jurnalistik.co.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pembaruan metodologi penentuan High Shareholding Concentration (HSC), yang berujung pada masuknya tambahan saham ke dalam daftar HSC. Setelah indikator baru diterapkan, sebanyak 37 saham langsung tercatat masuk, sehingga total emiten yang berada di daftar HSC menjadi 51.
Pembaruan ini dilakukan melalui revisi pendekatan yang menjadi acuan SRO, dengan menambahkan price impact ratio sebagai indikator baru. Dalam kebijakan tersebut, indikator berlaku untuk seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun.
Secara konsep, price impact ratio digunakan untuk menilai seberapa besar perubahan harga saham dibandingkan dengan tingkat likuiditas atau aktivitas perdagangannya. Dengan kata lain, perubahan harga yang terjadi tidak hanya dilihat dari arah kenaikan atau penurunan, tetapi juga dibandingkan dengan “seberapa aktif” transaksi yang menopangnya.
Dalam metodologi BEI, price impact ratio dihitung dengan membandingkan perubahan harga saham terhadap velocity saham. Velocity sendiri merujuk pada rasio rata-rata volume transaksi terhadap jumlah saham yang beredar di publik atau free float. Jika velocity tergolong rendah, sementara harga tetap bergerak relatif signifikan, maka rasio price impact ratio akan cenderung tinggi.
Ilustrasinya, situasi ketika volume transaksi kecil namun harga tetap menunjukkan pergerakan besar dapat menjadi sinyal adanya konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi atau likuiditas yang terbatas. Proses pengukuran semacam ini menangkap karakter hubungan antara sedikitnya transaksi dan besarnya dampak terhadap pergerakan harga.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai masuknya 37 saham ke daftar HSC setelah metode diperbarui menunjukkan kemampuan pendekatan baru dalam mengidentifikasi karakteristik saham yang sebelumnya tidak terdeteksi. “Terkait 37 saham yang langsung daftar HSC setelah metode diubah, jadi memang saya akui metode baru itu mampu melengkapi karakteristik saham yang sebelumnya belum teridentifikasi melalui pendekatan lama,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Selasa malam (14/7/2026).
Berita Terkait
Menurut Nafan, indikator ini dipandang membantu mengukur sensitivitas harga saham terhadap nilai transaksi. Dengan parameter velocity yang mengacu pada free float, metodologi BEI dapat menyoroti saham yang terlihat likuid dalam pandangan umum, tetapi kedalaman perdagangannya justru tidak terlalu tebal.
Ia juga menekankan bahwa saham yang masuk karena perubahan metode kemungkinan memiliki kombinasi faktor tertentu. “Jadi ini kemungkinan besar saham tersebut memiliki kombinasi karakteristik misalnya seperti free float yang efektif tapi masih relatif terbatas. Dan juga ada kepemilikan yang masih terkonsentrasi, belum lagi sahamnya itu terlihat likuid tapi kedalaman market -nya itu tipis,” pungkas dia.
Dari sisi metodologi, penambahan price impact ratio membuat BEI memiliki cara pandang yang lebih spesifik untuk membaca perilaku harga dibanding aktivitas perdagangannya. Ketika perbandingan antara perubahan harga dan velocity menghasilkan sinyal rasio yang tinggi, saham dapat lebih cepat dikenali mengarah pada konsentrasi kepemilikan atau kondisi likuiditas yang tidak sepenuhnya “dalam”.
Dengan demikian, pembaruan indikator tidak hanya mengubah daftar secara administratif, tetapi juga memperluas cara identifikasi karakteristik saham HSC. Hasil akhirnya, 37 saham yang sebelumnya tidak langsung terpetakan oleh pendekatan lama kini masuk dalam daftar HSC, dan keseluruhan emiten di daftar tersebut bertambah menjadi 51.
Dengan adanya price impact ratio, BEI tidak berhenti pada penilaian berbasis perubahan harga semata, melainkan memasukkan konteks aktivitas pergerakan yang ditopang oleh transaksi. Cara ini membuat sinyal yang muncul dari data harga menjadi lebih terhubung dengan kualitas perdagangan harian.
Dalam kerangka tersebut, velocity yang terkait free float berperan sebagai pembanding untuk melihat apakah pergerakan terjadi pada kondisi likuiditas yang mendalam atau justru pada pasar yang tipis. Ketika rasio menunjukkan indikasi kuat, perhatian pengawasan dapat diarahkan pada saham yang berpotensi menunjukkan konsentrasi kepemilikan.
Secara praktis, revisi metodologi ini dapat dipahami sebagai perluasan “lensa” analisis, sehingga saham yang sebelumnya luput dari klasifikasi tetap dapat terdeteksi melalui kombinasi parameter baru. Dengan masuknya 37 saham tambahan, daftar HSC pun bertambah menjadi 51 emiten.












