jurnalistik.co.id – Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyoroti rendahnya arus dana asing ke pasar Indonesia sebagai salah satu faktor yang membuat nilai tukar rupiah makin terpuruk. Menurutnya, kondisi itu terjadi ketika arus modal global ikut tertekan oleh arah kebijakan moneter negara maju.
Destry menyampaikan penilaian tersebut dalam konteks perkembangan rapat Dewan Gubernur yang sebelumnya dibahas di Gedung Bank Indonesia pada Rabu (23/9/2026). Dalam keterangannya, ia menekankan hubungan langsung antara pergerakan dana lintas negara dan tekanan terhadap mata uang domestik.
Ia menyebut, secara global imbal hasil yang relatif tinggi disertai prospek kenaikan Fed Fund Rate membuat perekonomian dunia bergerak ke fase yang ia sebut “higher for longer”. Artinya, suku bunga acuan dan kondisi keuangan cenderung bertahan lebih ketat dalam periode yang lebih panjang.
Destry lalu menggarisbawahi bahwa efek kebijakan tersebut tidak berhenti pada satu wilayah. Ia menyatakan, “Tentunya ini kan akan spill over ke negara-negara lain, termasuk negara berkembang yang selama ini kita banyak mendapatkan inflow juga dari negara-negara maju,” kata Destry dalam wawancaranya di Metro TV, Selasa (27/10/2026).
Dengan adanya spillover, arus masuk dana ke negara berkembang menjadi lebih terbatas. Pada saat yang sama, kebutuhan pembiayaan di pasar berkembang tetap tinggi, sehingga selisih antara ketersediaan dana dan permintaan valuta asing dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar.
Dalam penilaian Destry, rendahnya inflow yang masuk ke Indonesia berujung pada suplai dolar yang menjadi minim. Ia memandang faktor penekan rupiah muncul ketika ketersediaan valas tidak sebanding dengan kebutuhan di pasar domestik.
Ia menjelaskan logikanya melalui perbandingan antara suplai dan demand. Destry mengatakan, “Jadi kalau sudah suplai terbatas, sementara kita punya demand -nya kan tinggi, harga minyaknya naik, berarti kan kita harus punya kebutuhan untuk biaya kebutuhan dolar juga lebih tinggi.”
Berita Terkait
Uraian tersebut menegaskan bahwa tekanan pada rupiah tidak hanya terkait arus modal, tetapi juga berkaitan dengan dinamika kebutuhan dolar di dalam negeri. Saat demand meningkat dan suplai menipis, harga aset maupun nilai tukar berpotensi bergerak melemah.
Destry juga mengaitkan peningkatan kebutuhan dolar dengan faktor harga minyak. Ketika harga minyak naik, biaya yang membutuhkan pembayaran dalam denominasi dolar ikut meningkat, sehingga kebutuhan valuta asing menjadi lebih besar dari sebelumnya.
Dalam kerangka itu, rupiah menghadapi tantangan ganda: dari sisi eksternal, dana asing yang semula menjadi penopang pasar menjadi lebih terbatas; dari sisi internal, kebutuhan untuk memenuhi pengeluaran berbasis dolar ikut bertambah seiring kenaikan harga minyak.
Dengan kondisi tersebut, pasar cenderung menanggung tekanan yang lebih lama apabila arus dana global tidak segera membaik. Destry memosisikan faktor global “higher for longer” sebagai sumber awal yang kemudian menular melalui mekanisme spillover ke negara berkembang.
Penilaian gubernur juga menempatkan pergerakan nilai tukar sebagai indikator dari kombinasi kondisi tersebut. Karena rupiah sensitif terhadap perubahan arus modal dan biaya impor, pelemahan dapat terjadi ketika ketersediaan valuta asing tidak cukup untuk menutup kebutuhan yang meningkat.
Secara keseluruhan, pesan Destry berfokus pada hubungan sebab-akibat: imbal hasil yang tinggi dan potensi kenaikan Fed Fund Rate mendorong dunia bergerak ke era suku bunga yang bertahan tinggi; efeknya merembet ke negara berkembang melalui spillover; arus dana menjadi terbatas; pada akhirnya suplai dolar minim sementara demand tetap tinggi karena, antara lain, pergerakan harga minyak.
Di titik itulah rupiah mengalami tekanan yang lebih berat. Destry menekankan bahwa ketika suplai valas terbatas sementara kebutuhan dolar meningkat, nilai tukar berpotensi terus tertekan, setidaknya sampai terjadi perbaikan pada kondisi arus dana global dan faktor pendorong demand.












