Daerah

Hingga 10 Jam Antre Biosolar, Sopir Truk di Bandar Lampung Kehilangan Sehari Kerja

×

Hingga 10 Jam Antre Biosolar, Sopir Truk di Bandar Lampung Kehilangan Sehari Kerja

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Antre Solar hingga 10 Jam, Sopir Truk di Bandar Lampung Kehilangan Sehari Kerja

jurnalistik.co.id – Antrean biosolar di Bandar Lampung sudah berlangsung nyaris setiap hari dalam beberapa bulan terakhir, hingga membuat sopir truk menghabiskan waktu berjam-jam dan kehilangan hampir satu hari kerja hanya untuk mengisi bahan bakar.

Pagi masih setengah jalan ketika deretan truk mulai memenuhi bahu Jalan Yos Sudarso, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung. Di sela antrean, sebagian kendaraan tampak mematikan mesin, sementara para sopir turun untuk menyesap kopi, berbincang dengan rekan sesama pengemudi, atau sesekali memejamkan mata sambil menanti antrean bergerak.

Tujuan mereka sama: memperoleh biosolar bersubsidi. Situasi yang awalnya hanya sesekali terlihat, kini berubah menjadi pemandangan yang berulang.

Dalam sekitar dua bulan terakhir, antrean kendaraan berat hampir setiap hari terlihat di sejumlah SPBU di Bandar Lampung. Selain di Jalan Yos Sudarso, antrean serupa juga muncul di SPBU Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Bumi Waras.

Ketika antrean memuncak, barisan truk dilaporkan mengular hingga hampir satu kilometer. Bahu jalan berubah fungsi menjadi tempat parkir dadakan, sedangkan lajur lalu lintas ikut menyempit sehingga kendaraan lain harus bergantian melintas di sekitar titik penumpukan.

Di lokasi yang sama, kondisi jalan juga tampak terdampak. Aspal di sekitar SPBU mulai rusak karena setiap hari menahan beban puluhan truk bertonase besar.

Kerumunan kendaraan itu juga sempat menarik perhatian aparat. Personel Satlantas Polresta Bandar Lampung, disebutkan, sempat menegur sopir agar antrean tidak semakin mengganggu pengguna jalan.

Sehari habis hanya untuk menunggu giliran

Bagi Saiful Bahri (35), antrean untuk mendapatkan solar sudah menjadi bagian dari rutinitas kerja. Sopir truk asal Baradatu, Way Kanan, mengatakan setiap hendak mengisi biosolar, ia harus tiba lebih awal di SPBU.

Ia menyebut, ia perlu datang sejak pukul 06.00 WIB. Dari sana, waktu menunggu menentukan kapan bahan bakar akhirnya bisa didapat.

Saiful menjelaskan bahwa ketika antrean berlangsung seperti yang sedang terjadi, proses pengisian bisa selesai sekitar pukul 12 siang. Namun, pada kondisi tertentu ia mengaku antrean bisa membuatnya baru mendapat giliran hingga sekitar pukul empat sore.

Dengan kata lain, hampir satu hari kerja habis hanya untuk menunggu giliran mengisi bahan bakar. Padahal, setelah keluar dari SPBU, perjalanan panjang masih harus dijalani.

Sopir tersebut mengangkut sagu dengan rute Lampung-Jakarta. Proses operasional yang seharusnya berjalan berdasarkan jadwal, harus menyesuaikan dengan antrean di titik pengisian.

Jatah solar tidak menutup kebutuhan operasional

Selain soal lamanya antrean, Saiful juga menyoroti jumlah solar yang ia peroleh. Ia menyebut jatah yang didapatnya sekitar 140 liter.

Menurut Saiful, jatah tersebut tidak hanya belum memenuhi tangki secara penuh, tetapi juga belum cukup untuk kebutuhan operasional truknya. Dengan demikian, keterlambatan waktu akibat antrean tidak otomatis terselesaikan oleh hasil pengisian di SPBU.

Ia menggambarkan kondisi itu sebagai masalah berlapis: waktu menunggu yang panjang di satu sisi, dan keterbatasan pasokan di sisi lain. Bagi pengemudi, situasi ini membuat perencanaan kerja menjadi lebih sulit, terutama ketika jadwal pengiriman bergantung pada kelancaran proses pengisian.

Keberulangan antrean hampir setiap hari juga memperlihatkan bahwa persoalan tidak lagi terbatas pada satu titik atau satu momen tertentu. Antrean yang terjadi berulang di beberapa SPBU di Bandar Lampung membuat dampaknya terasa meluas, mulai dari penumpukan kendaraan, penyempitan lajur, hingga terganggunya kondisi jalan di sekitar lokasi.

Di tengah kondisi tersebut, para sopir tetap menjalankan aktivitas kerja dengan menunggu giliran, berusaha menjaga ritme perjalanan setelah pengisian, dan menanggung konsekuensi ketika pasokan yang didapat belum bisa menopang kebutuhan operasional.

Bagi Saiful, antrean panjang bukan sekadar persoalan waktu tunggu, melainkan juga penentu berapa lama pekerjaan bisa bergerak dan seberapa jauh perjalanan operasional dapat dijalankan sebelum harus menghadapi keterbatasan jatah solar.