jurnalistik.co.id – Millie Bobby Brown dan Louis Partridge kembali menjalani peran mereka sebagai Enola Holmes dan Tewkesbury di Enola Holmes 3. Dalam wawancara bersama BBC, keduanya membahas kedekatan mereka di luar set, proses menghadirkan chemistry yang terasa natural, hingga arah cerita yang dibuat lebih gelap.
Keduanya mengaku sudah saling tertawa bahkan sebelum pertanyaan pertama diajukan. Brown dan Partridge menyebut persahabatan di luar lokasi syuting membuat hubungan yang berkembang antara Enola dan Tewkesbury terasa lebih mudah dan hangat.
“Belly laughs” yang jadi fondasi suasana
Partridge menjelaskan bahwa pendekatan mereka untuk beberapa adegan tidak terlalu kaku. Menurutnya, mereka tidak melakukan persiapan berlebihan; mereka mempelajari dialog dan latihan, tetapi tetap bisa “masuk” ke situasi tanpa kehilangan kesungguhan.
Brown menyela dengan gaya bercanda yang terdengar sudah akrab di antara mereka. Ia menggambarkan bahwa kebersamaan di lokasi justru membantu memunculkan sisi paling kocak dari satu sama lain. “Kami menghabiskan sebagian besar waktu di set untuk tertawa—belly laughing—tentang hal-hal paling acak,” ujar Brown.
Partridge menambahkan bahwa mereka kerap mengingatkan diri untuk kembali ke versi diri yang lebih muda. Ia juga menekankan kemiripan dinamika mereka yang, dalam cara tertentu, terasa seperti hubungan saudara kandung.
“Kami sempat bercanda bahwa kami terlihat seperti kakak-adik,” kata Partridge. Ia menilai ada “sedikit” nuansa hubungan saudara di antara mereka, yang mungkin menjadi alasan mengapa mereka merasa nyaman untuk saling menggoda.
Enola Holmes 3: Malta, kegelapan, dan misteri baru
Di film ketiga, Enola Holmes—sosok remaja adik Sherlock Holmes—dibawa ke Malta. Namun, masa depan Enola bersama Tewkesbury harus terhenti karena muncul kasus berbahaya baru yang berpusat pada hilangnya Sherlock.
Menurut pembuat film, bab ini mendorong waralaba memasuki nuansa yang lebih gelap dan lebih “dewasa”. Sutradara Philip Barantini—dikenal lewat Adolescence dan Boiling Point—mengungkap bahwa ada tantangan kreatif sekaligus tujuan personal saat menggarap film ini.
Ia menjelaskan bahwa putrinya yang berusia sembilan tahun tidak bisa menonton banyak karya yang pernah ia buat, namun Enola adalah favorit. Karena itu, ia ingin menghadirkan sesuatu yang bisa ditonton bersama putrinya sekaligus menjadi kesempatan untuk menantang dirinya dengan sesuatu yang berbeda.
Baginya, pekerjaan makin ringan karena Brown sejak awal sudah berpikir ke arah yang selaras. Brown diketahui menjadi produser sejak awal waralaba. Ketika Barantini mempresentasikan idenya, Brown juga sudah mempertimbangkan cara memasukkan unsur kegelapan, sehingga mereka merasa “sejalan” dalam visi.
Film ini juga memberi pengenalan yang lebih utuh bagi Himesh Patel sebagai Dr Watson. Patel sebelumnya hanya muncul sebentar di akhir film kedua. Ia mengingat penantian panjang untuk kabar film ketiga, sampai sempat membayangkan dirinya akan menjadi Watson “paling singkat dalam sejarah”, meski akhirnya tidak terjadi seperti itu.
Patel menambahkan bahwa Martin Freeman—aktor yang dikenal memerankan Watson—pernah memberi saran. Ia menyatakan Freeman mengatakan tidak perlu khawatir saat mengambil peran yang begitu terkenal.
Brown sebagai produser: percaya diri, protektif, dan “tidak mau mengatur”
Brown menggambarkan keyakinannya bukan sekadar soal keberanian berbicara, tetapi juga rasa kepemilikan terhadap karakter dan dunia Enola. Ia bahkan menyebut sikapnya sendiri sebagai “red flag”—ia mengatakan tidak punya masalah untuk menyuarakan pendapat. Bagi Brown, hal itu berkaitan dengan kedekatan emosional: ia merasa proyek ini menyatu dengan jantungnya.
