Bisnis & Ekonomi

Proyeksi Rupiah November: Setelah Tergerus 1,42% Sepanjang Oktober, Ada Ruang Penguatan?

×

Proyeksi Rupiah November: Setelah Tergerus 1,42% Sepanjang Oktober, Ada Ruang Penguatan?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ramalan Rupiah November, Usai Tergerus 1,42% Sepanjang Oktober - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah mengalami tekanan sepanjang Oktober dan berujung pelemahan yang cukup dalam. Pada periode itu, mata uang Garuda tergerus sekitar 1,42% sebelum memasuki fase awal November dengan kecenderungan yang belum banyak berubah.

Menurut catatan pergerakan perdagangan, rupiah menghadapi tekanan ganda yang datang dari faktor eksternal maupun kondisi domestik. Kombinasi keduanya membuat nilai tukar lebih mudah tertekan, terutama saat sentimen pasar bergerak dinamis.

Di awal Oktober, rupiah memulai perdagangan pada Kamis (1/10/2026) di level Rp17.898/US$. Setelah itu, pergerakannya cenderung melemah dan terus mengikuti arus tekanan hingga penutupan periode perdagangan akhir bulan.

Pada Jumat (30/10/2026), rupiah menutup perdagangan di level terlemah sepanjang sejarah, yaitu Rp18.127/US$. Pencapaian level tersebut menandai bahwa pelemahan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga sampai menyentuh titik historis baru pada akhir Oktober.

Jika dilihat dalam konteks kawasan, rupiah berada di peringkat ketiga sebagai mata uang terlemah sepanjang Oktober. Di belakangnya terdapat dolar Taiwan dan peso Filipina, yang melemah lebih dulu, sedangkan mata uang kawasan lain mencatat pelemahan yang relatif lebih terbatas.

Sepanjang Oktober, penurunan yang lebih terkendali terlihat pada baht Thailand, yen Jepang, dan dolar Singapura. Artinya, meski tekanan tetap terasa, tidak semua mata uang kawasan mengalami pelemahan dengan intensitas yang sama.

Secara akumulatif, pelemahan rupiah sepanjang tahun ini juga ikut menguatkan gambaran tekanan yang berlanjut. Nilai tukar rupiah, berdasarkan rangkuman pergerakan hingga Oktober, terdepresiasi sekitar 7,97% sepanjang tahun.

Memasuki November, rupiah kembali dibuka dengan sentimen yang cenderung melemah. Pada awal bulan, nilai tukar dibuka di level Rp18.136/US$, lalu bergerak turun ke Rp18.148/US$ dalam sesi berikutnya.

Pergerakan di awal November tersebut sejalan dengan aksi jual yang terjadi di pasar obligasi pada hari yang sama. Kondisi ini menggambarkan bahwa tekanan di instrumen domestik tetap berperan dalam mengarahkan pergerakan rupiah, setidaknya pada awal periode.

Meski demikian, proyeksi untuk November tetap menempatkan peluang penguatan sebagai skenario yang mungkin. Dengan kata lain, pelemahan sepanjang Oktober yang mencapai 1,42% dan penutupan di level terendah historis menjadi konteks penting, tetapi ruang perbaikan nilai tukar di periode berikutnya masih diperkirakan terbuka.

Dalam membaca arah rupiah pada November, titik acuannya menjadi jelas: level-level yang sudah ditembus di akhir Oktober, perbandingan pelemahan dengan mata uang kawasan, serta dinamika awal November yang dipengaruhi pasar obligasi. Kombinasi faktor-faktor itu akan menentukan apakah rupiah mampu berbalik menguat, atau justru melanjutkan tren melemahnya.

Tekanan yang terjadi sepanjang Oktober juga terlihat dari pola pergerakannya yang cenderung mengikuti satu arah tanpa banyak jeda. Setelah pelemahan mulai terbentuk sejak awal bulan, pergerakan nilai tukar lalu terus dirawat oleh sentimen yang tidak kunjung membaik hingga akhir periode perdagangan.

Penutupan pada level terlemah sepanjang sejarah di akhir Oktober memberi sinyal bahwa pelemahan tidak berhenti di wilayah psikologis, tetapi sudah menekan ke area nilai yang lebih ekstrem. Kondisi seperti ini biasanya membuat pelaku pasar semakin berhati-hati dan mendorong respons yang cepat ketika ada perubahan arah sentimen.

Jika dibandingkan dengan mata uang kawasan, posisi rupiah yang berada di peringkat ketiga sebagai mata uang terlemah memberi gambaran bahwa tekanan tidak berdiri sendiri. Meski beberapa mata uang lain juga melemah, intensitas penurunannya relatif lebih terbatas, seperti pada baht Thailand, yen Jepang, dan dolar Singapura, sehingga pergerakan rupiah terlihat lebih menonjol.

Di awal November, pergerakan yang sempat bergerak dari Rp18.136/US$ ke Rp18.148/US$ mencerminkan bahwa nilai tukar masih berada dalam fase penyesuaian. Arah tersebut juga konsisten dengan aksi jual di pasar obligasi pada hari yang sama, yang menunjukkan transmisi tekanan dari kondisi domestik ke pergerakan rupiah.

Meski begitu, peluang penguatan pada November tetap relevan karena ruang perbaikan masih mungkin terbuka dari sisi dinamika yang membentuk pelemahan Oktober. Dengan memperhatikan level-level yang sudah ditembus di akhir bulan, serta membandingkan kembali pelemahan rupiah dengan mata uang kawasan dan reaksi pasar obligasi, skenario perbaikan dapat dilihat sebagai opsi yang layak dipantau.