jurnalistik.co.id – Atrianil (63), yang akrab disapa Bu Ijah, mengakhiri masa baktinya sebagai guru honorer pada 23 Juni 2026. Ia tercatat mengajar di sebuah SMK swasta di kawasan Jakarta Barat selama 31 tahun.
Dalam pengabdian 40 tahun itu, namanya mendadak ramai diperbincangkan di media sosial setelah ia mengunggah video yang memperlihatkan amplop gaji terakhir. Di video tersebut, angka Rp 414.000 tertulis sebagai upah yang ia terima pada akhir pengabdiannya.
Pelajaran yang ia bawa ke kelas tidak hanya berkisar pada materi akuntansi. Di berbagai kesempatan, ia juga dikenal sebagai sosok yang menempatkan ruang kelas sebagai bagian dari perjalanan hidup para muridnya.
Pada momen yang berbeda, Atrianil juga menunjukkan karya novel berjudul Lentera Putih. Ia memperlihatkan novel itu di kawasan Cipondoh, Tangerang, pada Minggu (28/6/2026).
Menurut Atrianil, pilihannya untuk bertahan selama 40 tahun tidak lahir dari ketidaktahuan terhadap peluang pekerjaan lain. Ia menyebut keputusan tersebut muncul karena panggilan nurani.
Ia mengatakan pola pikirnya mulai terbentuk sejak pertama kali merantau dari Payakumbuh ke Jakarta pada 1994. Dari pengalaman itu, ia mengaku terkejut menyaksikan kerasnya realitas kemiskinan di ibu kota.
Ia menuturkan, “Ibu kaget pas sampai Jakarta. Kok ada manusia yang tidur di jalanan, kok ada orang tidur di kolong jembatan? Padahal kita sama-sama manusia. Akhirnya seiring berjalannya waktu, ternyata murid Ibu sendiri ada yang tinggal di kolong jembatan,”.
Ia kemudian melihat kelas bukan sekadar tempat mentransfer ilmu akuntansi, melainkan “tempat pulang” bagi para siswanya. Karena itu, ia beberapa kali melakukan kunjungan ke rumah siswa untuk memahami kehidupan mereka secara langsung.
Dalam kunjungannya, Atrianil mendapati kondisi yang sulit dibayangkan dari jarak sekolah. Ia pernah menanyakan satu murid yang tinggal di kontrakan petak dengan tujuh anggota keluarga, lalu mendapat jawaban, “kami tidur gantian”.
Ia juga menceritakan pengalamannya mendengar cara bertahan dari teman guru. Ada rekan guru yang mengganjal perut lapar dengan memperbanyak minum teh manis.
Dari cerita-cerita tersebut, Atrianil membatin dengan nada yang mengandung keterpihakan. Ia mengatakan, “Ya Allah ini guru Jakarta lho, bagaimana yang di pelosok?”.
Selama perjalanan kariernya, Atrianil tidak menutup kemungkinan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun, ia memilih tetap menjadi honorer karena menolak berkompromi dengan praktik suap.
Ia menyebut, pada awal tahun 2000-an ia pernah ditawari posisi PNS dengan syarat membayar uang pelicin sebesar Rp 5 juta. Walau keluarganya memiliki kepedulian dan sanggup membantu pembiayaan, bahkan bila tarifnya mencapai puluhan juta rupiah, ia tetap memilih untuk menolak.
Dengan keputusan yang ia pertahankan sejak masa merantau dan bertumbuh bersama pengalaman di rumah-rumah muridnya, Atrianil akhirnya menutup pengabdiannya pada 23 Juni 2026. Seluruh catatan yang menjadi sorotan publik berpusat pada gaji terakhirnya, yakni Rp 414.000, yang ia tampilkan dalam unggahan video tersebut.
Di akhir pengabdiannya pada 23 Juni 2026, Atrianil tidak hanya menyudahi rutinitas mengajar, tetapi juga meninggalkan jejak yang memancing perhatian lebih luas. Cara ia menyampaikan pengalaman—melalui video yang menampilkan amplop gaji terakhir—membuat banyak orang menaruh perhatian pada kenyataan pahit yang selama ini mungkin tidak terlihat dari jarak kelas.
Yang paling konsisten dari ceritanya adalah keyakinan bahwa ruang kelas bukan sekadar sarana mengajarkan akuntansi. Dari kunjungan ke rumah siswa, ia melihat langsung kehidupan yang jauh lebih berat daripada bayangan di lingkungan sekolah. Ia kemudian memahami bagaimana strategi sederhana untuk bertahan, termasuk kebiasaan guru yang mengganjal perut dengan teh manis, menjadi bagian dari daya hidup di tengah keterbatasan.
Keutuhan sikap itu juga tampak ketika ia mempertimbangkan jalan menjadi PNS. Ia pernah diberi tawaran dengan syarat membayar uang pelicin, namun tetap memilih menolak karena tidak ingin mengiringi pengabdian dengan praktik suap. Bagi Atrianil, pilihan bertahan selama puluhan tahun lahir dari panggilan nurani—sejalan dengan cara ia memaknai perjalanan sebagai “tempat pulang”, sekaligus menerjemahkannya ke karya novel Lentera Putih yang pernah ia perlihatkan di Cipondoh, Tangerang.






