jurnalistik.co.id – Pasar obligasi Indonesia mulai menunjukkan tekanan yang lebih terasa setelah bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, menaikkan suku bunga acuan pekan lalu. Dampak dari langkah tersebut ikut mengalir ke pasar obligasi global dan membuat rupiah bergerak melemah di pasar spot.
Pada pukul 09:43 WIB, rupiah melemah 0,24% menjadi Rp17.785/US$. Pergerakan ini tercatat terjadi seiring menguatnya tekanan pada obligasi, terutama pada segmen tenor pendek yang yield-nya kembali bergerak naik.
Menurut data Bloomberg, yield obligasi tenor pendek mulai berbalik arah setelah sempat melandai sebelumnya. Di antara bagian kurva yang bergerak paling jelas, tenor 2 tahun naik 6,3 basis poin (bps) menjadi 6,86% dan tenor 1 tahun naik 2,4 bps menjadi 6,83%.
Sementara itu, pada tenor yang lebih panjang, pola pergerakan tidak bergerak sejalan. Obligasi tenor acuan 10 tahun justru mencatat penurunan 2,1 bps ke level 7,1%, dengan tenor 9 tahun turun 6,3 bps menjadi 7,11% serta tenor 8 tahun turun 5,1 bps ke 7,09%.
Di pasar yang lebih luas, tekanan yang sama terlihat pada yield obligasi berdenominasi dolar AS. Yield obligasi tenor acuan dolar AS (INDON) naik 1,5 bps menjadi 5,87% pada Senin (21/9/2026) sekitar pukul 09.35 WIB, sejalan dengan tersengatnya pergerakan yield US Treasury.
US Treasury tenor 10 tahun kembali terdongkrak 6,6 bps ke 4,99% setelah pekan lalu sempat melandai. Dengan kata lain, pergeseran di obligasi Indonesia tidak berdiri sendiri, melainkan mengikuti dinamika yield dari pasar acuan AS yang berubah lebih tajam.
Perubahan yield di tengah aksi jual juga tidak hanya terjadi pada satu negara. Obligasi pemerintah Australia tenor 10 tahun naik 3 bps ke 5,29%, sedangkan Selandia Baru bergerak lebih tinggi dengan kenaikan 2,4 bps ke 4,94%.
Berita Terkait
Di Eropa, pergerakan yield juga terlihat menguat pada sejumlah negara. Perancis mencatat kenaikan 12,2 bps ke 4,56%, Italia naik 9,5 bps ke 4,43%, sementara China bergerak lebih terbatas dengan kenaikan 0,4 bps ke 1,67%.
Gambaran ini menunjukkan bagaimana kenaikan suku bunga acuan dari Federal Reserve pada pekan sebelumnya tetap mempengaruhi cara pasar menilai tingkat imbal hasil. Tekanan pada segmen tenor pendek menjadi salah satu sinyal yang muncul lebih dulu dalam pembacaan pergerakan yield di pasar obligasi.
Di sisi lain, perbedaan arah pergerakan antara tenor pendek dan tenor acuan yang lebih panjang juga terlihat jelas dalam angka-angka yang terekam pada hari yang sama. Tenor 2 tahun dan 1 tahun sama-sama mengalami kenaikan, sedangkan tenor 10 tahun, 9 tahun, dan 8 tahun justru mencatat penurunan.
Bagi pergerakan rupiah, kondisi tersebut tercermin pada pelemahan di pasar spot. Pada saat yield tenor pendek kembali naik dan yield US Treasury 10 tahun terdorong ke 4,99%, rupiah tercatat melemah 0,24% menjadi Rp17.785/US$ pada pukul 09:43 WIB.
Secara keseluruhan, perkembangan pada 21/9/2026 memperlihatkan bahwa respons pasar obligasi cenderung bergerak mengikuti gelombang dari AS. Kenaikan yield US Treasury 10 tahun setelah sempat melandai pada pekan sebelumnya menjadi salah satu pemicu yang melatarbelakangi tekanan pada obligasi, termasuk pada tenor-denominasi yang terkait dengan dolar AS.
Dalam dinamika kurva imbal hasil, perbedaan respons pada beberapa tenor memperlihatkan adanya penyesuaian ekspektasi yang tidak seragam. Ketika tenor 1–2 tahun kembali menguat lewat kenaikan bps, pergerakan tersebut menjadi kontras dengan tenor yang lebih panjang yang justru bergerak melemah.
Keterkaitan lintas pasar juga tampak dari sinkronisasi arah pergerakan yield berdenominasi dolar AS dan US Treasury. Saat tekanan pada yield dolar AS (INDON) serta lonjakan imbal hasil Treasury 10 tahun ikut terjadi, pelaku pasar turut membaca efeknya ke obligasi Indonesia, yang akhirnya tercermin pada pelemahan rupiah di pasar spot pada pukul 09:43 WIB.