Ia menjelaskan bahwa ia membaca seri bukunya, mengajukan ide, lalu terlibat dalam proses hingga berhasil dipasarkan dan dibawa ke Netflix. Dalam wawancara itu ia menyinggung bahwa ia punya “heart and hands” di hampir setiap bagian proyek—sebuah cara untuk menegaskan bahwa film ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan sesuatu yang ia rawat dari jauh hari.
Brown juga menyatakan dirinya protektif, terutama dalam memastikan Enola dan cerita yang dibangun benar-benar “terwujud” dengan cara terbaik. Ia menegaskan, meski terlibat kuat, ia tetap menjaga batas: ia tidak ingin memerintah aktor lain dan tidak memberikan catatan arahan yang bersifat memaksa.
Ia mengaku pernah merasakan posisi sebagai pihak yang menerima masukan, sehingga ia tidak ingin menjadi produser yang mengganggu. Tetap saja, ia banyak memikirkan hal-hal itu dan bahkan menuliskannya saat pulang.
Standar tinggi Enola, sampai kebawa ke rumah
Keberadaan Enola bahkan terasa terbawa ke kehidupan Brown di luar set. Jake Bongiovi—suaminya yang juga ikut bekerja dalam film—bercerita bahwa Brown kadang memikirkan karakter tersebut sampai ke rumah. Brown menanggapi dengan humor, menggambarkan betapa “standar Enola” bisa memengaruhi detail yang ia lihat di keseharian.
Brown menyebut karakter itu punya tuntutan yang tinggi. Ia bercanda tentang pulang lalu merasa bingung dengan kondisi sesuatu yang seharusnya tidak menjadi sorotan—kemudian ia mengingatkan dirinya sendiri untuk menenangkan diri dan tidak bersikap seolah ia harus tetap berbicara dengan standar set.
Hal yang paling ia jaga, kata Brown, adalah kecerdasan Enola. Partridge mengingat satu momen saat produksi harus berhenti selama “lima jam” karena Brown merasa Enola seharusnya bisa menyelesaikan sesuatu lebih cepat.
Brown langsung menanggapi dengan versi ceritanya: Enola, katanya, akan tahu bahwa bendera itu berasal dari negara tertentu dan mampu memikirkan jawabannya lebih awal. Partridge sempat mengubah detail waktu menjadi tiga jam, namun Brown tetap tidak sepakat. Ia menegaskan bahwa kenyataannya bukan seperti itu.
Menurut Brown, meski ia biasanya orang yang paling cepat menyelesaikan pekerjaan, dalam kasus ini penting untuk memastikan alur terasa masuk akal dan para karakternya bisa dipercaya. Ia menyinggung bagaimana ada penonton yang mengkritik hampir semua hal; karena itu ia ingin memastikan cerita yang tampil tetap koheren dan karakter-karakternya konsisten.
Menanggapi kritik online tentang detail kecil
Brown juga membahas perbedaan antara peduli pada detail dan membongkar film demi mencari kesalahan. Setelah gambar awal dirilis, sebagian penggemar mempertanyakan apakah kuku (nails) Enola terlihat terlalu modern untuk latar waktu cerita.
Ia merespons dengan nada tegas tapi tetap santai. Ia menyebut betapa “suram dan membosankan” jika internet hanya terpaku pada hal semacam itu, sambil menegaskan bahwa ia sendiri menyukai manicure dan Enola pun demikian. Baginya, ini menunjukkan kebiasaan orang untuk membedah detail secara berlebihan di ruang online.
Barantini mengaku lebih terhibur oleh reaksi tersebut. Ia tidak melihat masalah pada “hal-hal kecil” seperti itu, meski ia menyadari sebagian orang mungkin memandangnya penting. Ia menggambarkan dunia saat ini seperti membuat semua orang lebih sensitif dan cepat mencari sesuatu untuk disorot—hingga akhirnya berubah menjadi perkara besar.
Brown menutup dengan harapan agar pada tahun-tahun mendatang situasi seperti itu bisa berubah, dan cara pandang terhadap anak laki-laki maupun perempuan bisa menjadi lebih mengangkat.








