jurnalistik.co.id – Rupiah memulai perdagangan Senin, 7 September 2026, dengan melemah tipis sekitar 0,1% menjadi Rp17.654/US$. Pergerakan ini terjadi di tengah sentimen yang masih ditopang oleh dinamika harga energi.
Lonjakan harga minyak menjadi salah satu pemicu yang memberi tekanan pada mata uang domestik. Brent tercatat naik 0,36% ke level US$96,63 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) meningkat hingga US$92,09 per barel.
Di saat yang sama, dolar Amerika Serikat bertahan stabil. Indeks dolar AS masih berada di angka 99,11, sehingga pergerakan nilai tukar lebih banyak dipengaruhi oleh arus risiko dari komoditas, khususnya minyak.
Kenaikan harga minyak terkait dengan kekhawatiran gangguan pasokan. Tekanan tersebut dipicu oleh aksi saling serang antara AS dan Iran di Selat Hormuz, yang kembali memunculkan perhatian pasar terhadap potensi hambatan distribusi minyak.
Namun, tidak semua mata uang Asia ikut melemah secara bersamaan. Sejumlah valuta bergerak di zona hijau, mencerminkan adanya perbedaan respons pelaku pasar di berbagai ekonomi kawasan.
Penguatan paling terlihat datang dari won Korea Selatan yang naik 0,88%. Berikutnya, dolar Taiwan menguat 0,16%, disusul yen Jepang yang bertambah 0,11%, baht Thailand yang naik 0,04%, serta dolar Hong Kong yang meningkat 0,01%.
Berita Terkait
Di kelompok yang melemah, peso Filipina tercatat turun 0,21%. Selain itu, rupiah juga berada pada sisi depresiasi, sejalan dengan pelemahan ringgit Malaysia dan dolar Singapura, sementara yuan offshore bergerak sedikit lebih tinggi sebesar 0,03%.
Perdagangan juga dibayangi penantian pasar terhadap arah kebijakan The Fed. Dalam konteks tersebut, pergerakan rupiah cenderung berkonsolidasi di kisaran dekat Rp17.650/US$, sambil menimbang respons pasar terhadap kombinasi faktor eksternal, mulai dari harga minyak hingga pergerakan indeks dolar AS.
Dengan kondisi tersebut, fokus pelaku pasar mengarah pada kelanjutan pergerakan komoditas dan sinyal lanjutan dari bank sentral AS. Selama tekanan dari energi masih berlangsung dan dolar tetap berada dalam rentang stabil, rupiah berpotensi melanjutkan pola konsolidasi, sambil menunggu petunjuk berikutnya terkait kebijakan The Fed.
Meski pembukaan perdagangan mencatat pelemahan tipis, pergerakan tersebut juga menunjukkan pasar belum sepenuhnya beralih dari mode kehati-hatian. Di tengah meningkatnya perhatian pada komoditas, pelaku pasar cenderung menahan diri untuk menambah posisi besar sebelum melihat bagaimana rangkaian data dan komunikasi otoritas moneter AS memengaruhi ekspektasi suku bunga ke depan.
Kenaikan harga minyak yang bergerak bersama narasi kekhawatiran gangguan pasokan membuat fokus perhatian tetap tertuju pada Selat Hormuz. Ketegangan yang kembali mewarnai hubungan AS dan Iran di kawasan itu ikut mendorong premi risiko di pasar energi, sehingga arus transaksi lebih mudah terbawa oleh perubahan harga minyak daripada faktor lain yang sifatnya domestik.
Perbedaan arah beberapa mata uang Asia ikut memperjelas bahwa sentimen tidak merata. Won Korea Selatan menguat 0,88% menjadi yang paling menonjol, diikuti dolar Taiwan 0,16% dan yen Jepang 0,11%, sementara baht Thailand naik 0,04% serta dolar Hong Kong bertambah 0,01%. Di sisi lain, tekanan tetap terasa pada peso Filipina yang turun 0,21%, kemudian rupiah yang ikut melemah seiring ringgit Malaysia dan dolar Singapura, sedangkan yuan offshore justru bergerak sedikit lebih tinggi sebesar 0,03%.
Dengan indeks dolar AS bertahan di sekitar 99,11, mekanisme yang dominan tampak berasal dari dinamika eksternal, khususnya komoditas energi. Karena itu, rupiah cenderung menjaga ritme konsolidasi dekat area Rp17.650/US$ sambil menunggu petunjuk lanjutan. Jika momentum minyak tetap menguat sementara dolar masih stabil, pelemahan lanjutan berpotensi terbatas; sebaliknya, perubahan arah minyak maupun isyarat kebijakan The Fed dapat menjadi pemicu pergeseran sentimen pasar dalam sesi-sesi berikutnya.












