Internasional

AS-Iran Makin Dekat Damai, Harga Minyak Dunia Turun

0
×

AS-Iran Makin Dekat Damai, Harga Minyak Dunia Turun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: AS-Iran Kian Dekat Menuju Damai, Harga Minyak Dunia Turun - Energi

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Harga minyak mentah dunia melemah pada pembukaan perdagangan awal pekan ini, seiring Amerika Serikat dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan damai. Tekanan di pasar energi muncul ketika pelaku pasar membaca tanda-tanda meredanya ketegangan geopolitik yang sejak beberapa waktu terakhir menjadi pendorong utama pergerakan harga minyak.

Minyak mentah Brent, yang menjadi patokan harga global, sempat merosot hingga 4,2% ke level US$99,16 per barel. Penurunan itu memperpanjang pelemahan setelah pada pekan lalu harga Brent juga sudah turun lebih dari 5%. Adapun West Texas Intermediate atau WTI ikut tergelincir ke kisaran US$92 per barel.

Di tengah pergerakan harga tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa blokade militer Washington di Selat Hormuz akan tetap berlaku sampai seluruh poin perjanjian resmi diselesaikan. Melalui unggahannya di media sosial, Trump mengatakan dirinya tidak akan “terburu-buru” menandatangani kesepakatan yang disebutnya “belum sepenuhnya dinegosiasikan.”

Sejumlah pejabat senior AS juga menyampaikan bahwa kesepakatan akhir dari kedua pihak kemungkinan masih memerlukan waktu beberapa hari ke depan. Meski pembicaraan disebut mengalami kemajuan, belum ada kejelasan mengenai bagaimana sejumlah isu penting akan diselesaikan. Isu itu mencakup nasib program nuklir Iran serta tuntutan Teheran agar sanksi ekonomi dilonggarkan.

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, bahkan melaporkan bahwa rancangan kesepakatan tersebut masih berpotensi gagal. Dalam laporannya, Tasnim menyebut AS dinilai menghambat beberapa klausul penting, termasuk desakan Iran agar aset-aset mereka yang dibekukan segera dicairkan. Situasi ini membuat pasar tetap berhati-hati, meski sinyal damai mulai terlihat lebih nyata dibanding sebelumnya.

Pergerakan harga minyak juga tidak bisa dilepaskan dari gejolak besar yang sudah mengguncang pasar energi global sejak Februari lalu. Saat itu, AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran. Konflik kemudian meluas cepat ke kawasan Teluk Persia dan merusak berbagai infrastruktur minyak serta gas.

Dampaknya, para produsen regional terpaksa menghentikan pasokan jutaan barel minyak mentah setiap harinya. Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi penghubung kawasan tersebut dengan pasar dunia, juga sempat mengalami blokade ganda. Situasi itu terjadi baik dari pihak Teheran maupun Washington, sehingga pasar energi global berada dalam tekanan besar.

Meski harga minyak sedang menurun mengikuti kabar meredanya ketegangan, pasar belum sepenuhnya lepas dari risiko. Selama pembahasan kesepakatan masih menyisakan banyak pertanyaan, terutama soal program nuklir Iran dan pelonggaran sanksi, arah harga minyak tetap berpotensi bergerak liar mengikuti perkembangan diplomasi kedua negara.

Bagi pelaku pasar, penurunan ini menunjukkan bahwa premi risiko yang selama ini menempel pada minyak mulai terkikis ketika peluang meredanya konflik terlihat lebih besar. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk memicu optimisme penuh karena sentimen pasar masih sangat bergantung pada setiap perkembangan dari meja perundingan.

Selama belum ada kesepakatan yang benar-benar final, harga minyak berpotensi terus bergerak dalam pola yang sensitif terhadap berita-berita diplomatik. Setiap sinyal kemajuan dapat menekan harga lebih jauh, tetapi setiap tanda kegagalan juga bisa dengan cepat memulihkan kekhawatiran dan mendorong pembelian kembali oleh pelaku pasar.

Dengan demikian, arah pergerakan minyak dalam waktu dekat masih akan ditentukan oleh seberapa jauh kedua pihak mampu menuntaskan perbedaan yang tersisa. Selama pertanyaan-pertanyaan utama belum terjawab, pasar energi kemungkinan tetap berada dalam posisi menunggu, sambil mencermati apakah kabar damai benar-benar berujung pada kepastian.