jurnalistik.co.id – Nilai tukar rupiah kembali melemah dan menembus level yang memicu perhatian serius berbagai pihak. Pada penutupan perdagangan Rabu (28/10/2026), rupiah berada di Rp18.183/US$, turun 0,17% dan menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai pemerintah dan Bank Indonesia (BI) perlu menjalankan langkah yang lebih konkret untuk meredam volatilitas rupiah. Menurutnya, penguatan fundamental menjadi prasyarat agar pergerakan kurs tidak terus bergerak liar dalam waktu dekat maupun menengah.
Rahma menyoroti bahwa rupiah sempat menyentuh All Time Low (ATL) di Rp18.188/US$ pada siang hari sebelum akhirnya finis di level Rp18.183/US$ saat closing. Dengan rujukan penutupan, level tersebut tercatat sebagai yang terlemah sepanjang sejarah.
Dalam kondisi yang dinilai rawan, ia menekankan perlunya policy mix yang tidak berhenti pada tataran seremonial. Fokusnya adalah kombinasi kebijakan yang mampu meredam fluktuasi sekaligus menyiapkan fondasi agar nilai rupiah lebih tahan terhadap guncangan.
Policy mix harus melampaui pendekatan normatif
Rahma menyatakan bahwa langkah BI dan pemerintah tidak boleh sekadar mengikuti pola normatif tanpa dampak yang terasa. Ia menilai kebijakan yang dibutuhkan harus mengarah pada tindakan taktis dalam jangka pendek, bersamaan dengan intervensi yang bersifat struktural untuk periode menengah.
“Dalam situasi rawan seperti ini, bauran kebijakan (policy mix) yang ditempuh BI dan pemerintah tidak boleh sebatas bersifat seremonial atau normatif. Dibutuhkan langkah-langkah taktis jangka pendek untuk meredam volatilitas, sekaligus intervensi struktural jangka menengah agar fundamental rupiah kembali kokoh,” kata Rahma kepada Bloomberg Technoz, Rabu (28/10/2026).
Menurut Rahma, arah kebijakan yang kuat semestinya ditujukan untuk menekan gejolak jangka pendek yang langsung memengaruhi nilai tukar. Pada saat yang sama, penguatan fundamental diperlukan agar rupiah punya daya tahan yang lebih baik ketika tekanan berulang datang lagi.
Ia juga menilai bahwa tantangan yang dihadapi bukan sekadar masalah pergerakan kurs sesaat, melainkan persoalan yang terkait dengan kualitas stabilitas. Karena itu, kebijakan yang diambil perlu menyentuh akar masalah agar tidak berhenti di level respons permukaan.
Sumber tekanan tidak tunggal: faktor global dan domestik
Berita Terkait
Rahma menilai pelemahan rupiah saat ini tidak bisa dijelaskan hanya dari satu sisi. Ia menyebut ada tekanan yang berasal dari ketidakpastian suku bunga global serta dinamika geopolitik yang memengaruhi kondisi pasar.
Namun, di saat yang sama, ia menekankan bahwa faktor domestik juga turut memberi pengaruh terhadap rupiah. Dengan demikian, respons kebijakan harus mempertimbangkan kedua jenis tekanan agar strategi yang dilakukan tidak timpang.
Dalam pandangannya, situasi seperti ini menuntut keterpaduan langkah. Kebijakan yang hanya menunggu arah pasar global tanpa memperkuat elemen domestik berisiko tidak cukup untuk meredam volatilitas.
Rahma menempatkan volatilitas sebagai indikator penting yang perlu diredam melalui tindakan taktis. Pada saat yang sama, intervensi struktural di periode menengah dipandang perlu agar fundamental rupiah dapat kembali kokoh.
Ia juga menggarisbawahi bahwa pergerakan rupiah yang mencapai level Rp18.183/US$ pada closing, setelah sempat menyentuh ATL Rp18.188/US$, menggambarkan tekanan yang sedang kuat. Karena itu, kebijakan yang diambil harus mampu menjawab kondisi nyata di lapangan, bukan hanya bersifat wacana.
Implikasi bagi kestabilan nilai tukar
Dengan rupiah yang sudah mencatat level terlemah sepanjang sejarah di penutupan, kepercayaan pasar menjadi perhatian tersendiri. Pemerintah dan BI perlu menjaga agar volatilitas tidak terus melebar dan mengganggu ekspektasi pelaku ekonomi.
Rahma memandang bahwa langkah taktis jangka pendek diperlukan untuk menahan laju fluktuasi. Sementara itu, kebijakan struktural jangka menengah diperlukan untuk memastikan fundamental ekonomi dan kondisi yang melandasi nilai tukar tidak terus melemah.
Ia menegaskan perlunya policy mix yang efektif dan terukur. Bukan hanya berisi pernyataan kebijakan, melainkan tindakan yang punya dampak nyata terhadap stabilitas rupiah.
Pada akhirnya, pembelajaran dari pergerakan rupiah menuju Rp18.183/US$ pada Rabu (28/10/2026) menegaskan urgensi respons. Bagi Rahma, kombinasi langkah yang konkret—menekan volatilitas dalam waktu dekat sekaligus memperkuat dasar fundamental dalam periode menengah—menjadi kunci agar rupiah kembali lebih stabil.












