jurnalistik.co.id – Salah satu kekhawatiran yang kerap muncul sebelum membeli mobil listrik (EV) maupun hybrid adalah umur baterai. Banyak calon pemilik merasa baterai akan cepat rusak dan berujung pada biaya penggantian yang mahal.
Kabar baiknya, usia pakai baterai kendaraan elektrifikasi saat ini tergolong panjang. Kepala Teknisi Domo Hybrid EV, Yogig Pramono, menyebut umur baterai sangat dipengaruhi oleh jenis baterai yang digunakan serta pola perawatan kendaraan oleh pemiliknya.
Dalam penilaian Yogig, perawatan yang tepat tidak hanya membantu baterai bekerja optimal, tetapi juga dapat memperpanjang masa manfaatnya melewati periode kepemilikan kendaraan oleh pemilik pertama. Dengan pendekatan perawatan yang sesuai, daya tahan baterai bisa terus dipertahankan dalam waktu yang panjang.
Jenis baterai menentukan baseline usia pakai
Yogig menjelaskan, mobil hybrid maupun mobil listrik generasi lama yang masih menggunakan baterai berbasis nikel umumnya memiliki usia pakai sekitar delapan tahun. Namun, angka tersebut bisa bertambah apabila pemilik rutin melakukan perawatan pada kendaraan.
Ia menegaskan, “Kalau mobil EV atau hybrid yang masih pakai nikel itu rata-rata usianya delapan tahun. Tapi kalau melakukan perawatan rutin, bisa tembus 11 tahun sampai 12 tahun,” kata Yogig saat berbicara dengan Kompas.com di Jakarta Utara, Rabu (3/6/2026).
Menurut Yogig, perubahan teknologi baterai turut memengaruhi daya tahan. Sebagian besar mobil hybrid keluaran 2017 ke atas sudah menggunakan baterai lithium, sementara mobil listrik modern banyak mengandalkan baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP).
Yogig menambahkan, “Kalau untuk tahun 2017 sampai sekarang rata-rata beberapa mobil hybrid sudah pakai lithium. Sementara mobil EV banyak yang sudah pakai LFP. Usianya lebih panjang, paling tidak bisa tembus 10 tahun,” ujarnya.
Dengan demikian, perbedaan komposisi baterai menjadi faktor awal yang membentuk rentang usia pakai. Meski begitu, Yogig tidak menempatkan umur baterai semata-mata sebagai isu teknologi, karena kebiasaan perawatan tetap menjadi penentu penting.
Sistem pendinginan: bagian yang paling sering diabaikan
Meski teknologi baterai terus berkembang, Yogig menegaskan bahwa usia baterai tetap sangat bergantung pada kebiasaan pemilik kendaraan. Ia menyoroti sistem pendinginan baterai sebagai elemen yang harus dijaga agar bekerja optimal dalam jangka panjang.
Pada mobil hybrid, baterai umumnya memakai sistem pendinginan yang memanfaatkan udara dingin dari kabin. Karena itu, penggunaan AC dinilai penting untuk membantu menjaga suhu baterai agar tetap ideal.
“Kalau di mobil hybrid itu harus menyalakan AC juga. Karena pendingin baterainya mengambil udara dingin dari AC kabin untuk mendinginkan baterai,” ujar Yogig. Ia menambahkan bahwa apabila suhu baterai terlalu panas dalam jangka waktu lama, performa dan usia pakainya dapat menurun lebih cepat.
Beralih ke mobil listrik, sistem pendinginan baterai dapat menggunakan cairan pendingin (coolant) maupun sistem berbasis AC. Perbedaan cara kerja ini membuat kebutuhan perawatan menjadi tidak sama, bergantung pada teknologi yang digunakan masing-masing pabrikan.
Untuk mobil listrik yang menggunakan pendingin cairan, Yogig menyarankan pemilik mengganti coolant secara berkala. “Kalau yang pakai coolant, sebaiknya rutin ganti coolant sekitar setiap 40.000 kilometer,” kata Yogig.
Sementara itu, pada mobil listrik yang menggunakan sistem pendinginan berbasis AC, komponen seperti freon dan oli kompresor perlu diperhatikan kondisinya. “Kalau yang menggunakan AC, freon dan oli kompresor juga harus diganti supaya pendinginan tetap maksimal dan usia baterai bisa lebih panjang,” ucap Yogig.
Intinya, perawatan sistem pendinginan sering dianggap sepele, padahal peran komponen tersebut langsung berkaitan dengan kesehatan baterai. Dengan kebiasaan perawatan yang tepat, usia baterai mobil hybrid maupun mobil listrik dapat bertahan lebih dari satu dekade.












