Bisnis & Ekonomi

Ekonom: Arus Keluar Dana Asing Diperkirakan Masih Berlanjut Meski The Fed Tahan Suku Bunga

×

Ekonom: Arus Keluar Dana Asing Diperkirakan Masih Berlanjut Meski The Fed Tahan Suku Bunga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ekonom: Arus Keluar Asing Berlanjut Meski FED Tahan Suku Bunga - Market

jurnalistik.co.id – Arus keluar dana asing dari pasar keuangan Indonesia diperkirakan belum berbalik menjadi arus masuk meski The Fed memutuskan menahan suku bunga acuan. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai penahanan tersebut lebih berfungsi sebagai jeda tekanan, bukan sinyal pelonggaran kebijakan.

Dalam rapat yang diputuskan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), federal funds rate dipertahankan pada kisaran 3,75–4% melalui voting 10–2. Meski hasil suara menunjukkan keputusan bertahan, Yusuf mengatakan keputusan itu tidak otomatis mengubah arah kebijakan ke depan bagi Indonesia.

“The Fed hanya memberi jeda tekanan, bukan membuka ruang pelonggaran kebijakan bagi Indonesia,” ujar Yusuf. Menurutnya, The Fed tetap memandang ekonomi Amerika Serikat tumbuh kuat dan konsumsi bertahan, sehingga ruang untuk penurunan kebijakan tidak terlihat.

Yusuf menambahkan bahwa perbedaan suara dalam rapat justru mengarah pada potensi kenaikan suku bunga. Ia juga menyebut pasar masih memperkirakan kebijakan dapat kembali diperketat pada Desember.

Implikasi dari ekspektasi tersebut, lanjut Yusuf, membuat imbal hasil US Treasury tetap tinggi. Di saat yang sama, likuiditas global belum beralih untuk mencari aset berisiko, yang biasanya menjadi salah satu pendorong aliran dana lintas negara ke pasar berkembang.

Tekanan belum sepenuhnya mereda

Menurut Yusuf, kondisi pasar Indonesia tidak sepenuhnya ditentukan oleh kebijakan suku bunga AS. Ia menilai, meski arus keluar bisa melambat, prosesnya belum berbalik ke arus masuk.

“Arus keluar dari pasar keuangan Indonesia mungkin melambat, tetapi belum akan berbalik menjadi arus masuk. Penyebabnya bukan hanya kebijakan suku bunga AS,” katanya kepada Bloomberg Technoz pada Kamis (29/10/2026).

Ia menjelaskan bahwa di pasar saham, tekanan juga dipicu oleh konsultasi MSCI. Setelah itu, tekanan yang muncul di ekuitas dinilai dapat merembet dan berdampak pada instrumen pendapatan tetap, termasuk SBN dan SRBI.

Dengan mekanisme transmisi seperti itu, pergerakan arus dana cenderung mengikuti kombinasi faktor eksternal dan dinamika portofolio. Yusuf menempatkan kebijakan The Fed sebagai variabel penting, tetapi menegaskan bahwa ia bukan satu-satunya penentu arah aliran dana.

Dalam pandangannya, penahanan suku bunga seolah memberi waktu bagi pasar, namun belum menghapus risiko yang mendorong investor untuk tetap berhati-hati. Karena itu, perubahan yang terjadi lebih berupa penyesuaian kecepatan arus, bukan perubahan total kecenderungan.

Ekspektasi desakan suku bunga masih membayangi

Yusuf juga menyoroti bahwa keputusan FOMC tidak datang dalam situasi yang sepenuhnya menenangkan. Hasil voting 10–2 menggambarkan masih adanya perbedaan pandangan di internal perumusan kebijakan, dan ia membaca perbedaan tersebut sebagai sinyal bahwa kenaikan suku bunga tetap mungkin dipertimbangkan.

Ia mengatakan The Fed menilai perekonomian AS tetap kuat dan konsumsi bertahan. Dengan fondasi tersebut, bank sentral cenderung tidak tergesa-gesa mengubah stance kebijakan hanya karena ada jeda pada rapat tertentu.

Dari sisi ekspektasi pasar, Yusuf menyebut antisipasi bahwa kebijakan bisa kembali diperketat pada Desember masih menjadi pertimbangan pelaku. Keadaan ini membuat imbal hasil US Treasury bertahan relatif tinggi, sehingga biaya peluang untuk menahan dana pada aset berisiko menjadi kurang menarik.

Karena imbal hasil global belum mengalami pergeseran yang cukup berarti, ia memperkirakan likuiditas internasional belum sepenuhnya bergerak menuju aset berisiko. Dalam kerangka itu, dana asing yang sebelumnya keluar dari pasar Indonesia dinilai belum otomatis kembali dalam skala yang dapat mengubah arah tren.

Selain itu, Yusuf menekankan bahwa tekanan di pasar tidak berhenti di pasar saham saja. Konsultasi MSCI yang disebutnya dapat memengaruhi manajemen portofolio, lalu tekanan diperluas ke SBN dan SRBI, sehingga dinamika lintas pasar ikut membentuk kondisi arus dana secara keseluruhan.

Dengan pertimbangan tersebut, kesimpulan Yusuf adalah bahwa keputusan The Fed untuk menahan suku bunga pada rapat FOMC tidak langsung berarti meredanya tekanan bagi Indonesia. Penahanan suku bunga memberi jeda, tetapi faktor ekonomi yang dipandang kuat oleh The Fed serta ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan kembali membuat prospek arus dana belum berubah ke arah yang lebih mendukung.

“Arus keluar mungkin melambat, namun belum berbalik menjadi arus masuk,” tutup Yusuf dalam penilaiannya. Ia melihat kombinasi kebijakan suku bunga AS, ekspektasi lanjutan pada Desember, serta dampak konsultasi MSCI sebagai rangkaian yang masih akan memengaruhi pergerakan dana asing dalam waktu dekat.