jurnalistik.co.id – Lowongan kerja untuk lulusan turun hampir 50% dalam setahun, demikian temuan survei Adzuna yang merangkum data lowongan yang terdaftar.
Penurunan ini terlihat dari jumlah lowongan lulusan yang hanya mencapai 8.383 pada Juli, turun dari 15.397 pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Adzuna menyebut angka tersebut sebagai level terendah sejak pihaknya mulai mendata pada 2016. Dalam catatan mereka, tren sempat menguat pada 2017 ketika lowongan lulusan mencapai lebih dari 55.800.
Dengan kata lain, jumlah pada Juli tercatat lebih dari enam kali lebih kecil dibanding puncak 2017 yang pernah tercatat oleh Adzuna.
Menurut laporan tersebut, penurunan lowongan lulusan terjadi saat sejumlah perusahaan memangkas peran entry-level dan mengalihkan fokus pada kebutuhan lain, termasuk pemanfaatan AI, di tengah biaya perekrutan yang meningkat.
Adzuna juga mencatat persaingan pencari kerja cenderung makin ketat di semua level. Rata-rata terdapat 2,14 pencari kerja per setiap lowongan pada Juli, naik dibanding 1,93 setahun sebelumnya.
Situasi itu memperlihatkan bahwa penurunan jumlah lowongan tidak berdiri sendiri. Di saat yang sama, peluang yang tersisa untuk tiap lowongan menjadi lebih terbagi.
Sejumlah penjelasan yang mengemuka berkaitan dengan tingginya biaya untuk merekrut, terutama setelah adanya kenaikan pajak national insurance dan peningkatan upah minimum. Perubahan biaya ini disebut membuat perekrutan semakin mahal, khususnya untuk posisi staf junior.
Andrew Hunter, co-founder Adzuna, menilai data tersebut menunjukkan bahwa “employers still haven’t found a reason to open up hiring” for recent graduates.
Dalam konteks yang lebih luas, data resmi juga memperlihatkan tantangan bagi kelompok usia muda. Youth unemployment rate untuk usia 16 sampai 24 tahun tercatat 16,2% pada tiga bulan hingga Maret 2026.
Angka lain yang juga menjadi perhatian adalah jumlah anak muda yang berada di luar pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan (NEET). Adzuna menyebut kini jumlahnya sudah lebih dari satu juta.
Berita Terkait
Bagi banyak anak muda, proses mencari kerja sering kali panjang. BBC News sebelumnya melaporkan bahwa sejumlah anak muda mengaku melamar ratusan lowongan bahkan sebelum mendapat respons.
Mereka juga menyatakan frustrasi terhadap meningkatnya penggunaan AI oleh perusahaan untuk menyaring lamaran. Selain itu, tidak sedikit lulusan yang menghadapi beban utang pendidikan yang makin menumpuk.
Di sisi kebijakan, Alan Milburn memimpin tinjauan besar terhadap krisis pengangguran usia muda. Ia sebelumnya menyampaikan bahwa jumlah pekerjaan entry-level menyusut, begitu pula jumlah pekerjaan paruh waktu yang secara tradisional lebih banyak diisi remaja dan mahasiswa.
Perubahan lowongan per sektor
Meski gambaran umum menunjukkan penurunan, Adzuna juga mencatat ada pergeseran di sejumlah sektor. Dalam beberapa pekan terakhir, lowongan untuk pekerjaan di bidang perjalanan (travel), pengajaran (teaching), dan konstruksi (construction) mengalami kenaikan.
Namun, tidak semua bidang bergerak searah. Sektor seperti layanan kesehatan, keperawatan, perhotelan, dan logistik justru melaporkan lebih sedikit lowongan yang terdaftar.
Aksi pemerintah dan syarat kontrak publik
Dalam upaya mempengaruhi peluang kerja, Perdana Menteri Andy Burnham baru-baru ini mengubah aturan kontrak publik. Perubahan tersebut membuat perusahaan yang mengikuti tender harus menunjukkan bagaimana mereka akan menciptakan pekerjaan sekaligus peluang pelatihan.
Dengan latar tersebut, temuan Adzuna menegaskan bahwa tantangan bagi lulusan tidak hanya soal jumlah lowongan yang menyusut, tetapi juga soal intensitas persaingan dan strategi perekrutan yang makin bergantung pada teknologi.
Turunnya lowongan lulusan hingga level terendah sejak 2016 menjadi sinyal bahwa transisi dari pendidikan menuju dunia kerja sedang menghadapi tekanan yang berlapis. Pada saat yang sama, data persaingan pencari kerja memperlihatkan bahwa ruang bagi calon lulusan semakin sempit.
Bagi pencari kerja usia muda, kombinasi biaya perekrutan yang lebih tinggi, penggunaan AI dalam penyaringan, serta kompetisi yang makin rapat dapat memperpanjang perjalanan untuk mendapatkan kesempatan awal bekerja.












