jurnalistik.co.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengusulkan skema insentif bulanan bagi para pembatik dan perajin tradisional agar keahlian mereka bisa ditransfer kepada generasi muda. Menurutnya, pemberian dukungan finansial menjadi salah satu cara memastikan keterampilan tersebut tidak berhenti di tengah jalan.
Usulan itu disampaikan Dedi saat menghadiri Opening Ceremony Sunda Karsa Fest: Karya Kreatif Jawa Barat 2026 di Bandung. Kegiatan ini diselenggarakan Bank Indonesia bersama Dekranasda Provinsi Jawa Barat.
Dalam kesempatan itu, Dedi menegaskan pentingnya pengajaran sebagai bagian dari keberlanjutan profesi. Ia menyampaikan bahwa para perajin perlu diberi penghasilan yang memadai agar bersedia mengajarkan keahliannya kepada pihak yang lebih muda.
“Saya sudah minta kumpulkan para pembatik , beri mereka gaji setiap bulan yang cukup untuk mengajarkan membatik. Begitu juga untuk ukiran, lukisan, masakan tradisional , sampai anyaman agar keahliannya tidak putus,” ujar Dedi dalam rilisnya, Minggu (28/6/2026).
Dedi menilai, tanpa upaya regenerasi, Jawa Barat berpotensi kehilangan para perajin tradisional. Kekhawatiran itu mencakup pembatik, pemahat, pelukis, hingga perajin anyaman yang selama ini berperan dalam ekosistem ekonomi kreatif daerah.
Ia juga menyoroti perlunya membuka ruang bagi maestro kerajinan untuk beralih fungsi menjadi pengajar. Ruang tersebut dapat diwujudkan melalui pendidikan nonformal maupun melalui jalur sekolah, sehingga proses pewarisan berlangsung terstruktur.
Dalam kerangka itu, Dedi melihat bahwa Jawa Barat memiliki kekuatan besar pada sektor kerajinan. Salah satu yang ia soroti adalah anyaman yang tumbuh dan berkembang di Tasikmalaya dan Garut, tetapi minat generasi muda untuk menekuni bidang tersebut dinilainya terus berkurang.
Karena perubahan komposisi pelaku keahlian itulah, Dedi menggagas pembentukan pusat-pusat pembelajaran. Ia menyebut gagasan itu berupa paguron untuk beberapa bidang, yakni Paguron Batik, Paguron Anyaman, Paguron Ukir, dan Paguron Lukis.
Pusat pembelajaran tersebut diharapkan menjadi ruang pewarisan keterampilan tradisional kepada generasi muda. Dengan model ini, proses belajar tidak berhenti pada praktik sekali waktu, melainkan berlanjut hingga keterampilan benar-benar dikuasai.
Selain membahas regenerasi perajin, Dedi juga mendukung penyelenggaraan Sunda Karsa Fest sebagai momentum evaluasi perkembangan UMKM di Jawa Barat. Ia memandang acara tersebut tidak hanya sebagai ajang tampilan, tetapi juga sebagai sarana memperkuat keyakinan pelaku usaha terhadap peran UMKM dalam sistem ekonomi daerah.
“Acara ini merupakan bagian dari evaluasi perkembangan UMKM, sekaligus juga mempromosikan sehingga nanti semua orang akan merasa memiliki kepercayaan diri yang kuat bahwa UMKM itu merupakan bagian terpenting dalam sistem ekonomi yang terbangun di Jabar,” kata Dedi.
Lebih lanjut, ia mengusulkan agar kegiatan serupa tidak bertumpu pada Kota Bandung saja. Dedi menilai, kegiatan dapat digelar secara bergilir di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat agar manfaatnya lebih merata dan mendorong ekonomi kreatif di beragam wilayah.
Menurutnya, pendekatan tersebut juga berpotensi memperluas promosi produk unggulan daerah. Dengan begitu, pelaku UMKM tidak hanya mendapat ruang memperkenalkan usaha, tetapi juga dapat memperkuat posisi produk mereka di pasar yang lebih luas.
Dari sisi capaian kegiatan, Sunda Karsa Fest: Karya Kreatif Jawa Barat 2026 mencatat total transaksi penjualan sebesar Rp 53,75 miliar. Angka tersebut meningkat sekitar 170 persen dibanding tahun lalu.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat Junanto Herdiawan mengatakan kegiatan ini tidak semata menjadi ajang pamer produk unggulan daerah. Ia menyebut acara tersebut juga menjadi ruang untuk memperluas akses pasar bagi UMKM.
Dengan adanya kombinasi antara dukungan bagi regenerasi perajin dan penguatan ekosistem UMKM melalui festival, Dedi menempatkan keberlanjutan keterampilan tradisional sebagai bagian dari upaya yang lebih luas terhadap ekonomi kreatif Jawa Barat. Pendekatan ini, menurutnya, diharapkan mampu menjaga kesinambungan keahlian sekaligus memperkuat peluang usaha para pelaku di daerah.










