Internasional

Bangkai Kapal Abad ke-18 Disingkap, Porselen Batavia Tercatat di Dalamnya

×

Bangkai Kapal Abad ke-18 Disingkap, Porselen Batavia Tercatat di Dalamnya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bangkai Kapal Abad ke-18 Ditemukan, Ada Porselen Batavia di Dalamnya

jurnalistik.co.id – Bangkai kapal dari abad ke-18 yang tenggelam di perairan Selat Skagerrak, Norwegia bagian selatan, baru-baru ini ditemukan pada kedalaman sekitar 600 meter. Penemuan ini menarik perhatian karena mengungkap muatan porselen yang jumlahnya besar.

Di antara barang yang ditemukan terdapat porselen biru-putih dari China, termasuk sebuah jenis yang disebut Batavia ware. Kapal dagang tipe galiot dengan dua tiang layar itu diperkirakan karam pada rentang 1745 hingga 1760.

Porselen biru-putih dan “bangkai porselen”

Menurut laporan yang mengulas temuan tersebut, kapal yang kemudian dijuluki “bangkai porselen” membawa rangkaian keramik dan barang lain yang menggambarkan keluasan jaringan perdagangan saat itu. Komposisi muatannya bukan hanya berasal dari Timur, melainkan juga memuat pecah belah asal Eropa serta batu bata dari Lübeck, Jerman.

Keberadaan Batavia ware dalam muatan porselen tersebut menjadi sorotan utama. Sejumlah sejarawan menilai temuan itu mencerminkan dinamika perdagangan maritim global pada abad ke-18 melalui cara distribusi yang lebih kompleks daripada pengiriman langsung semata.

Batavia ware: jejak dagang di pelabuhan lama

Batavia ware merujuk pada porselen yang dikaitkan dengan aktivitas perdagangan di Batavia. Dalam konteks sejarah, Batavia—yang kini dikenal sebagai Jakarta—berperan sebagai kantor pusat Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie/VOC) di Asia sepanjang abad ke-17 hingga ke-18.

Di masa itu, Pelabuhan Batavia tidak hanya berfungsi sebagai simpul distribusi rempah-rempah dan tekstil, tetapi juga menjadi titik transit penting bagi porselen China yang akan dikirim menuju Eropa. Porselen yang melewati pelabuhan tersebut kemudian dikenal dengan istilah Batavia ware atau porselen Batavia.

Penjelasan Weng Yanjun tentang ciri Batavia ware

Dari keterangan yang dikaitkan pada Weng Yanjun, direktur Museum Tungku Kekaisaran (Imperial Kiln Museum) Jingdezhen di Provinsi Jiangxi, China bagian timur, sebagian besar porselen biru-putih yang ditemukan disebut sangat mirip dengan model-model produk dari era awal Kaisar Qianlong. Rentang pemerintahan Kaisar Qianlong (1736–1796) disebut dalam konteks perbandingan ukuran, motif, dan bentuk, serta karakter material glasir.

Namun, Batavia ware tampil dengan gaya visual yang menonjol. Bagian luar porselen tersebut dilapisi glasir berwarna coklat, sementara lukisan motif biru kobalt ada pada bagian dalam.

Weng menjelaskan, gaya ini merupakan varian khusus yang diproduksi agar sesuai dengan kebutuhan konsumen Eropa. “Gaya ini merupakan keramik ekspor skala besar yang dipesan oleh negara-negara Eropa dari Jingdezhen, sedikit berbeda dengan estetika tradisional China dan bentuknya juga disesuaikan agar dapat dijadikan cangkir kopi,” imbuh Weng.

Ia juga menambahkan, “Gaya ini merupakan keramik ekspor skala besar yang dipesan oleh negara-negara Eropa dari Jingdezhen, sedikit berbeda dengan estetika tradisional China dan bentuknya juga disesuaikan agar dapat dijadikan cangkir kopi,” imbuh Weng. Uraian ini—yang dikaitkan pada kutipan dari Xinhua pada 29/6/2026—menekankan bahwa bentuk dan tampilan produk disesuaikan untuk kegunaan spesifik di wilayah tujuan.

Perdagangan “ala estafet” hingga ribuan kilometer

Selain mendeskripsikan ciri keramik, penemuan ini juga dipakai untuk menjelaskan pola distribusi yang lebih berlapis. Weng menyampaikan bahwa temuan tersebut menyingkap jaringan rumit perdagangan China-Eropa pada abad ke-18.

Penekanannya bukan pada pengiriman tunggal langsung dari China ke Eropa, melainkan pada sistem transportasi yang “ala estafet” dan membentang hingga ribuan kilometer. Dalam mekanismenya, pedagang Eropa menyerahkan sampel atau model kepada bengkel-bengkel tungku di Jingdezhen berdasarkan permintaan pasar setempat.

Melalui pesanan tersebut, berbagai varian porselen kemudian dibuat, termasuk perangkat yang mendukung kebiasaan menyajikan dan menikmati kopi maupun teh. Dengan demikian, muatan yang ditemukan pada kapal karam bukan sekadar kumpulan barang, tetapi juga petunjuk tentang bagaimana selera dan kebutuhan konsumen membentuk proses produksi di tempat asal.

Secara keseluruhan, penemuan Batavia ware dalam bangkai kapal abad ke-18 di Selat Skagerrak memberi gambaran yang lebih rinci tentang hubungan dagang lintas kawasan: dari pelabuhan-pelabuhan transit di Batavia, hingga produksi di Jingdezhen, serta rangkaian pengiriman menuju Eropa pada periode 1745–1760.