jurnalistik.co.id – The Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75% hingga 4,00%. Keputusan tersebut, meski menjadi sinyal kebijakan untuk menjaga arah inflasi, ternyata tidak sepenuhnya bulat di internal FOMC.
Dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung dua hari, dua anggota komite menyatakan dissent dan mendorong kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Pengumuman suku bunga dilakukan pada Rabu waktu Amerika Serikat atau Kamis dini hari waktu Indonesia (29/10/2026).
Keputusan bertahan, namun suara terbelah
The Fed mengakui inflasi masih berada pada level yang tinggi. Lewat pernyataan resminya, bank sentral juga membuka kemungkinan langkah lanjutan, dengan arah kebijakan bergantung pada perkembangan data ekonomi.
FOMC menegaskan, “Akumulasi informasi lebih lanjut akan membantu Komite menentukan sikap kebijakan yang tepat untuk memastikan inflasi kembali ke target 2% secara tepat waktu.” Pernyataan ini menjadi benang merah bahwa kebijakan suku bunga masih ditautkan pada kemajuan menuju target inflasi.
Namun, pada saat yang sama terdapat perbedaan pandangan yang dibawa ke forum publik. Gubernur The Fed Lisa Cook dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack sama-sama mendukung kenaikan suku bunga 25 basis poin, menentang keputusan mempertahankan level saat ini.
Catatan perjalanan suku bunga sejak 2025
Langkah kali ini juga melanjutkan pola respons The Fed terhadap dinamika inflasi sepanjang 2025 dan 2026. Pada 2025, The Fed menahan suku bunga hingga Agustus 2025 di level 4,25%–4,50%.
Setelah itu, bank sentral memangkas suku bunga pada September, Oktober, dan Desember 2025 hingga berada di rentang 3,50%–3,75%. Memasuki Januari sampai Juli 2026, suku bunga kembali ditahan sebelum akhirnya dinaikkan pada September 2026 menjadi 3,75%–4,00%.
Kevin Warsh: tidak ada petunjuk arah, dan memilih kehati-hatian
Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberikan panduan mengenai arah kebijakan moneter ke depan. Meski demikian, ia mengakui The Fed belum berhasil mencapai stabilitas harga.
Warsh menyampaikan, “Kami sedang mengupayakannya,” kata Warsh, dikutip dari Reuters. Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin mendahului hasil rapat berikutnya.
“Banyak hal bisa terjadi. Karena itu, saya tidak bisa membagikan pemikiran saya mengenai apa yang akan terjadi ketika kelompok ini kembali berkumpul enam pekan dari sekarang,” ujarnya. Warsh mengambil alih kepemimpinan The Fed pada Mei lalu.
Perubahan jadwal rapat kebijakan mulai 2027
Warsh juga mengumumkan rencana perubahan jadwal rapat kebijakan mulai 2027. The Fed tetap menggelar delapan rapat setiap tahun, tetapi tidak seluruh rapat digunakan untuk menetapkan suku bunga.
Dalam rancangan tersebut, satu rapat akan difokuskan pada pembahasan strategi kebijakan moneter secara luas tanpa pemungutan suara untuk menentukan suku bunga acuan maupun penerbitan pernyataan kebijakan. Enam rapat lainnya diarahkan pada penetapan kebijakan pada 2028, sedangkan dua rapat tersisa untuk pembahasan strategi.
Menurut Warsh, perubahan ini dimaksudkan agar para pejabat memiliki ruang lebih luas untuk mendiskusikan isu ekonomi jangka panjang dan mengevaluasi strategi kebijakan secara lebih mendalam.
Penolakan terhadap forward guidance
Warsh kembali menegaskan ketidaksetujuannya terhadap praktik forward guidance, yakni komunikasi bank sentral mengenai arah kebijakan suku bunga di masa mendatang. Ia menyatakan prinsip itu hanya dapat diterima dalam situasi tertentu.
“Saya tidak percaya pada forward guidance, kecuali dalam keadaan mendesak atau ketika terjadi krisis,” kata Warsh. Ia menilai pendekatan tersebut dapat membantu pada kondisi luar biasa, seperti krisis keuangan global 2008.
Berita Terkait
Namun, dalam kondisi ekonomi normal—terutama saat perekonomian sedang kuat—Warsh menilai komunikasi semacam itu tidak diperlukan.
