jurnalistik.co.id – GLOBAL — Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan semakin dekat untuk mencapai kesepakatan yang akan membuka kembali Selat Hormuz. Informasi itu disampaikan sejumlah pejabat senior AS pada Minggu (24/5), namun Presiden Donald Trump menegaskan dirinya tidak akan “terburu-buru” dalam meresmikan perjanjian tersebut. Perkembangan ini menandai adanya ruang kemajuan dalam pembicaraan yang selama beberapa pekan terakhir berjalan naik-turun, di tengah upaya kedua pihak mencari formula yang bisa diterima bersama.
Meski demikian, para pejabat AS mengatakan belum ada berkas yang siap ditandatangani pada hari itu. Negosiasi masih berputar pada susunan kalimat yang tepat untuk sejumlah isu yang dianggap krusial, dan proses itu diperkirakan masih membutuhkan beberapa hari lagi sebelum keputusan akhir bisa dicapai. Dengan kata lain, kedekatan menuju kesepakatan belum berarti naskah final sudah aman dari perubahan, karena setiap frasa masih menjadi bagian dari perundingan yang sensitif.
Trump sendiri memberi sinyal bahwa proses tersebut belum akan dipercepat. Pernyataannya menegaskan bahwa Washington belum ingin memaksakan penutupan pembicaraan hanya demi menghasilkan pengumuman cepat. Sikap itu memperlihatkan bahwa AS masih menyisakan ruang untuk menimbang isi kesepakatan secara lebih hati-hati, sementara pembicaraan terus berjalan di belakang layar. Dalam situasi seperti ini, tempo diplomasi tetap ditentukan oleh apakah kedua pihak bisa menyamakan posisi pada poin-poin yang paling sulit.
Negosiasi masih alot
Di sisi lain, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa draf kesepakatan tersebut masih berpotensi gagal. Menurut laporan itu, AS dinilai menghambat beberapa klausul penting, termasuk tuntutan Teheran agar aset-aset mereka yang dibekukan segera dicairkan. Artinya, meskipun pembicaraan disebut mendekati titik temu, terdapat perbedaan yang masih cukup tajam pada isi perjanjian yang sedang dibahas. Posisi kedua pihak belum benar-benar menyatu, terutama pada isu-isu yang menyentuh kepentingan inti masing-masing.
Atas dorongan beberapa pemimpin negara Arab, AS dan Iran juga terus mendiskusikan kemungkinan perpanjangan gencatan senjata yang saat ini masih rapuh. Kendati begitu, kedua pihak disebut memberikan gambaran yang berbeda mengenai poin-poin yang akan dimasukkan ke dalam kesepakatan sementara tersebut. Perbedaan pandangan itu membuat proses negosiasi bergerak dalam jalur yang tidak selalu searah, karena setiap kemajuan kecil masih harus melewati pembahasan detail sebelum bisa dianggap final.
Dalam beberapa pekan terakhir, AS dan Iran sudah mengusulkan sejumlah draf perjanjian, tetapi belum juga berhasil mencapai titik temu. Situasi ini menunjukkan bahwa pembicaraan tidak hanya soal membuka kembali Selat Hormuz, melainkan juga soal mencari rumusan yang dapat menjaga agar kesepakatan sementara tetap bertahan. Selama susunan kalimat, klausul kunci, dan tuntutan masing-masing pihak belum disepakati, peluang perubahan masih terbuka lebar.
Dengan latar seperti itu, kabar bahwa kedua negara semakin dekat tetap dibaca dengan hati-hati. Ada kemajuan yang diakui, tetapi ada pula banyak detail yang belum beres, sehingga prosesnya masih rentan tergelincir. Selama naskah final belum siap dan seluruh klausul belum disetujui, pembicaraan AS-Iran akan terus berada di antara harapan tercapainya kesepakatan dan kemungkinan mandek di tengah jalan.
Situasi ini juga menunjukkan bahwa setiap kemajuan kecil dalam diplomasi belum tentu langsung menghasilkan hasil yang bisa diumumkan ke publik. Selama masih ada perbedaan pada klausul inti, terutama yang menyangkut kepentingan Iran dan kehati-hatian AS, proses perundingan akan tetap berada dalam fase rawan. Karena itu, pembahasan yang berlangsung saat ini lebih tepat dipandang sebagai upaya merapikan kemungkinan kesepakatan, bukan sebagai tanda bahwa semua persoalan sudah selesai.
Pada akhirnya, arah negosiasi akan sangat ditentukan oleh apakah kedua pihak bisa menemukan rumusan yang tidak hanya terdengar kompromistis, tetapi juga cukup kuat untuk dipertahankan setelah disepakati. Itulah sebabnya pernyataan soal kedekatan kesepakatan masih dibarengi sikap hati-hati dari Washington dan peringatan dari pihak Iran bahwa draf yang ada masih bisa gagal. Selama titik temu belum benar-benar tercapai, pembicaraan ini tetap akan dibaca sebagai proses yang bergerak maju, namun belum sepenuhnya aman dari kemunduran.












