Entertainment

Bad Bunny Bikin London Bergemuruh di Konser Stadion Bersejarah

×

Bad Bunny Bikin London Bergemuruh di Konser Stadion Bersejarah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bad Bunny lights up London with history-making stadium show

jurnalistik.co.id – Bad Bunny membuat London bergemuruh lewat konser stadion yang menjalin rasa bangga lintas generasi, komunitas, dan bahasa. Pada Sabtu malam, ia tampil di Tottenham Hotspur Stadium sebagai tonggak penting bagi musik Latin di Inggris.

Benito Antonio Martínez Ocasio—nama panggung Bad Bunny—menjadi artis dari Amerika Latin pertama yang mengisi stadion di Inggris sebagai headline. Pertunjukan itu berlangsung untuk malam pertama dari dua konser yang sama-sama terjual habis, di hadapan sekitar 50.000 penonton.

Suasana yang dibangun sejak awal terasa seperti perayaan. Meski kondisi panas dan lembap menyertai, energi penonton tetap tinggi dan bergerak dari momen ke momen tanpa kehilangan ritme.

Di tengah rangkaian pesta musik, ada pula kontras emosi yang muncul saat Bad Bunny menyampaikan pesan solidaritas untuk Venezuela. Peristiwa gempa yang menghancurkan di negara tersebut menjadi salah satu bagian dari malam yang sama-sama terasa meriah dan sarat makna.

Sentuhan utama: DTMF dan kebiasaan mengolah genre

Bad Bunny mendekati akhir rangkaian world tour-nya, dan ia membawakan setlist yang tak lepas dari album yang menjadi nama tur. Karya DTMF (DTMF) mendominasi perjalanan malam itu, seperti benang merah yang menyatukan berbagai bagian pertunjukan.

Dalam catatan sejarah musik, DTMF juga pernah membuat rekor di Grammy Awards pada Februari sebagai album pertama yang dinyanyikan sepenuhnya dalam bahasa Spanyol untuk meraih album of the year. Dari sinilah ritme acara seolah “ditarik” untuk memulai cerita di tempat yang sama: ketika konser berjalan, Bad Bunny membuka dengan La Mudanza (The Move).

La Mudanza menjadi tanda suasana, menampilkan cara Bad Bunny meramu musik tanpa sekat yang kaku. Ia menyeimbangkan rap Latin modern dengan nuansa salsa dari tradisi lama, didukung band tradisional yang tampil langsung di panggung.

Beberapa lagu kemudian, Nuevayol justru menjadi titik yang membuat pesta benar-benar “meledak”. Penonton tidak harus memahami lirik sepenuhnya, dan tidak perlu latar belakang suara yang lebih khas dari daerah asalnya untuk hanyut dalam irama yang mudah diikuti, sampel yang terasa sinematis, serta hook yang menempel cepat.

Di balik kemeriahan, DTMF juga membawa beban emosi yang bersifat pribadi. Album itu menyinggung tema kehilangan dan kerinduan, dengan nuansa nostalgia serta identitas yang membentuk arah suasananya.

La Casita: panggung kedua bernuansa rumah Puerto Riko

Tur ini menghidupkan tema tersebut melalui produksi berskala stadion. Di bagian belakang lantai stadion, Bad Bunny menghadirkan “rumah” bergaya Puerto Riko yang berfungsi sebagai panggung kedua.

Area itu dikenal sebagai La Casita. Bentuknya memberi rasa komunal sekaligus lebih dekat, sehingga penonton merasakan seolah Bad Bunny tampil di tengah warga kota yang ditiru oleh desain tempat tersebut.

Meskipun pertunjukannya memakai skala besar dan jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit, karakter panggung tetap “rendah hati”. Visual yang ditonjolkan cenderung bersifat akrab dan tradisional, tidak sekadar mengandalkan jalur panggung megah dengan teknologi yang terlalu dominan.

Bad Bunny tidak hanya mengingat akar budayanya, tetapi meletakkannya di bagian paling depan. Ia menempatkan identitas itu sebagai pusat pengalaman, bukan sebagai aksesori.

Set berdurasi tiga jam dan momen yang tidak sepenuhnya sesuai ekspektasi

Durasi pertunjukan mencapai tiga jam. Bagi penonton yang lebih mengenal Bad Bunny, waktu itu menjadi ruang untuk menikmati perluasan dunia musiknya melalui delapan tahun karya. Namun bagi mereka yang masih baru, tempo set menciptakan jeda-jeda yang memberi kesempatan untuk bernapas.

