jurnalistik.co.id – Kebakaran hutan yang melanda wilayah Los Gallardos, Almería, di selatan Spanyol, telah menewaskan sedikitnya 12 orang dan membuat 23 orang lainnya dinyatakan hilang. Kebakaran ini terus diupayakan untuk dikendalikan aparat darat maupun udara pada Jumat (10 Juli 2026), setelah api mulai meluas sejak Kamis sore.
Menurut pejabat setempat, titik awal api tampak muncul setelah sebuah tiang listrik tumbang di kawasan hutan dan memicu kebakaran. Dari sana, nyala api menyebar di area Los Gallardos dalam waktu yang dinilai saksi amat cepat.
Sejumlah saksi mata menggambarkan dampak kebakaran sebagai sesuatu yang datang seperti bencana beruntun. “like a bomb has fallen,” kata beberapa warga terkait apa yang mereka saksikan di kotamadya tersebut.
Di Bédar, Lucinda Curtois bersama pasangan Riyaz Cheytan dan dua anak remaja mereka sedang berada di kolam renang ketika tetangga menyampaikan pemberitahuan evakuasi sekitar pukul 19:00 waktu setempat. Curtois kemudian menceritakan urutan perubahan yang terjadi di langit sekitar mereka.
“Within 15 minutes there was a tiny bit of haze, to black smoke, to flames,” tutur Curtois kepada BBC. Ia menambahkan, “It was really frightening and unbelievably quick.”
Setelah mendapat peringatan, keluarga itu segera meraih pakaian ganti dan masuk ke mobil untuk menuju jalan utama dekat properti. “We turned the corner and all of a sudden the fire was there, there were two coaches of people evacuating too,” ujar Cheytan.
Keadaan memaksa mereka memutar arah dan mencari rute lain. Curtois mengatakan ketika mereka menjauh dari lokasi, asapnya terlihat seperti gambaran kehancuran yang sulit dilupakan. Ia menyebut, “it was almost like there was a mushroom cloud of smoke, it was like a bomb had gone off”.
Dengan kondisi tersebut, keluarga akhirnya mencapai sebuah hotel sekitar setengah jam dari lokasi sebelum kebakaran semakin dekat. Namun, mereka juga menyampaikan bahwa beberapa sahabat keluarga yang sempat berjalan kaki untuk evakuasi saat ini masih dinyatakan hilang.
Pengalaman serupa juga disampaikan Peter Chapman yang berada bersama istrinya, Shelagh, di rumah liburan mereka di Mojácar. Ia mengatakan awalnya melihat langit menggelap dan mengira cuaca akan berubah menjadi badai, sebelum kemudian mencium asap.
“Then there was that smell of smoke in the air,” kata Chapman kepada BBC. Ia menuturkan bahwa dari kejauhan tampak kilau di langit, yang membuat situasi terasa tak wajar. “You could see a glow in the sky in the distance.”
Chapman menggambarkan bagaimana ia mencoba mencari analogi untuk menjelaskan suasananya. “The only way I can describe it is by thinking of how my mother used to describe the London bombings during the Second World War. It was surreal.”
Berita Terkait
Pada Kamis malam, pasangan itu tetap berada di properti. Namun, pada Jumat pagi mereka terbangun dengan keadaan udara dipenuhi abu dan asap.
Chapman juga menyebut bahwa di sebuah forum Facebook lokal, banyak orang saling meminta informasi mengenai kemungkinan orang-orang yang belum ditemukan. “It’s just terrible,” tambahnya.
Di Los Gallardos sendiri, Peter Rowlinson mengatakan ia mengapresiasi upaya otoritas dalam upaya mengendalikan kebakaran, tetapi menekankan bahwa pengalaman yang dialaminya tetap sangat menegangkan. Ia menggambarkan situasinya sebagai “very frightening.”
Rowlinson menceritakan bahwa ia dan keluarganya harus pergi pada malam sebelumnya. “We left last night, the smoke was horrendous. We had to get out. The house is still there but there is ash everywhere,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa kebakaran membuat perpindahan besar-besaran. Ia menuturkan, “hundreds” orang terpaksa mengungsi, sementara sebagian warga lokal menawarkan kamar cadangan, hingga menyediakan tempat di bar dan restoran. “There’s a real sense of community in the whole area,” kata Rowlinson.
Andrew Mills, yang semi-pensiunan dan pindah ke Spanyol lima tahun lalu, mengatakan bahwa kebakaran hutan memang kerap terjadi pada musim panas. Namun, menurutnya kali ini berbeda karena penyebarannya sulit dihentikan.
Ia menekankan perbedaan kecepatan perkembangan api. “within two hours that whole set of mountains was alight, they just had no chance of stopping it,” tuturnya.
Kerugian juga datang dalam bentuk yang sangat personal. Jose Antonio Flores, warga Los Gallardos yang menyaksikan lahan yang selama puluhan tahun ia rawat ditelan api, menggambarkan dampaknya dengan bahasa yang menyentuh. Ia berkata, “It rips your soul out”.
Flores juga menunjukkan keterhubungan keluarganya dengan tanah yang terbakar. “I raised him there, where the fire is. I had 600 orange trees,” ucapnya seraya menunjuk anaknya.
Sepanjang Jumat, ratusan petugas pemadam, personel militer, dan aparat penegak hukum terus merespons kebakaran. Operasi juga melibatkan 30 pesawat untuk mendukung upaya pemadaman dan penanganan di lapangan.
Wali kota Los Gallardos, Francisco Miguel Reyes, mengatakan ini adalah pertama kalinya pihaknya menghadapi kebakaran dengan tingkat kehancuran serupa. Ia menyampaikan, “This is the first time we’ve faced a fire as devastating as this,” dan menambahkan bahwa bagi wilayah tersebut rasanya “it feels like a bomb has fallen”.
Reyes juga menyinggung perubahan drastis antara kondisi sebelum api dan keadaan setelahnya. “When I think about how everything was before the fire started and see how it is now, it’s breathtaking,” katanya kepada stasiun radio Spanyol Cadena SER.