Dampak suku bunga pada investasi, termasuk sektor AI
Warsh juga menyebut suku bunga yang tinggi ikut memengaruhi pembangunan infrastruktur untuk artificial intelligence (AI). Ia mengatakan investor kini semakin selektif dalam menentukan investasi, yang tampak dari pelebaran selisih imbal hasil kredit pada sejumlah aset serta pengetatan kondisi keuangan pada sebagian sektor.
Meski begitu, Warsh menilai belanja modal perusahaan tidak hanya bertahan, tetapi juga mulai meluas ke lebih banyak sektor ekonomi. Ia menambahkan bahwa kekuatan ekonomi AS saat ini semakin sulit dijelaskan hanya oleh kinerja segelintir sektor tertentu.
Indikator ekonomi: PDB, tenaga kerja, dan fokus mandat stabilitas harga
Dalam penilaiannya, Warsh melihat pertumbuhan ekonomi AS menunjukkan penguatan. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada semester I-2026 direvisi naik dari estimasi sebelumnya sebesar 1,8% menjadi 2,4%.
Sementara itu, pertumbuhan pada kuartal III-2026 diperkirakan berlangsung lebih cepat. Dari sisi ketenagakerjaan, Warsh menyebut tingkat pengangguran menurun dibandingkan setahun sebelumnya.
Ia juga menyatakan rata-rata klaim tunjangan pengangguran selama empat pekan berada pada level terendah dalam beberapa generasi. Warsh menegaskan bahwa pembahasan kebijakan dalam beberapa hari terakhir lebih banyak berfokus pada mandat stabilitas harga.
Warsh membantah keputusan dipengaruhi politik
Warsh menegaskan bahwa keputusan suku bunga tidak dipengaruhi oleh dinamika politik menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) AS pada 3 November 2026. Ia menyatakan tidak mendengar pembahasan mengenai politik, pemilu, maupun perkembangan politik dalam diskusi bersama para pejabat The Fed selama dua hari rapat.
Warsh juga menegaskan faktor politik tidak berperan dalam keputusan tersebut, baik bagi dirinya maupun anggota FOMC lainnya. Meski demikian, perbedaan pendapat tetap menjadi perhatian publik karena munculnya dua suara yang mendorong kenaikan.
Dissent yang disorot: Lisa Cook dan Beth Hammack
Gubernur The Fed Lisa Cook—yang disebut tengah menjadi sasaran upaya Presiden Donald Trump untuk memberhentikannya dari bank sentral—menyatakan perbedaan pendapat dalam keputusan kebijakan moneter untuk pertama kalinya. Cook mendukung kenaikan suku bunga 25 basis poin.
Adapun Beth Hammack, yang dikenal memiliki pandangan hawkish atau cenderung mendukung kebijakan moneter ketat, juga berbeda pendapat dan mendukung kenaikan dengan besaran yang sama. Keberadaan dua dissent itu menjadi bagian dari sinyal internal terkait seberapa jauh kebijakan perlu dikencangkan.
Reaksi pasar dan ekspektasi lanjutan
Respons pasar relatif terbatas setelah keputusan diumumkan. Saham-saham AS sedikit memangkas kenaikannya, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury melanjutkan tren kenaikan.
Imbal hasil tenor 10 tahun tercatat mencapai 5,042%. Kontrak berjangka suku bunga jangka pendek juga sedikit menguat seiring investor mengurangi sebagian taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Kelly Brown, CEO Ampersand, menilai bahwa keputusan menahan suku bunga tidak otomatis berarti kondisi akan menjadi lebih longgar. Ia menyatakan, “Keputusan menahan suku bunga bukan berarti kelegaan,” seperti dikutip dari CNBC International.
Brown menambahkan, “Ini merupakan pesan The Fed kepada masyarakat dan pelaku usaha untuk menunggu. Dengan inflasi yang masih sebesar 3,7% dan harga minyak di atas US$100 per barel, perusahaan tidak bisa berharap biaya pinjaman akan turun dalam waktu dekat.”
Di pasar, skenario kenaikan suku bunga tetap diperhitungkan. Pasar memperkirakan sekitar 80% potensi kenaikan akan terjadi pada rapat 8–9 Desember, sementara kenaikan berikutnya diperkirakan paling lambat terjadi pada bulan Maret.












