jurnalistik.co.id – Warga Perumahan Alam Serua 2, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan, mengeluhkan bau ayam yang dinilai menyengat dan mengganggu kenyamanan lingkungan. Keluhan tersebut berkembang menjadi protes, sekaligus memunculkan pertanyaan soal legalitas operasional peternakan serta potensi dampak jangka panjang bagi kesehatan warga.
Keberadaan kandang ayam yang berdiri tidak jauh dari permukiman warga kini menjadi fokus perhatian warga. Mereka menyatakan keberatan tidak hanya karena masalah bau yang muncul, tetapi juga karena kekhawatiran terhadap sanitasi lingkungan ke depan.
Jalur keluhan berujung mediasi Pemkot
Warga melaporkan persoalan tersebut kepada pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk mencari jalan tengah. Setelah protes memanas, mediasi Pemkot pun digelar dalam upaya menengahi perbedaan pandangan di antara warga dan pihak pengelola peternakan.
Bau muncul sejak kandang diisi kembali
Menurut penjelasan warga, keluhan mulai mencuat ketika kandang ayam di atas lahan seluas empat hektar kembali diisi dan beroperasi pada pekan ketiga Juni 2026. Sejak saat itu, warga mengaku mulai merasakan gangguan dari aroma ayam yang datang bergantian.
Ketua Lingkungan Perumahan Alam Serua, Doddy (35), mengatakan bau tidak menyebar secara merata sepanjang hari. Ia menuturkan aroma paling tajam biasanya muncul pada waktu-waktu tertentu, mengikuti arah embusan angin.
“Baunya sengitnya itu di pagi hari ya, pada angin-angin di pagi hari karena ke rumah-rumah. Terus siang tuh sampai sore nggak terlalu bau tuh… Nah, muncul lagi itu malam hari, baunya kayak gitu,” ujar Doddy kepada Kompas.com, Senin (13/7/2026).
Warga juga menyebut jarak kandang dengan permukiman mereka relatif dekat. Kandang diperkirakan berada sekitar 10 meter hingga 15 meter dari area tempat tinggal warga, sehingga bau yang tercium mudah sampai ke rumah-rumah.
Berita Terkait
Kekhawatiran meningkat menjelang musim hujan
Doddy menyatakan keberatan warga tidak berhenti pada kenyamanan hari ke hari. Menurutnya, warga merasa perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan kondisi lingkungan.
Ia khawatir bila memasuki musim hujan, masalah terkait limbah dan lalat dapat semakin meningkat. “Yang kami pikirkan bukan hanya baunya hari ini. Kami khawatir dampaknya dalam jangka panjang terhadap kesehatan warga. Apalagi kalau nanti masuk musim hujan, kami khawatir limbah dan lalat akan semakin banyak,” kata Doddy.
Di tengah kondisi tersebut, warga menilai pengelolaan peternakan yang berada dekat permukiman seharusnya dapat memberi kepastian terkait dampak lingkungannya. Selain aspek bau, warga juga mempertanyakan legalitas operasional yang dinilai belum menjawab kekhawatiran mereka.
Pihak pengelola bantah, sebut hanya aroma pakan
Menanggapi gelombang protes dari warga, pihak keluarga pemilik peternakan membantah tuduhan yang dialamatkan kepada usaha mereka. Perwakilan keluarga pemilik peternakan, Nurhayati (31), menyebut aroma yang dikeluhkan warga bukan bau bangkai atau kotoran yang menetap, melainkan hanya aroma pakan ayam yang sesekali terbawa angin.
Nurhayati juga menjelaskan latar belakang berdirinya usaha tersebut. Ia menyatakan peternakan sudah berdiri sejak tahun 2014, jauh sebelum Perumahan Alam Serua 2 dibangun sekitar tahun 2023.
Dengan penjelasan itu, pihak pemilik menekankan bahwa keberadaan peternakan telah berjalan sesuai prosedur hukum. Mereka menolak tudingan warga dan berupaya memberikan pemaknaan berbeda terhadap keluhan aroma yang muncul di sekitar permukiman.
Persoalan kemudian terus bergulir hingga akhirnya warga menempuh mekanisme pelaporan kepada pemerintah daerah. Mediasi yang dilakukan Pemkot Tangerang Selatan menjadi ruang untuk merumuskan tindak lanjut dan mencari titik temu atas perbedaan kepentingan antara warga yang terdampak dan pihak pengelola peternakan.











