jurnalistik.co.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan pasar modal domestik tetap resilien meski MSCI membekukan rebalancing konstituen indeks untuk Indonesia sejak awal tahun. Menurut keterangan yang disampaikan, kondisi tersebut dibarengi dengan pembukaan konsultasi standalone market untuk Indonesia.
Pernyataan BEI muncul di tengah derasnya arus transaksi investor asing. Dari sisi pembukuan transaksi, data yang dihimpun menunjukkan investor asing masih mencatat nilai jual bersih (net sell) pada sejumlah tanggal selama periode konsultasi tersebut.
Dalam rangkaian pergerakan itu, BEI menekankan bahwa pasar tetap menunjukkan ketahanan meskipun konsultasi MSCI telah dibuka. Di saat yang sama, perhitungan net sell memperlihatkan besaran per hari yang bervariasi, dengan satu hari mencatat net buy sebagai pengecualian.
Arus dana asing selama konsultasi MSCI
Sejak konsultasi standalone market dibuka, net sell investor asing pada 16 Oktober 2026 tercatat sebesar Rp3,34 triliun. Pada 19 Oktober 2026, net sell berlanjut dengan nilai Rp1,72 triliun.
Berikutnya, pada 20 Oktober 2026 net sell mencapai Rp2,19 triliun. Setelah itu, pada 22 Oktober 2026 nilai net sell tercatat Rp1,40 triliun.
Pada 23 Oktober 2026, net sell investor asing kembali bergerak ke angka Rp1,28 triliun. Pola pergerakan kemudian menunjukkan perubahan di penghujung periode, ketika pada 26 Oktober 2026 nilai net sell tercatat sebesar Rp1,85 triliun.
Di tengah beberapa hari net sell tersebut, pada 21 Oktober 2026 terjadi net buy. Namun, nilai net buy pada tanggal tersebut hanya sebesar Rp12,49 miliar, jauh lebih kecil dibanding hari-hari net sell di periode yang sama.
Berita Terkait
Secara akumulasi, sejak konsultasi standalone market dibuka hingga Senin, 26 Oktober 2026, nilai net sell investor asing mencapai Rp11,78 triliun. Angka tersebut menggambarkan bahwa transaksi asing selama rentang waktu itu lebih dominan didorong oleh aktivitas jual bersih.
BEI menempatkan dinamika tersebut dalam konteks ketahanan pasar. Dengan MSCI yang sejak awal tahun membekukan rebalancing konstituen indeks untuk Indonesia, konsultasi yang dibuka kemudian menjadi bagian dari tahapan lanjutan yang sedang berjalan.
Apabila dilihat dari posisi sepanjang tahun berjalan (ytd), tekanan net sell investor asing juga tercermin dalam akumulasi yang lebih besar. Sejak awal tahun (ytd), net sell investor asing mencapai Rp96,72 triliun.
Walau demikian, catatan pada 21 Oktober 2026 menunjukkan bahwa tidak semua hari berakhir dengan net sell. Di hari tersebut, selisih nilai beli dan jual berada dalam posisi net buy, meski dengan nominal Rp12,49 miliar.
Rangkaian angka net sell dan net buy itu menjadi gambaran arus transaksi yang spesifik terhadap periode konsultasi. BEI menyoroti bahwa, meski dana asing mencatat net sell dalam sejumlah tanggal kunci, pasar modal domestik tetap dipandang resilien.
Dengan demikian, perhatian pasar berada pada dua lapis informasi sekaligus: sisi kebijakan indeks dari MSCI yang membekukan rebalancing dan membuka konsultasi standalone market, serta sisi pergerakan arus investor asing yang tercermin dari net sell harian maupun akumulasi hingga 26 Oktober 2026. Dari data yang tercatat, net sell periode konsultasi mencapai Rp11,78 triliun, sedangkan sejak awal tahun akumulasi net sell mencapai Rp96,72 triliun.
Jika dirunut per tanggal selama konsultasi standalone market, arus net sell investor asing bergerak tidak seragam: setelah Rp1,72 triliun pada 19 Oktober 2026, nilainya naik menjadi Rp2,19 triliun pada 20 Oktober 2026, lalu turun ke Rp1,40 triliun pada 22 Oktober 2026.
Selanjutnya, pada 23 Oktober 2026 nilai net sell berada di Rp1,28 triliun sebelum mencatat penguatan pada 26 Oktober 2026 sebesar Rp1,85 triliun. Variasi per hari ini memperlihatkan bahwa aktivitas jual bersih muncul dengan intensitas yang berubah-ubah sepanjang periode yang dipantau.
Di saat yang sama, catatan net buy pada 21 Oktober 2026 menjadi pengecualian karena hanya bernilai Rp12,49 miliar. Meski begitu, akumulasi hingga 26 Oktober 2026 tetap menunjukkan net sell investor asing sebesar Rp11,78 triliun, selaras dengan gambaran bahwa dominasi aktivitas jual bersih masih lebih kuat dibanding pembelian bersih.