Di antara rangkaian besar tersebut, satu bagian terasa kurang sesuai sebagai puncak: pengumuman lagu “eksklusif” yang berbeda untuk setiap kota. Dalam aksi di London, Cybertruck menjadi lagu yang reaksinya relatif lebih datar.

Reaksi yang tidak sekuat yang diharapkan memang muncul, tetapi pesta tetap berjalan. Di tribun, hadir ribuan penonton yang berasal dari beragam diaspora, masing-masing mengibarkan bendera mereka, sementara beberapa wajah terkenal juga terlihat berada di lokasi.

Adele tertangkap di kursi tribun. Maya Jama hadir di La Casita. Beberapa hari sebelum Wimbledon, Novak Djokovic juga menyampaikan pengantar untuk sebuah lagu.

Simbolisme dan solidaritas: Amerika yang disatukan

Konser di stadion yang sebagian memang dirancang untuk pertandingan NFL turut membawa simbol lain. Pertunjukan ini mengingatkan pada cara Bad Bunny menghadirkan pesannya lewat halftime Super Bowl, yang sempat dipandang sebagai pernyataan politik sekaligus perayaan seluruh benua Amerika yang bersatu.

Namun Bad Bunny juga pernah menyatakan tur dunia ini tidak akan memasukkan tanggal di Amerika Serikat. Ia mengatakan kepada i-D magazine bahwa ia khawatir penggemarnya bisa menjadi sasaran petugas ICE.

Di depan penonton London, ia berbicara hampir sepenuhnya dalam bahasa Spanyol. Sebelum memulai, ia meminta izin terlebih dahulu kepada audiens. Ia tidak menyampaikan poin politik secara langsung, melainkan memilih rujukan yang lebih halus mengenai pentingnya manusia dan tempat yang mereka miliki.

Pesan tur tersebut kemudian banyak ditafsirkan sebagai promosi keberagaman budaya dan upaya menjaga identitas. Bagi penggemar, pesan itu bergema karena mereka merasa diakui.

“We are here, we are Latinos, we are proud,” ujar Grace yang berusia 19 tahun dari Dartford, yang berdarah setengah Honduras. “My culture is getting represented – even if it’s through a Puerto Rican, it felt amazing,” katanya kepada BBC Newsbeat.

Di akhir pekan yang beririsan dengan momen turnamen sepak bola untuk negara-negara berbahasa Spanyol, Amelia dan Angelique juga termasuk yang menantikan pertandingan setelah konser.

Bad Bunny juga memberi penghormatan pada masyarakat Venezuela. Seiring angka korban terus naik setelah dua gempa besar pada hari Rabu, ia menyampaikan pesan yang ditujukan kepada warga di sana.

“All Latinos around the world stand in solidarity with you,” katanya.

Bagi Miguel, 20 tahun, pesan itu memiliki makna pribadi. Ia berasal dari London, tetapi keluarganya berada di Venezuela. “It’s amazing – with his influence and his power, to shine a light on it – someone’s got to do it,” ucapnya.

Judul album Debí Tirar Más Fotos juga diterjemahkan sebagai “I should have taken more photos”. Dalam konser tersebut, pesan di balik judul itu terdengar jelas: menghargai momen dan ingatan, bukan sekadar mengejar versi sempurna dari “merekam” pengalaman.

Sebagian besar penonton yang meninggalkan Tottenham Hotspur Stadium tidak menyimpan penyesalan yang sama. Terlihat dari lautan selfie dan ponsel yang merekam setiap penggal paduan suara.

Langkah berikutnya: Karol G menyusul, batas bahasa masih terbuka

Bad Bunny memang menorehkan catatan sebagai artis Latin pertama yang menjadi headline di stadion Inggris, tetapi ia bukan yang terakhir. Karol G dijadwalkan tampil di venue yang sama pada musim panas tahun depan.

Bagi banyak orang, hambatan bahasa masih terasa. Meski begitu, dengan artis seperti RosalĂ­a yang juga mampu mengisi arena dan membuat semua tiket habis, muncul pertanyaan yang sama: apakah musik berbahasa Spanyol di Inggris punya batas tertentu?

Grace memberi jawaban yang terdengar optimistis. “there are still so many ‘metas’ – or goals – it can hit”. Ia menambahkan, “I feel like it’s just the beginning.”