jurnalistik.co.id – Ilham Restu dari CNBC Indonesia melaporkan, pada 26 September 2026 pukul 11:40 WIB, lonjakan inflasi di sejumlah negara mendorong bank sentral mengambil langkah tegas: menaikkan suku bunga acuan.
Kenaikan harga yang bergerak terlalu cepat membuat tekanan terhadap biaya hidup semakin terasa, sementara inflasi yang meroket berimbas langsung pada daya beli masyarakat.
Dalam kondisi seperti ini, bank sentral berupaya menahan laju kenaikan harga melalui kebijakan moneter yang memperketat.
Caranya adalah dengan mengerek tingkat suku bunga acuan, sehingga biaya uang menjadi lebih mahal bagi pelaku ekonomi.
Bagi masyarakat, ketika suku bunga acuan naik, pinjaman cenderung ikut menanjak. Akibatnya, kemampuan untuk mempertahankan atau meningkatkan belanja ikut melemah.
Untuk perusahaan, biaya pendanaan yang lebih tinggi membuat keputusan belanja dan investasi menjadi lebih hati-hati. Mereka cenderung mengurangi aktivitas belanja agar beban biaya tetap terkendali.
Rangkaian dampak tersebut saling terhubung: inflasi yang tinggi mendorong respons kebijakan, lalu kenaikan suku bunga mengubah kondisi keuangan yang akhirnya memengaruhi perilaku konsumsi dan belanja.
Tekanan terhadap harga juga menjadi alasan utama mengapa respons kebijakan tidak dibiarkan berlangsung tanpa tindakan. Saat harga naik terlalu cepat, bank sentral menilai diperlukan penguatan agar ekspektasi kenaikan harga dapat diredam.
Di tengah konteks itu, perhatian tertuju pada negara-negara yang mempunyai suku bunga acuan tertinggi.
Laporan tersebut menyoroti 10 negara dengan suku bunga acuan tertinggi di dunia, termasuk salah satunya yang berada pada level yang hampir mencapai 60%.
Angka setinggi itu menggambarkan seberapa agresif bank sentral harus bertindak ketika inflasi sudah menekan kebutuhan dasar dan mengganggu stabilitas ekonomi.
Suku bunga acuan yang lebih tinggi pada dasarnya berfungsi sebagai rem pada laju kenaikan harga melalui jalur biaya pendanaan. Saat kredit menjadi lebih mahal, ruang untuk memperbesar belanja akan menyempit.
Berita Terkait
Dengan demikian, tekanan pada daya beli tidak dibiarkan membesar tanpa batas. Bank sentral menargetkan agar proses kenaikan harga tidak terus berlari lebih cepat dari kemampuan masyarakat membeli.
Pada sisi rumah tangga, pinjaman yang lebih mahal membuat belanja yang membutuhkan pembiayaan menjadi lebih sulit. Orang cenderung menunda atau mengurangi pengeluaran yang bergantung pada kredit.
Adapun perusahaan menghadapi tantangan serupa dari sisi pendanaan. Biaya modal yang meningkat mendorong mereka untuk menekan belanja operasional yang tidak terlalu mendesak dan menahan ekspansi.
Ketika belanja mulai melandai, tekanan terhadap harga diharapkan ikut berkurang. Itu sebabnya kebijakan menaikkan suku bunga acuan dipandang sebagai langkah untuk menahan kenaikan harga.
Namun, efektivitas kebijakan tersebut sangat terkait dengan kondisi inflasi yang sedang berlangsung. Jika inflasi terus meroket, bank sentral cenderung memperkuat langkahnya agar rantai kenaikan biaya dan harga tidak makin luas.
Dalam daftar 10 negara tersebut, level suku bunga yang sangat tinggi menunjukkan betapa beratnya tantangan yang dihadapi otoritas moneter saat inflasi berada pada fase yang sulit dikendalikan.
Lonjakan inflasi di berbagai negara tidak hanya berdampak pada label harga di pasar, tetapi juga mengubah cara orang dan perusahaan mengambil keputusan.
Ketika daya beli tergerus, konsumsi ikut melemah. Saat biaya pinjaman membengkak, belanja yang bergantung pada pembiayaan ikut berkurang.
Aliran dampak inilah yang menjadi inti dari penjelasan kebijakan: inflasi yang tinggi memicu respons agresif melalui kenaikan suku bunga acuan, lalu perubahan biaya pinjaman memengaruhi pengeluaran.
Melihat daftar suku bunga acuan tertinggi, gambaran globalnya menjadi jelas: sebagian negara menempuh jalur pengetatan untuk menahan laju kenaikan harga dan meredam efek inflasi pada masyarakat.
Saat salah satu negara bahkan mendekati level hampir 60%, sinyal yang ditangkap pasar dan publik adalah bahwa bank sentral tidak hanya bereaksi, melainkan berupaya memutus percepatan kenaikan harga.
Pada akhirnya, kebijakan tersebut menempatkan suku bunga acuan sebagai instrumen utama untuk mengendalikan situasi saat inflasi bergerak cepat, sehingga daya beli tetap bisa dijaga dan belanja tidak semakin tertekan.












