Bisnis & Ekonomi

IHSG Berpotensi Menguat: Defisit Transaksi Berjalan II-2026 Diprediksi Membaik Meski Risiko Global Mengintai

×

IHSG Berpotensi Menguat: Defisit Transaksi Berjalan II-2026 Diprediksi Membaik Meski Risiko Global Mengintai

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: IHSG Dapat Angin Segar dari Defisit Transaksi Berjalan, Meski Dihantui Risiko Global

jurnalistik.co.id – Defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2026 diproyeksikan membaik dibanding kuartal sebelumnya, sehingga berpotensi memberi angin segar bagi pergerakan pasar finansial domestik.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan defisit transaksi berjalan kuartal II-2026 berada di kisaran 1,8 miliar dollar AS. Proyeksi itu mengacu pada data Trading Economics, dengan perbandingan bahwa kuartal I-2026 mencatat defisit sebesar 4 miliar dollar AS.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan bahwa pasar tengah mengantisipasi perbaikan yang cukup berarti pada neraca transaksi berjalan ketimbang periode sebelumnya. Jika realisasi berada mendekati angka perkiraan, dampaknya bisa terasa pada sentimen investor di pasar saham dan nilai tukar rupiah.

Nafan menyebut prediksi defisit transaksi berjalan kuartal II-2026 pada 21 Agustus 2026 diperkirakan masih menunjukkan kondisi yang terkendali, yakni di sekitar 1,8 miliar dollar AS. Ia menambahkan bahwa angka sebelumnya pada kuartal I-2026 tercatat defisit 4,0 miliar dollar AS.

Menurutnya, skenario ketika defisit kuartal II-2026 benar-benar mendekati proyeksi 1,8 miliar dollar AS, atau bahkan lebih kecil dari perkiraan, berpotensi menjadi katalis positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta rupiah. Hal itu dinilai mencerminkan tekanan dari sisi eksternal Indonesia relatif lebih terjaga dibanding kuartal sebelumnya.

Selain isu transaksi berjalan, pergerakan awal perdagangan juga menunjukkan respons pasar yang positif. Pada Jumat pagi, rupiah di pasar spot disebut menguat saat pembukaan.

Di tingkat kurs, mata uang rupiah berada pada level Rp 17.710 per dollar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.20 WIB, kurs rupiah di spot menguat 0,21 persen dibanding penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di area Rp 17.748 per dollar AS.

Di sisi pasar saham, IHSG juga tercatat bergerak menguat sejak pembukaan. Hingga pukul 09.46 WIB, indeks berada di area 6.527,767 atau naik 26,182 poin setara 0,40 persen dibanding posisi sebelumnya.

Pada awal perdagangan, IHSG dibuka pada angka 6.524,075. Selanjutnya, indeks bergerak dalam rentang 6.507,434 hingga 6.543,998 pada sesi pagi tersebut.

Namun demikian, Nafan menegaskan bahwa pasar saham Indonesia masih menghadapi sejumlah risiko yang bersumber dari dinamika global. Fokus perhatian investor, menurutnya, tertuju pada meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Ketegangan itu turut mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent hingga menembus 93 dollar AS per barrel. Perubahan pada komoditas energi, pada gilirannya, dipandang meningkatkan risiko tekanan inflasi.

Jika tekanan inflasi menguat, ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga juga bisa semakin terbatas. Dalam kondisi seperti ini, pasar berpotensi lebih berhati-hati terhadap ekspektasi kebijakan moneter domestik yang pada praktiknya dipengaruhi oleh situasi inflasi dan volatilitas global.

Di luar faktor konflik geopolitik, investor juga mencermati arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed). Notula rapat The Fed, sebagaimana disebut Nafan, memperlihatkan bahwa ketidakpastian terkait inflasi masih tinggi.

Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan apabila tekanan inflasi kembali meningkat. Dengan kata lain, jalur kebijakan The Fed menjadi variabel penting yang dapat menentukan arah sentimen di pasar keuangan global, termasuk arus dana ke instrumen berisiko.

Kekhawatiran tersebut juga tercermin dari pergerakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS. Nafan menyinggung bahwa yield Treasury tenor 10 tahun kembali mendekati 4,71 persen, sementara yield tenor 30 tahun berada di sekitar 5,25 persen.

Berdasarkan penilaian Nafan, tingginya yield Treasury mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal AS sekaligus tekanan inflasi yang masih mungkin berlanjut. Ia memandang bahwa angka yield menjadi indikator bagaimana pasar mendiskontokan risiko-risiko ekonomi Amerika Serikat.

“Ini mencerminkan masih kuatnya kekhawatiran market terhadap mulai dari defisit fiskal hingga tekanan inflasi, sehingga sentimen positif dari intervensi pasar obligasi oleh pemerintah AS belum cukup kuat untuk mengubah kekhawatiran para pelaku investor secara fundamental,” pungkas Nafan.

Dengan demikian, sekalipun proyeksi perbaikan defisit transaksi berjalan kuartal II-2026 diperkirakan memberi dukungan bagi IHSG dan rupiah, pasar tetap harus memperhitungkan faktor pengganjal dari volatilitas global. Kombinasi ketegangan geopolitik, risiko inflasi, serta ekspektasi kebijakan The Fed dapat menentukan seberapa kuat sentimen positif tersebut bertahan dalam beberapa waktu ke depan.