Bisnis & Ekonomi

November Dibuka dengan Tekanan, Rupiah Turun ke Rp18.148/US$ — Market

×

November Dibuka dengan Tekanan, Rupiah Turun ke Rp18.148/US$ — Market

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Awali November, Rupiah Melemah ke Rp18.148/US$ - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah memulai perdagangan awal November dengan tekanan jual, mengikuti pelemahan mata uang Asia dan sentimen pasar global yang masih berhati-hati.

Pada Senin (2/11/2026), seperti dilansir Bloomberg, rupiah bergerak melemah 0,05% menjadi Rp18.136/US$. Namun, tak lama berselang, mata uang tersebut tergerus 0,12% ke level Rp18.148/US$ pada pukul 09:05 WIB.

Pergerakan itu mencerminkan arus yang cenderung bearish di awal bulan. Dalam waktu yang berdekatan, rupiah bergerak bersama beberapa valuta Asia lain yang juga ikut melemah.

Bloomberg menyebut pelemahan ini sejalan dengan gerak mata uang Asia yang “terbakar”. Di tengah kondisi tersebut, perhatian pasar mengarah pada dinamika dolar dan mata uang kawasan Asia.

Selain rupiah, pelemahan juga dialami dolar Taiwan, won Korea Selatan, baht Thailand, ringgit Malaysia, yen Jepang, dolar Singapura, dan yuan China. Kombinasi pelemahan lintas mata uang itu menunjukkan tekanan risiko yang merata pada awal November.

Meski harga minyak disebut cukup melandai, sentimen tetap tidak langsung mendukung rupiah. Harga minyak berada di kisaran US$111/barel, setelah sempat bertengger di level US$114/barel.

Pergerakan minyak yang menurun tidak otomatis meredakan tekanan di pasar keuangan. Bloomberg menilai aksi jual di pasar saham global, termasuk Asia, tetap berlangsung mengikuti penjualan tajam yang terjadi di pasar saham Amerika Serikat.

Aksi jual tersebut dikaitkan dengan kekhawatiran bahwa reli yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) mungkin telah melampaui batas. Dengan demikian, pasar cenderung mengurangi posisi dan menahan pembelian baru pada perdagangan awal bulan.

Dari sisi domestik, kondisi yang sama juga membuat dukungan untuk rupiah tidak kuat. Bloomberg menyebut belum banyak katalis yang mampu mengangkat rupiah ke jalur penguatan.

Di ranah perdagangan, capaian impor diperkirakan tumbuh lebih tinggi, yakni 21% secara tahunan. Sementara itu, ekspor diproyeksikan tumbuh 6,54% secara tahunan.

Perbedaan proyeksi pertumbuhan impor dan ekspor itu menjadi salah satu faktor yang ikut membentuk ekspektasi pasar terhadap kondisi eksternal Indonesia. Dengan arah proyeksi yang tertulis dalam laporan, tekanan tetap terasa karena tidak ada sinyal penguatan yang dominan.

Selain itu, inflasi juga disebut masih berada dalam jalur target Bank Indonesia (BI). Namun, inflasi diperkirakan bertahan tinggi di level 3,3% secara tahunan.

Gabungan gambaran impor yang diproyeksikan lebih tinggi, inflasi yang diperkirakan tetap tinggi di 3,3% secara tahunan, serta minimnya katalis domestik membuat ruang bagi rupiah untuk menguat cenderung terbatas pada awal November.

Dengan posisi rupiah yang bergerak menuju Rp18.148/US$ pada pukul 09:05 WIB, perhatian pasar kemudian mengarah pada kelanjutan arah dolar dan respons mata uang Asia lain, di tengah sentimen global yang masih dipengaruhi kekhawatiran reli berbasis AI.

Dalam pembacaan pasar, pelemahan yang berulang pada sejumlah mata uang Asia menandakan pelaku lebih memilih bergerak secara defensif ketimbang mengikuti peluang. Sikap ini biasanya tercermin dari minimnya penawaran beli dan meningkatnya kecenderungan mempertahankan dolar sebagai acuan.

Ketika minyak memang terpantau lebih landai, dampaknya terhadap mata uang tidak selalu langsung. Penurunan harga komoditas bisa tidak cukup mengimbangi arus modal yang masih menunggu kejelasan dari pergerakan saham global, terutama setelah tekanan jual yang juga disebut berlanjut dari Amerika Serikat.

Serangkaian proyeksi ekonomi yang tertulis dalam laporan ikut menjaga ekspektasi tetap hati-hati. Pertumbuhan impor yang lebih tinggi, ditambah proyeksi ekspor yang berada di kisaran lebih rendah, memperkuat pandangan bahwa kebutuhan valuta asing masih menjadi perhatian utama pada awal periode perdagangan.

Di saat yang sama, inflasi disebut masih berada dalam sasaran BI, tetapi proyeksi 3,3% secara tahunan juga menunjukkan tingkat harga tetap perlu dicermati. Dengan katalis penguat rupiah yang tidak menonjol, pasar cenderung menunggu sinyal baru sambil memantau apakah laju rupiah di sekitar Rp18.148/US$ berlanjut melemah atau berpotensi menahan laju.