jurnalistik.co.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi meluncurkan indeks baru bernama IDX Commodity 20 (IDXCMDTY20). Peluncuran ini menjadi penanda tambahan indikator untuk memotret pergerakan harga saham-saham yang bergerak di sektor komoditas.
Indeks IDX Commodity 20 dirancang untuk mengukur kinerja harga dari 20 saham perusahaan penghasil komoditas. Selain itu, indeks ini juga mencakup perusahaan yang beroperasi di rantai pasok industri komoditas, sehingga cakupannya tidak hanya terbatas pada satu jenis pelaku.
Aturan peluncuran indeks tersebut tertuang dalam Pengumuman BEI No. Peng-00208/BEI.POP/10-2026. Dokumen yang ditandatangani oleh Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI, Pande Made Kusuma Ari A, serta Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 2 BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, ditetapkan pada 29 Oktober 2026.
BEI menyebut pemilihan konstituen dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik pasar. Konstituen yang masuk ke IDX Commodity 20 merupakan emiten dengan nilai kapitalisasi pasar yang tinggi serta likuiditas transaksi yang dinilai baik, sebagai dasar agar pergerakan indeks mencerminkan aktivitas perdagangan di pasar.
Metode perhitungan berbobot
Dalam perhitungan indeks, BEI menggunakan metode Capped Adjusted Free Float Market Capitalization Weighted. Melalui pendekatan ini, bobot tiap saham disesuaikan dengan nilai free float yang relevan, namun tetap dibatasi agar tidak ada satu saham yang mendominasi pergerakan indeks.
BEI menetapkan batas bobot (cap) paling tinggi sebesar 15% untuk setiap saham yang disesuaikan pada saat evaluasi. Dengan kerangka ini, mekanisme penghitungan diarahkan supaya komposisi indeks tetap terdiversifikasi dan mencerminkan pergerakan beberapa saham sekaligus.
Perhitungan mundur sejak 1 September 2021
Berita Terkait
Lebih lanjut, indeks IDX Commodity 20 dihitung mundur sejak hari dasarnya pada 1 September 2021 dengan nilai dasar 100. Artinya, pergerakan indeks tidak hanya tersedia sejak peluncuran, tetapi juga memiliki jejak historis berdasarkan skala awal yang ditetapkan BEI.
Penetapan hari dasar dan nilai awal tersebut memberi kerangka pembanding bagi pelaku pasar untuk menilai perubahan indeks dari waktu ke waktu, sekaligus memudahkan penelusuran dinamika kinerja harga konstituen indeks.
Dengan peluncuran IDX Commodity 20, BEI memperkenalkan indikator khusus yang memusatkan perhatian pada saham penghasil komoditas dan pelaku di rantai pasok industri komoditas. Indeks ini diharapkan dapat menjadi rujukan tambahan bagi investor dalam memantau pergerakan harga saham-saham terkait sektor tersebut melalui metodologi perhitungan yang telah ditetapkan secara resmi.
Peluncuran IDX Commodity 20 oleh BEI juga menekankan bahwa indeks ini dibentuk untuk menangkap dinamika perdagangan pada kelompok saham komoditas secara lebih spesifik. Dengan menempatkan 20 konstituen di dalam satu kerangka pengukuran, pergerakan indeks diharapkan tetap relevan dengan aktivitas pasar yang terjadi.
Dalam proses penyusunan konstituen, BEI menyoroti dua pertimbangan utama, yakni kapitalisasi pasar yang tinggi dan likuiditas transaksi yang dinilai baik. Pendekatan ini selaras dengan tujuan agar sinyal indeks tidak semata mencerminkan perubahan harga sesaat, melainkan lebih merefleksikan kondisi perdagangan yang dapat diamati dari waktu ke waktu.
Untuk memastikan bobot tiap saham terukur secara wajar, BEI menerapkan metode Capped Adjusted Free Float Market Capitalization Weighted. Melalui penyesuaian berdasarkan free float yang relevan, bobot lebih mencerminkan porsi saham yang benar-benar aktif diperdagangkan, sementara mekanisme pembatasan mencegah satu saham menguasai arah pergerakan indeks.
BEI menetapkan batas bobot maksimum sebesar 15% saat evaluasi, sehingga komposisi indeks tetap terdiversifikasi. Dengan demikian, perubahan nilai indeks tidak terlalu bergantung pada satu emiten saja, melainkan lebih terbagi pada beberapa konstituen yang bergerak bersama, sesuai karakter pasar yang ingin dipotret.
Selain itu, indeks IDX Commodity 20 dihitung mundur sejak hari dasar 1 September 2021 dengan nilai dasar 100. Perhitungan historis ini memberi acuan pembanding bagi pelaku pasar untuk menilai perubahan indeks dari periode ke periode, sekaligus mempermudah penelusuran dinamika kinerja konstituen yang berkaitan dengan industri komoditas.












