jurnalistik.co.id – Perdagangan saham pekan lalu, 14–18 September 2026, menunjukkan tekanan yang cukup terasa di pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 1,53% secara point-to-point dan ditutup di level 6.441.
Di tengah pelemahan tersebut, pelaku asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp2,9 triliun. Secara akumulasi sepanjang 2026 pada pasar reguler, nilai net sell investor asing mencapai Rp101 triliun.
Dari sisi saham, Bank Mandiri (BMRI) menjadi salah satu penekan terbesar. Investor asing membukukan net sell terbesar pada BMRI sebesar Rp702,5 miliar, yang berimbas pada pelemahan sahamnya 2,29% menjadi Rp4.260 per saham.
Berikut 10 saham dengan net sell terbesar oleh investor asing selama periode 14–18 September 2026. Angka yang dicatat meliputi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp626,77 miliar, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Rp204,37 miliar, serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp178,66 miliar.
Selain itu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatat net sell Rp169,73 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp160,58 miliar, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp113,41 miliar. Berikutnya, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) sebesar Rp108,76 miliar dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp97,43 miliar.
Untuk melengkapi daftar, PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) mencatat net sell Rp85,93 miliar pada pekan tersebut. Kondisi ini menggambarkan bahwa distribusi penjualan asing tidak hanya terkonsentrasi pada satu emiten, melainkan menyebar pada beberapa sektor di bursa.
Respons pasar pada sisi pembelian bersih
Meski asing lebih dominan menjual bersih, terdapat pula saham yang justru menjadi sasaran beli. Pada saat yang sama, investor asing mencatat net buy terbesar pada PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) senilai Rp367,13 miliar.
Berita Terkait
Terdorong arus pembelian tersebut, saham BRMS menguat 6,67% dan bergerak hingga level Rp720 per saham pada periode penelusuran. Penguatan ini menjadi kontras terhadap daftar saham yang mengalami penurunan akibat net sell.
Berikut 10 saham dengan net buy tertinggi oleh investor asing selama perdagangan 14–18 September 2026. Selain BRMS Rp367,13 miliar, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) mencatat net buy Rp184,78 miliar.
Selanjutnya, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sebesar Rp108,36 miliar, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp104,05 miliar, dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) Rp67,84 miliar. Setelahnya, PT Singaraja Putra Tbk (SINI) mencatat Rp50,01 miliar, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) Rp45,84 miliar, serta PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) Rp33,7 miliar.
Daftar net buy juga mencantumkan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebesar Rp27,66 miliar dan PT Indah Kiat Pulp and Paper Corp Tbk (INKP) Rp26,63 miliar. Secara keseluruhan, komposisi net buy ini menunjukkan bahwa minat asing tetap ada, tetapi lebih terarah pada emiten tertentu dibanding memperluas posisi ke seluruh pasar.
Dengan IHSG yang melemah sepanjang sepekan dan arus asing yang masih mencatat net sell cukup besar, pola pekan lalu memperlihatkan adanya selektivitas. Investor asing menekan sejumlah saham yang masuk daftar net sell, sementara pada sisi lain tetap melakukan penyerapan pada emiten yang mencatat net buy tertinggi.
Jika ditelusuri lebih rinci, tekanan penjualan bersih investor asing pada pekan 14–18 September 2026 tidak berdiri pada satu nama saja. Selain BMRI, nama-nama seperti BBCA, BBNI, dan BBRI juga tercatat mengalami net sell yang cukup besar, sehingga pelemahan yang tercermin di pasar modal ikut dipengaruhi oleh beberapa emiten sekaligus.
Pada saat yang sama, arus dana tidak sepenuhnya bergerak satu arah. Saham BRMS menjadi titik pembelian dengan net buy Rp367,13 miliar, dan keberlanjutan minat tersebut terlihat lewat emiten lain yang juga mencatat net buy, seperti ANTM, AADI, EMAS, serta ERAA. Komposisi dua daftar tersebut menggambarkan bahwa penyesuaian portofolio dilakukan secara selektif, bukan sekadar melepas posisi secara menyeluruh.
Dengan IHSG yang berakhir melemah dan net sell asing yang tetap dominan, namun di sisi lain net buy muncul pada sejumlah saham tertentu, dinamika sepekan memperlihatkan kecenderungan selektivitas. Investor asing tampak menekan kontraksi pada saham-saham yang masuk daftar net sell, sambil mempertahankan atau menambah posisi pada emiten yang menunjukkan arus pembelian bersih.












