterlambatan pembayaran yang sempat menjadi perhatian publik.
Inul diketahui mengunggah keluhan tersebut sekitar tiga hari sebelum pernyataan berikutnya. Setelah itu, ia menyampaikan kabar bahwa persoalan honor telah terselesaikan.
Perubahan informasi dari Inul memperlihatkan bahwa isu tunggakan pembayaran sempat berada di ruang publik, namun kemudian ada penyelesaian yang ia klaim telah terjadi. Meski begitu, kabar mengenai keterlambatan honor artis tetap menjadi sorotan seiring pemberitaan yang menyebut ANTV menunggak kewajiban tersebut.
Di sisi lain, kondisi keuangan MDIA juga disebut masih mengalami tekanan. Dalam laporan keuangan yang tercermin hingga periode Maret 2026, MDIA mencatat kerugian sebesar Rp8,31 miliar per Maret 2026.
Meski angka rugi bersih tersebut lebih kecil dibanding kuartal I-2025 yang mencapai Rp58,31 miliar, MDIA tetap berada dalam situasi yang belum sepenuhnya pulih. Penurunan kerugian tidak otomatis menghapus tekanan yang dihadapi perusahaan, terutama ketika kewajiban lain masih tersisa.
Pemberitaan juga menyinggung bahwa MDIA masih menanggung utang dalam jumlah yang tidak sedikit. Informasi ini menjadi konteks penting ketika isu penundaan pembayaran honor muncul, karena menggambarkan bahwa persoalan finansial perusahaan masih menjadi bagian dari narasi yang beredar.
Berita Terkait
Selain itu, dalam headline yang menyertai kabar tersebut, MDIA disebut menghadapi PKPU bernilai triliunan. Penyebutan proses PKPU tersebut menambah dimensi lain pada pembahasan mengenai kesehatan finansial perusahaan dan tantangan yang tengah dihadapi.
Rentetan kabar yang muncul menunjukkan bahwa dinamika pembayaran honor dan kondisi keuangan perusahaan berjalan beriringan dalam perhatian publik. Pada kasus yang disampaikan Inul Daratista, informasi yang dipertukarkan melalui unggahan Instagram memberikan gambaran bahwa komunikasi terkait honor sempat berlangsung dan kemudian berujung pada penyelesaian menurut pengakuannya.
Meski demikian, angka kinerja keuangan yang disebut dalam pemberitaan tetap menjadi penanda bahwa MDIA masih berada di fase yang membutuhkan perbaikan berkelanjutan. Kerugian Rp8,31 miliar per Maret 2026, meski lebih rendah dari kuartal I-2025, tetap menunjukkan perusahaan belum mencatat performa positif.
Dengan latar tersebut, penyebutan utang yang masih besar dan rujukan adanya PKPU bernilai triliunan turut memperkuat konteks bahwa tantangan perusahaan tidak hanya berhenti pada isu pembayaran kepada pihak eksternal. Perusahaan disebut masih menghadapi tekanan struktural yang berhubungan dengan kewajiban dan proses penataan yang tengah berlangsung.
Keseluruhan informasi ini menggambarkan bagaimana kabar tunggakan honor artis dan data kerugian keuangan MDIA saling melengkapi dalam pemberitaan. Sementara Inul menyebut honor sempat belum dibayar dan kemudian mengaku sudah dilunasi, laporan kerugian serta penanggungan utang tetap menjadi bagian dari narasi yang menyertai sorotan publik terhadap ANTV dan MDIA.
Dalam rangkaian pemberitaan yang disorot publik, unggahan Inul Daratista di Instagram menjadi titik awal yang menggambarkan adanya keterlambatan pembayaran honor. Setelah kurun waktu singkat, Inul lalu membagikan pembaruan bahwa persoalan yang sebelumnya ia keluhkan akhirnya selesai. Urutan perubahan informasi tersebut membuat isu yang sempat viral kemudian bergeser menjadi pembahasan mengenai bagaimana penyelesaian dijalankan setelah perhatian publik memuncak.
Di saat yang sama, konteks keuangan perusahaan yang disebut dalam laporan menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya muncul dari satu permasalahan eksternal. MDIA juga digambarkan masih menanggung beban kewajiban yang besar, termasuk adanya penyebutan utang dan proses penataan melalui PKPU bernilai triliunan. Dengan latar itu, isu penundaan pembayaran honor ikut ditempatkan sebagai bagian dari dinamika yang lebih luas, ketika kemampuan perusahaan memenuhi berbagai kewajiban menjadi sorotan.
Meski Inul menyatakan honor yang dikabarkan sempat belum dibayar kemudian telah dilunasi, gambaran kondisi finansial perusahaan tetap menjadi penanda bahwa perbaikan belum sepenuhnya menutup tantangan. Penurunan kerugian yang disebut dari kuartal I-2025 ke periode Maret 2026 memang memperlihatkan perubahan angka, tetapi tidak menghapus narasi mengenai adanya kewajiban yang masih tersisa dan proses yang masih berjalan.









