jurnalistik.co.id – Perdagangan surat utang pemerintah pada Kamis (29/10/2026) menunjukkan perbaikan yang lebih terasa di bagian tenor pendek. Meski belum terjadi penguatan yang merata, penurunan yield di segmen tersebut ikut membawa nilai tukar rupiah masuk ke zona hijau.
Data pasar memperlihatkan bahwa yield SUN tenor 1 tahun terkoreksi hingga 6,91%. Pergerakan ini terjadi seiring yield tenor 1 tahun turun 5,2 basis poin (bps), sementara tenor 1,5 tahun juga melemah dengan penurunan 1,4 bps menuju 7,01%.
Pola serupa tampak pada tenor 5 tahun yang ikut turun. Yield tenor 5 tahun tercatat bergeser lebih rendah sebesar 5,3 bps ke level 7,5%, sehingga tekanan di rentang waktu lebih pendek terlihat lebih terkendali dibanding sebelumnya.
Penurunan juga terjadi pada tenor menengah dengan penyesuaian yang lebih terbatas. Tenor 8 dan 9 tahun masing-masing turun 0,5 bps dan 0,9 bps, bergerak menuju 7,64%, menandakan penyesuaian harga masih berlangsung namun tidak sedalam tenor pendek.
Dari sisi valuta, meredanya yield di pasar obligasi berdampak pada rupiah. Rupiah menguat 0,43% ke Rp18.105/US$ seiring perbaikan yang muncul di yield tenor pendek siang itu.
Tenor acuan 10 tahun melandai, namun tetap tertekan
Sementara itu, yield tenor 10 tahun juga mengalami penurunan. Yield tenor 10 tahun turun 3,6 bps menjadi 7,61%, memperlihatkan ada pelemahan tekanan pada bagian acuan.
Meski demikian, pergerakan tersebut tidak sepenuhnya mengubah karakter pasar pada tenor panjang menengah. Yield tenor 10 tahun masih berada pada level tertinggi sejak empat tahun, sehingga sentimen jual masih terasa walau terlihat sedikit melandai.
Berita Terkait
Tekanan bergeser ke tenor yang lebih panjang
Pada bagian tenor yang lebih panjang, tekanan justru tetap muncul dan bahkan menguat pada beberapa segmen. Tenor 13 tahun menjadi yang paling besar kenaikannya, dengan yield naik 14,7 bps ke level 7,67%.
Setelah tenor 13 tahun, tenor 11 tahun turut mencatat peningkatan. Yield tenor 11 tahun naik 14,5 bps dan berada pada level 7,67%.
Begitu pula dengan tenor 18 tahun yang ikut mengalami kenaikan yield. Yield tenor 18 tahun naik 14,4 bps menuju 7,68%, menunjukkan bahwa pembeli masih menghadapi tantangan saat berhadapan dengan kurva imbal hasil pada horizon lebih jauh.
Tenor 30 tahun juga menunjukkan tekanan jual yang tercermin dari kenaikan yield. Yield tenor 30 tahun bertambah 11,4 bps ke level 7,67%, menegaskan bahwa kenaikan yield pada tenor panjang tidak hilang meskipun tenor pendek sempat membaik.
Secara keseluruhan, dinamika hari ini menampilkan kontras yang jelas antarsegmen. Penurunan yield pada tenor pendek memberi ruang bagi rupiah menguat, tetapi pada tenor panjang, yield tetap tertekan dan berakhir lebih tinggi di sejumlah titik tenor, termasuk 13, 11, 18, dan 30 tahun.
Pergerakan yang terjadi pada sesi ini memperlihatkan respons pasar yang tidak seragam. Di sisi imbal hasil yang lebih dekat jatuh tempo, penurunan yield menjadi pemicu utama membaiknya posisi rupiah. Namun, ketika perhatian bergeser ke bagian kurva yang lebih panjang, kecenderungan melemah tidak sepenuhnya berlanjut, sehingga sentimen justru kembali menghadirkan tekanan harga pada horizon yang lebih jauh.
Dengan yield pada beberapa tenor panjang yang meningkat, kurva tetap mencerminkan adanya kebutuhan kompensasi yang lebih besar bagi investor terhadap risiko waktu. Kondisi ini sekaligus menjelaskan mengapa penurunan di tenor pendek hanya memberi “ruang napas” sementara, sementara pada tenor acuan dan rentang panjang, tekanan jual masih mewarnai perdagangan. Kombinasi tersebut akhirnya menghasilkan gambaran hari ini yang berimbang: rupiah menguat seiring tenor pendek membaik, tetapi imbal hasil jangka panjang berakhir lebih tinggi di beberapa titik tenor.












