Pendidikan

Atrianil Mengabdi 40 Tahun sebagai Guru Honorer, Akhiri Masa Bakti dengan Gaji Rp 414.000

×

Atrianil Mengabdi 40 Tahun sebagai Guru Honorer, Akhiri Masa Bakti dengan Gaji Rp 414.000

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kisah Atrianil 40 Tahun Jadi Guru Honorer, Pensiun dengan Gaji Rp 414.000

jurnalistik.co.id – Sosok Atrianil yang akrab disapa Bu Ijah mendadak menyita perhatian publik setelah sebuah video pengakuannya beredar luas di media sosial TikTok. Dalam unggahan itu, ia memperlihatkan amplop gaji terakhir sebagai guru honorer, berisi uang sebesar Rp 414.000.

Warga Cipondoh, Tangerang, pun kembali mengenal sosok 63 tahun tersebut ketika Kompas.com menemuinya pada Minggu (28/6/2026) di Jalan Ki Hajar Dewantoro. Di tengah kesibukannya, ia juga menunjukkan novel karya berjudul Lentera Putih, yang menjadi bagian lain dari perjalanannya di luar rutinitas mengajar.

Perhatian publik kemudian mengerucut pada satu kalimat yang membuat banyak orang terdiam: pengabdiannya selama 40 tahun sebagai tenaga pendidik berakhir dengan angka gaji yang ia terima di masa terakhir. Video itu, pada akhirnya, menjadi pintu masuk cerita yang lebih panjang tentang cara ia bertahan, keputusan yang ia pilih, dan prinsip yang ia pegang.

Di hadapan penelusuran, Atrianil menegaskan bahwa masa baktinya telah resmi selesai pada 23 Juni 2026. Ia menuntaskannya dari sebuah SMK swasta di kawasan Jakarta Barat yang telah ia ajar selama 31 tahun, sebelum kemudian melangkah ke penutupan perjalanan profesinya sebagai guru honorer.

Ia menjelaskan bahwa nominal yang diterimanya merupakan cerminan dari sistem penghitungan jam mengajar di tempat ia bekerja. Dengan kata lain, angka Rp 414.000 tidak berdiri sendiri, melainkan lahir dari akumulasi pertemuan yang ia jalani sepanjang tahun-tahun pengabdiannya.

Menata waktu demi genap 40 tahun

Dalam setahun terakhir, Atrianil mengubah pola jadwal mengajarnya dengan pertimbangan yang jelas. Ia menyebut, ia sudah berniat mencukupkan empat dekade masa mengabdi, sehingga ritme mengajar disesuaikan untuk memenuhi target tersebut.

“Tahun kemarin masih tiga hari. Saya memang sudah niat mau mencukupkan 40 tahun mengabdi. Jadi sebulan itu delapan kali pertemuan, atau kalau minggu panjang bisa sepuluh kali, kata Atri. Upah Rp 414.000 itu sudah termasuk tunjangan mengajar dan uang transpor.”

Ketika penjelasan itu didengar sebagai peristiwa yang menggugah banyak pihak, Atrianil justru memilih merendah. Ia menyatakan tidak perlu memperjelas rincian yang lebih detail karena baginya itu akan terasa memalukan.

“Tidak usah dirincilah per jamnya, malu nanti,” imbuh dia sembari tertawa.

Memilih integritas dibanding “jalur belakang”

Meski puluhan tahun hidup dengan status honorer, Atrianil menyebut sebenarnya ada kesempatan baginya untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun ia memilih untuk melepas peluang itu karena tidak ingin menempuh “jalur belakang” yang bertentangan dengan prinsipnya.

Menurut pengakuannya, pada awal tahun 2000-an ia pernah ditawari posisi PNS dengan syarat membayar uang pelicin sebesar Rp 5 juta. Ia menolak tawaran tersebut secara tegas, dengan alasan yang ia kaitkan pada nurani serta ajaran yang pernah ia terima dari guru agama.

“Saya tidak mau membohongi hati nurani. Guru agama saya dulu bilang uang sogokan, baik yang memberi maupun menerima, sanksinya sama di hadapan Allah. Saya tidak bisa selalu nunduk, kita ini garuda, beda sama bebek,” tegas Atrianil.

Prinsip serupa juga membuatnya tidak mendaftar program Guru Bantu. Ia enggan memalsukan surat keterangan mengajar di SMP demi memenuhi syarat administrasi, karena pada saat itu ia baru memiliki ijazah D3 dan sedang mengajar di jenjang SMK.

Bagi Atrianil, pilihan-pilihan yang ia ambil selama bertahun-tahun bukan semata-mata soal administrasi, tetapi soal konsistensi sikap. Cerita yang berawal dari sebuah video gaji akhirnya memperlihatkan gambaran utuh tentang bagaimana ia menjaga integritas sambil tetap menjalankan amanah sebagai guru, hingga waktunya benar-benar selesai pada 23 Juni 2026.

Hari-harinya yang berakhir sebagai guru honorer juga menandai bahwa hidupnya terus bergerak, termasuk melalui kegiatan menulis. Namun dari semua bagian perjalanannya, yang paling kuat tertinggal adalah pesan yang muncul dari angka dan kesaksian langsungnya: pengabdian yang panjang, disertai keputusan yang ia pertahankan sampai batas akhir.