jurnalistik.co.id – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah. Mata uang Garuda bahkan sudah melampaui batas psikologis Rp18.000 per US$.
Tekanan terhadap rupiah juga makin menjauh dari asumsi dasar ekonomi makro dalam Undang-Undang APBN 2026. Dalam beleid tersebut, kurs acuan berada di level Rp16.500 per US$.
Menuju level psikologis Rp18.000/US$
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh level Rp18.180 per US$ pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026. Setelah itu, rupiah ditutup di posisi Rp18.183 per US$ dan menjadi penutupan terlemah sepanjang sejarah.
Pergerakan tersebut menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak berhenti pada satu titik, melainkan berpotensi berlanjut. Dalam kondisi seperti ini, pasar biasanya membaca adanya kesenjangan antara kebutuhan valas dan ketersediaan likuiditas dalam negeri yang memadai.
Risiko fiskal dan kebutuhan valas di dalam negeri
Sejumlah ekonom menilai, tekanan pada rupiah ikut mencerminkan meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri. Ketika permintaan valas bertambah sementara arus masuk tidak mengikuti, tekanan kurs cenderung makin terasa.
Selain faktor kebutuhan valas, ekonom juga mengaitkan situasi ini dengan ketidakpastian fiskal. Ketika kredibilitas arah kebijakan fiskal dirasakan menurun, pelaku pasar cenderung menilai risiko investasi dan pembiayaan makin tinggi.
Dalam penilaian mereka, kondisi tersebut juga berkaitan dengan berkurangnya kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Kepercayaan investor yang menurun dapat tercermin pada pengetatan preferensi terhadap instrumen berisiko, termasuk aset yang terkait mata uang.
Jauh dari asumsi APBN 2026
Berita Terkait
Perbedaan kurs aktual dengan asumsi APBN 2026 menjadi sorotan karena menggambarkan tantangan yang lebih berat dari perkiraan awal. Ketika rupiah melemah melewati target asumsi, implikasinya dapat merembet ke berbagai sisi, mulai dari biaya berbasis valas hingga persepsi risiko ekonomi.
Ekonom menyebut bahwa ke depan rupiah berhadapan dengan ancaman pelemahan lanjutan. Ancaman ini diperkirakan makin kuat ketika tekanan eksternal berjalan beriringan dengan persoalan ekonomi di dalam negeri.
Dengan latar tersebut, pelaku pasar dapat menilai bahwa perbaikan kurs tidak hanya menunggu sentimen global. Diperlukan juga kepastian arah kebijakan dan stabilitas kondisi domestik agar ekspektasi pelaku pasar kembali membaik.
Potensi dampak ke pasar dan pembiayaan
Dalam mekanismenya, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya transaksi dan pembiayaan yang berkaitan dengan pembayaran dalam mata uang asing. Hal ini pada akhirnya berpotensi mendorong perhatian yang lebih besar pada pengelolaan risiko nilai tukar di berbagai sektor.
Di sisi lain, ketika investor mulai menilai prospek keuangan dan pembiayaan sebagai lebih berisiko, arus modal bisa bereaksi lebih selektif. Reaksi tersebut sering kali tercermin pada meningkatnya tuntutan imbal hasil serta kehati-hatian terhadap aset yang sensitiv terhadap perubahan kurs.
Karena itu, perhatian pada risiko fiskal dan stabilitas kepercayaan investor menjadi semakin relevan. Ketika keduanya tidak cukup terjaga, kurs berpotensi tetap berada di tekanan yang sama atau bahkan bertambah berat.
Dengan rupiah yang berada di level rekor terlemah dan sudah menjauh dari asumsi Rp16.500 per US$, pasar menunggu sinyal lanjutan mengenai arah kebijakan serta ketahanan ekonomi domestik. Dalam situasi seperti ini, pergerakan harian kurs menjadi indikator yang paling cepat menggambarkan perubahan sentimen.
Selain faktor kesenjangan kebutuhan dan ketersediaan likuiditas valas, pasar juga cenderung menilai bagaimana ekspektasi pelaku mulai bergeser dari asumsi awal. Saat kurs aktual terus menjauh dari level acuan, penilaian risiko biasanya ikut naik, membuat perhitungan biaya dan keputusan transaksi menjadi lebih ketat.
Dalam konteks tersebut, pelemahan rupiah dapat memunculkan penyesuaian perilaku di berbagai pihak, mulai dari cara pelaku mengatur posisi valas hingga bagaimana pembiayaan diperlakukan sebagai variabel risiko. Ketika perhatian pasar makin fokus pada kestabilan, pergerakan harga harian menjadi sinyal yang cepat untuk membaca perubahan sentimen.
Karena itu, ruang untuk meredakan tekanan kurs sangat bergantung pada adanya kejelasan arah kebijakan serta konsistensi kondisi domestik. Selama pasar belum melihat penguatan kredibilitas dan keyakinan terhadap prospek, pelemahan dapat terus bertahan, dan penyesuaian biaya berbasis valuta asing berpotensi makin terasa dalam aktivitas ekonomi.












