jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan pada sesi I dengan bergerak di zona hijau pada Senin, 2 November 2026. Di akhir sesi, IHSG berada di level 5.105,20, naik 48,15 poin atau 0,95% dibanding penutupan sebelumnya.
Perdagangan sesi I ditopang aktivitas pasar yang cukup ramai. Volume transaksi tercatat 198,2 juta lot dengan nilai sebesar Rp6.378,1 miliar atau sekitar Rp6,38 triliun.
Pergerakan indeks hari ini sempat lebar dan cenderung berayun sebelum akhirnya menguat. IHSG dibuka melemah di 5.039,54, turun 17,51 poin atau 0,35%.
Tekanan jual kemudian mendorong indeks bergerak lebih rendah hingga menyentuh level terendah harian. Pada titik terendah, IHSG berada di 4.981,52 atau turun 75,53 poin (-1,49%).
Setelah melewati pukul 10.00 WIB, IHSG berbalik arah. Indeks kemudian menguat dan sempat mencapai level tertinggi harian di 5.125,74, naik 68,69 poin (1,36%) sebelum terkoreksi tipis kembali ke 5.105,20.
Rentang pergerakan antara titik terendah dan level terakhir tercatat cukup signifikan. Selisihnya mencapai 123,68 poin, setara 2,48%.
Berdasarkan data IDX, kenaikan IHSG pada sesi I ini tercermin dari mayoritas saham yang menguat. Sebanyak 391 saham bergerak naik, sementara 315 saham melemah dan 257 saham lainnya tidak mengalami perubahan.
IHSG menguat di tengah sentimen PMI dan inflasi
Sejumlah sentimen menjadi perhatian pelaku pasar pada hari yang sama. Dari sisi domestik, investor menanti rilis data yang dinilai dapat memberi arah pada perdagangan, termasuk indikator aktivitas manufaktur dan inflasi.
Pertama, BEI akan mengeluarkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG mulai Senin, 2 November 2026. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan kebijakan tersebut tidak serta-merta memicu penurunan atau lonjakan indeks secara drastis.
Ia juga menjelaskan bahwa bobot saham yang dikeluarkan nantinya akan didistribusikan kepada konstituen IHSG lainnya. Dengan demikian, perubahan komposisi dinilai lebih bersifat redistribusi bobot daripada menghilangkan eksposur indeks secara total.
Kedua, pasar menunggu rilis Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia untuk Oktober 2026. Pada hari tersebut, S&P Global akan merilis data PMI, yang dipandang relevan untuk memotret aktivitas manufaktur.
Perlu dicatat, aktivitas manufaktur Indonesia kembali berada pada zona ekspansi pada September 2026 setelah sempat mengalami kontraksi di Agustus. PMI Indonesia tercatat 52,48 pada September 2026 dan menunjukkan ekspansi pada periode tersebut.
Ketiga, rilis inflasi Oktober 2026 juga menjadi fokus. Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data inflasi pada Senin, 2 November 2026, dengan estimasi yang dikumpulkan CNBC Indonesia dari 12 institusi/lembaga.
Berita Terkait
Konsensus pasar memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik 0,24% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Oktober 2026. Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diproyeksikan mencapai 3,25%.
Di luar domestik, investor juga menantikan perkembangan ekonomi dari negara lain. Salah satunya adalah data PMI manufaktur versi RatingDog untuk Tiongkok pada Oktober 2026.
Dalam catatan pergerakan sebelumnya, aktivitas manufaktur Tiongkok pada versi RatingDog menunjukkan indeks naik menjadi 52,1 pada September 2026 dari 51,5 pada Agustus. Capaian ini juga melampaui ekspektasi pasar sebesar 51,6 dan menandai ekspansi terkuat sejak April.
Sentimen global berikutnya berasal dari politik Amerika Serikat. Pemilu sela AS dijadwalkan digelar pada Selasa, 3 November 2026 waktu setempat, dengan hasil yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan pemerintahan.
Pemilu sela tersebut akan mempertaruhkan seluruh 435 kursi DPR AS dan 35 dari 100 kursi Senat. Secara historis, partai yang menguasai Gedung Putih cenderung kehilangan kursi DPR dalam pemilu sela.
Dalam survei Reuters/Ipsos yang rampung pada 26 Oktober, tingkat persetujuan terhadap Donald Trump sebesar 32%. Demokrat juga unggul dalam preferensi pemilih terdaftar, dengan dukungan 47% dibandingkan 36% untuk Republik.
Dengan berbagai indikator tersebut, hasil pemilu dinilai bisa menjadi perhatian investor global karena berpotensi memengaruhi kebijakan fiskal dan politik AS.
Selain politik, rangkaian data ekonomi tenaga kerja AS turut menambah katalis. Pada Selasa, 3 November 2026, AS akan merilis Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk September 2026 sebagai indikator permintaan tenaga kerja melalui jumlah lowongan yang tersedia.
Lalu pada Rabu, 4 November 2026, laporan ADP untuk September 2026 akan dipublikasikan. Laporan ini diharapkan memberikan gambaran perubahan tenaga kerja pada sektor swasta, meski tidak dapat dijadikan prediksi langsung laporan tenaga kerja resmi pemerintah, mengingat perbedaan metodologi.
Puncak perhatian investor tertuju pada Jumat, 6 November 2026, saat data Nonfarm Payrolls (NFP) dan angka pengangguran Oktober 2026 dirilis. Data tersebut biasanya menjadi acuan penting untuk menilai arah pasar tenaga kerja AS.
Lebih lanjut, aktivitas manufaktur dan jasa di AS juga menjadi agenda. AS akan mengumumkan data ISM Manufacturing Services Oktober 2026 pada hari ini, Senin (2/12/2026), serta data PMI Manufaktur Oktober 2026 pada Rabu, 4 November 2026.
Sebagai konteks, PMI Jasa AS turun menjadi 54,9 pada September 2026 dari 55,4 pada Agustus, namun tetap berada di zona ekspansi selama 27 bulan berturut-turut. Di sisi lain, aktivitas bisnis dan pesanan baru melambat, sedangkan tenaga kerja tumbuh tipis.
Sementara itu, PMI Manufaktur AS turun tipis menjadi 54,5 pada September 2026 dari 54,6 pada Agustus, tetapi masih menunjukkan ekspansi yang kuat. Pesanan baru dan tenaga kerja meningkat, sementara produksi melambat (rob/rob).
Dengan kombinasi faktor domestik seperti PMI dan inflasi, serta sentimen global dari ekonomi dan politik AS, IHSG pada sesi I terlihat mampu bertahan di jalur penguatan. Perubahan intraday yang tajam menggambarkan bahwa pasar tetap responsif terhadap berbagai pemicu informasi yang masuk secara bersamaan.












